Pagi itu, ritme hidupku terasa dihantam badai yang tak kasat mata. Aku terbangun tepat saat jarum jam dinding di kamar menunjuk angka lima. Sebuah mimpi buruk baru saja buyar dari ingatanku—sebuah mimpi klasik yang selalu berhasil menyesakkan dada: aku ditolak secara dingin oleh gadis yang belakangan ini menyita seluruh perhatian dan ruang di pikiranku. Aku menghela napas panjang, mencoba menepis rasa sesak yang menghinggap sebelum benar-benar memanjat keluar dari balik selimut.
Segalanya berjalan seperti biasa tanpa ada petunjuk bahwa hari ini akan menjadi hari yang membingungkan. Aku melangkah keluar kamar, membantu orang tua merapikan beberapa sudut rumah, lalu melatih otot-otot tubuhku dengan rutinitas olahraga ringan seperti biasa. Setelah mandi dan menyegarkan diri, aku bergegas menyantap sarapan hangat yang sudah disiapkan oleh Ibu di meja makan. Selesai mengisi perut, aku segera berkemas, mengambil tas, dan melakukan perawatan wajah rutin agar kulit tetap lembap serta mencerahkan wajah sebelum menerjang terik matahari. Namun, di tengah ketergesaan yang diam-diam mengintai itu, ada satu hal kecil yang luput dari perhatianku: aku lupa mengoleskan lip balm untuk melembapkan bibirku yang agak kering.
"Ah, sudahlah, ngga masalah," gumamku dalam hati sambil melirik jam dinding di dekat pintu depan.
Seketika mataku membelalak lebar. Jarum jam sudah berada tepat di angka setengah delapan pagi.
"Kok cepat banget, ya? Perasaan tadi bangun tidur jam lima pagi dan lanjut beraktivitas pada umumnya, lagian gerakanku juga ngga tergolong lambat," gerutuku dalam hati dengan dada yang mendadak berdegup kencang. Rencana awal yang sudah kususun rapi untuk berangkat lebih pagi hancur lebur begitu saja. Ini bukan pertama kalinya waktu seolah melompat tanpa permisi, tapi pagi ini rasanya benar-benar membuat kepala pening.
Tanpa membuang waktu lagi, aku segera meraih kunci motor, menyambar helm, dan bergegas meluncur melintasi jalan raya menuju kampus. Malang tak dapat ditolak, perjalanan pagi itu justru berubah menjadi ujian kesabaran yang menguras emosi. Para pengendara di depanku seolah sepakat untuk melajukan kendaraan mereka dengan kecepatan yang ekstra pelan dan ragu-ragu. Aku menggeram pelan di balik helm, merayap perlahan di antara celah kendaraan sambil terus menghitung menit yang terus berjalan.
Beruntung, Dewi Fortuna masih memihakku. Aku tiba di parkiran kampus tepat pukul delapan lewat lima menit. Dosen mata kuliah pertama memberikan toleransi keterlambatan selama lima belas menit, membuatku bisa mendesahkan napas lega saat melangkah masuk ke dalam ruang kelas tanpa harus mendapat teguran.
Mata kuliah pertama pagi itu adalah praktik pemasangan infus pada manekin atau phantom. Suasana ruang laboratorium medis mendadak riuh oleh suara gesekan kursi, denting alat-alat kesehatan, dan petunjuk teknis dari dosen. Kami langsung dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk mempelajari tata cara tindakan keperawatan tersebut secara bergantian. Di tengah riuhnya aktivitas praktik, mataku tak sengaja menangkap sosoknya. Si cantik.
Gadis itu berdiri tak jauh dari tempat kelompokku berada. Dengan gaya tomboi yang khas, potongan rambut yang tertata rapi, serta aura tenang yang selalu berhasil menarik perhatianku, ia sedang fokus merekam gerakan tangan dosen menggunakan ponselnya. Namun, yang membuat dadaku berdesir tak menentu adalah beberapa kali pandangannya teralih padaku. Tatapannya tertuju lurus ke arah mataku selama beberapa detik sebelum ia kembali berpura-pura melihat layar ponselnya.
