Rosario untuk Frederick
Langit di atas Vatikan sore itu berwarna jingga keemasan, memantulkan kemegahan Kubah Basilika Santo Petrus yang berdiri kokoh menantang waktu. Di salah satu sudut pelataran, Samuel berdiri terpaku. Matanya berair, bukan karena sedih, melainkan karena rasa syukur yang membuncah. Sejak kecil, ia dan Frederick selalu bermimpi untuk bisa menginjakkan kaki di tanah suci ini.
Namun takdir membawa Samuel lebih dulu ke sana untuk sebuah urusan pekerjaan, sementara Frederick harus tetap di Jakarta, bergelut dengan rutinitasnya sebagai seorang arsitek.
Samuel meraba saku jaketnya. Di dalam sana, jemarinya menyentuh sebuah kotak beludru kecil berwarna merah marun. Isinya adalah sebuah rosario indah berbutirkan batu lapis lazuli biru tua, dengan salib perak yang kokoh. Rosario itu baru saja diberkati.
"Ini untukmu, Fred. Kamu harus jadi orang pertama yang memegangnya," bisik Samuel pada diri sendiri.
Tanpa membuang waktu, Samuel mencari tempat yang agak tenang di dekat air mancur. Ia mengeluarkan ponselnya, mencari nama yang berada di daftar nomor favoritnya: Frederick. Hanya butuh dua nada sambung sebelum suara berat dan ceria di seberang sana menyapa.
"Oi, Sam! Gimana Roma? Udah ketemu Paus belum lu?" suara Frederick terdengar begitu renyah, diselingi bunyi klakson khas jalanan Jakarta. Frederick tampaknya sedang berkendara pulang dari kantornya.
Samuel terkekeh, rasa hangat langsung menjalar di dadanya. "Belum rezeki ketemu langsung, Fred. Tapi gua lagi di depan Basilika sekarang. Megah banget, persis kayak yang sering kita liat di buku arsitektur lu dulu."
"Serius lu? Wah, titip doa buat gua, Sam. Doain biar proyek gua lancar, terus tahun depan gua bisa nyusul lu ke sana. Kita ngopi di depan kolam Trevi," sahut Frederick antusias.
"Pasti, Fred. Oh ya, gua punya sesuatu buat lu. Rosario. Butirnya biru tua, warna kesukaan lu. Udah diberkati juga. Pas gua liat tadi di toko deket sini, gua langsung inget lu. Jangan ilang ya nanti!"
Terdengar jeda beberapa detik di seberang telepon. Suara Frederick melunak, ada nada haru yang tertangkap oleh pendengaran Samuel. "Makasih banyak ya, Sam. Lu emang sahabat terbaik gua dari kecil. Gua gak sabar mau jemput lu di bandara. Kabarin kalau lu udah mau terbang."
"Sama-sama, Bro. Ya udah, lu hati-hati di jalan. Jangan main HP sambil nyetir. Gua mau jalan ke arah bandara Fiumicino sekarang, bentar lagi boarding. Sampai ketemu di Jakarta, Fred!"
"Siap, Sam. Safe flight. Gua tunggu di terminal kedatangan."
Sambungan telepon terputus. Samuel tersenyum lebar, menyimpan kembali ponselnya, lalu mengaktifkan mode pesawat karena ia harus segera melewati pemeriksaan imigrasi. Di dalam hatinya, Samuel merasa sangat bahagia. Persahabatan mereka yang terjalin sejak mengenakan seragam merah-putih, melewati masa-masa sulit kuliah, hingga kini menjadi pria dewasa, tidak pernah berubah sedikit pun. Frederick selalu ada untuknya, dan begitu pula sebaliknya.
Penerbangan dari Roma menuju Jakarta memakan waktu belasan jam. Di dalam kabin pesawat yang temaram, Samuel tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dadanya entah mengapa terasa begitu sesak dan gelisah. Beberapa kali ia terbangun, membetulkan posisi duduknya, dan reflek meraba kotak beludru di kantong jaketnya.
“Mungkin cuma karena jetlag dan kelelahan,” pikir Samuel mencoba menenangkan diri. Ia menatap keluar jendela pesawat, hanya ada hamparan awan hitam dan kegelapan malam yang tak berujung.
Waktu terus berputar, roda pesawat akhirnya menyentuh landasan pacu Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan hentakan halus. Sorot lampu bandara dan rintik hujan menyambut kedatangan Samuel di tanah air.
Begitu pesawat berhenti sempurna dan tanda kenakan sabuk pengaman dipadamkan, Samuel bergegas mengambil tas kabinnya. Sambil berjalan mengantre keluar, jemarinya dengan cekatan menonaktifkan mode pesawat pada ponselnya.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Ponsel di genggamannya tiba-tiba bergetar tanpa henti. Rentetan notifikasi masuk beruntun bagaikan air bah. Puluhan panggilan tak terjawab dan ratusan pesan WhatsApp dari nomor ibunya, adik Frederick, dan teman-teman mereka memenuhi layar.
Jantung Samuel berdegup kencang secara abnormal. Firasat buruk langsung menghantam dadanya. Jemarinya yang mulai bergetar membuka pesan teratas dari adik perempuan Frederick, Maria.
“Kak Sam... Kak Sam di mana? Tolong langsung ke RS Medika sekarang. Kak Frederick kecelakaan, tadi malam pas pulang kantor kondisinya sangat parah. Mobilnya ditabrak truk yang remnya blong. Kak Frederick... Kak Frederick udah gak ada, Kak...”
Bumi di bawah kaki Samuel rasanya runtuh seketika.
Udara di sekitar terminal kedatangan yang ber-AC mendadak terasa lenyap, membuatnya tidak bisa bernapas. Tenggorokannya tercekat, menyisakan rasa perih yang teramat sangat. Samuel terpaku di tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang. Pandangannya mengabur. Seluruh sendi di tubuhnya lemas hingga ia harus bersandar pada dinding kaca agar tidak ambruk.
"Gak... gak mungkin. Ini bercanda... Ini pasti bercanda" bisik Samuel, suaranya bergetar hebat.
Dengan tangan yang gemetar parah hingga ponselnya hampir terjatuh beberapa kali, ia mencoba menelepon nomor Maria. Hanya satu petikan, suara isak tangis histeris langsung menyambar telinganya.
"Maria... ini bohong kan? Kakak baru aja teleponan sama Frederick sebelum terbang..." suara Samuel parau, air mata pertamanya luruh membasahi pipi.
"Benar, Kak Sam..." tangis Maria pecah di seberang sana. "Kejadiannya jam sembilan malam lewat. Dokter udah nyoba sebisa mungkin, tapi Kak Fred pendarahan hebat. Kak Fred pergi sambil megang HP-nya, Kak... Di layarnya masih ada riwayat telepon terakhir sama Kak Sam..."
Ponsel di tangan Samuel perlahan turun. Ia tidak sanggup lagi mendengarkan kelanjutan kalimat Maria. Telinganya berdenging hebat. Rasa sesak di dadanya begitu menghimpit, seolah ada batu besar yang menghantam jantungnya berkali-kali hingga hancur berkeping-keping.
Frederick, sahabatnya yang selalu tertawa paling keras, yang berjanji akan menjemputnya di bandara, yang berencana minum kopi bersama di Roma... kini telah terbujur kaku.
Samuel keluar dari bandara dengan langkah tertatih-tatih seperti orang linglung. Sepanjang perjalanan di dalam taksi menuju rumah duka, air matanya mengalir deras tanpa suara. Dadanya terasa sangat sakit sampai-sampai ia harus mencengkeram kemejanya sendiri untuk menahan sesak. Di dalam dekapannya, erat-erat ia memeluk kotak beludru berisi rosario biru tersebut.
Rumah duka dipenuhi oleh aroma lilin dan bunga stanplat putih. Suara isak tangis sayup-sayup terdengar memenuhi ruangan yang dingin. Di tengah ruangan, sebuah peti mati putih terbuka.
Samuel berjalan mendekat dengan tubuh yang masih gemetar. Setiap langkah terasa begitu berat, seolah kakinya terikat rantai besi. Ketika matanya menatap wajah di dalam peti, pertahanan Samuel runtuh sepenuhnya.
Di sana, Frederick berbaring dengan setelan jas rapi. Wajah sahabatnya itu begitu tenang, namun teramat pucat. Tidak ada lagi senyuman renyah, tidak ada lagi binar mata arsitek yang penuh mimpi.
Samuel berlutut di samping peti. Tangisnya pecah secara histeris, bahunya terguncang hebat. Ia mencengkeram tepi peti mati itu dengan pilu yang teramat dalam.
"Fred... gua udah balik. Gua udah di Jakarta, Fred..." ratap Samuel di sela-sela tangisnya yang menyayat hati. "Kenapa lu ingkar janji? Katanya mau jemput gua? Katanya mau ke Vatikan bareng gua tahun depan?!"
Orang-orang di sekitar menatap Samuel dengan iba, turut merasakan kepedihan mendalam dari seorang sahabat yang kehilangan separuh jiwanya.
Samuel menghapus air matanya yang terus mengalir pelan, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Dengan tangan yang masih bergetar hebat, ia membuka kotak beludru merah marun dari sakunya. Ia mengeluarkan rosario batu lapis lazuli biru tua itu. Kilauan peraknya memantulkan cahaya lilin di sekitar peti.
Samuel meraih tangan kanan Frederick yang dingin dan kaku. Dengan perlahan dan penuh kasih, ia melilitkan butir-butir rosario itu di jemari sahabatnya.
"Ini rosario yang gua janjiin, Fred. Maaf gua telat... maaf gua gak ada di sini pas lu butuh gua," ucap Samuel terbata-bata, air matanya jatuh menetes tepat di atas punggung tangan Frederick.
Samuel menempelkan keningnya pada tangan Frederick yang telah melilit rosario tersebut. Di dalam dadanya yang masih terasa sesak dan perih, Samuel merapalkan doa terakhir untuk sahabat terbaiknya. Rosario yang seharusnya menjadi oleh-oleh pengingat mimpi mereka, kini berubah menjadi pengantar abadi bagi Frederick menuju keabadian.