Tumben dia ngeliat ke arahku terus. Dua hari terakhir ini aku ngerasa dia sering memperhatikan dan mengamati gerak-gerikku. Aku sendiri ngga tahu harus berbuat apa, batin raguku bergejolak hebat. Aku mulai menyukainya sejak dua minggu yang lalu, mengagumi karakter mandirinya yang unik serta parasnya yang begitu rupawan. Dia masih sendiri. Namun, perubahannya di dunia maya sungguh membingungkan hatiku. Sebelum aku menunjukkan perhatian lebih padanya, dia sangat aktif di aplikasi pesan singkat dengan fitur centang biru yang selalu menyala. Tapi anehnya, begitu aku mulai menunjukkan kepedulian dan rasa sayang, dia mendadak berubah menjadi sangat pasif, mematikan fitur centang biru, dan cenderung hanya membaca pesanku atau bahkan membiarkannya menumpuk tanpa balasan.
Kebingungan batin yang menumpuk itu membuat seluruh energiku terkuras habis. Sepanjang sisa sesi praktik laboratorium, aku merasa sangat lelah, lesu, dan benar-benar kehilangan mood terhadap kelompokku sendiri. Padahal, jika dipikir-pikir secara jernih, teman-teman sekelompokku sama sekali tidak ada yang bermasalah padaku, dan aku pun tidak punya masalah apa pun dengan mereka. Semua murni karena isi kepalaku yang sedang kalut.
Saat jeda praktik selesai dan aku sedang membereskan peralatan medis di atas meja, sebuah suara yang sangat kukenal mendadak mengejutkanku dari arah belakang.
"Mir, laptop gua udah gua bawa kemarin. Lu kapan benahinnya? Lu di chat ga dibalas-balas," ucap mantan pacarku, yang kini statusnya telah bertransformasi menjadi teman biasa.
Aku mengerutkan dahi, merasa tidak pernah menerima satu pun pesan terkait perbaikan laptop darinya. "Kamu ngga ada ngechat aku apa-apa kok," jawabku jujur sambil merogoh ponsel dari saku celana untuk membuktikannya.
Ia lantas menunjukkan layar ponselnya padaku. Benar saja, setelah kuperhatikan baik-baik, tidak ada satu pun baris pesannya yang membahas tentang kerusakan atau perbaikan laptop. Pesan terakhir di ruang obrolan kami hanyalah balasan darinya yang berbunyi, "Aman aja ming," yang sengaja tidak kubalas lagi karena kuanggap percakapan tersebut sudah selesai secara alami.
Aku tertegun seraya mengamati interaksi yang kaku itu. Mengapa dia tidak langsung menanyakan masalah laptopnya secara terbuka dari awal? Apakah rasa gengsi yang menahannya untuk memulai obrolan terlebih dahulu? Padahal dia sendiri sudah memiliki pasangan baru. Bahkan, kenyataan bahwa nomor kontakku diarsipkan olehnya membuatku semakin tidak paham dengan maksud serta arah pikirannya. Namun, aku memilih untuk tidak memikirkannya terlalu panjang. Teka-teki tentang si cantik sudah cukup membuat kepalaku serasa mau pecah.
Rangkaian kegiatan praktik hari itu akhirnya usai juga. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih tersisa, aku berjalan menuju area parkiran dan segera menyalakan mesin motorku. Langkah pertamaku sebelum pulang adalah mampir ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum yang searah dengan jalur rumahku. Usai mengisi bensin, aku melanjutkan perjalanan menempuh jarak sekitar sepuluh menit menuju rumah.
Namun, jalanan kota seolah belum mau membiarkanku pulang dengan tenang. Perjalanan yang seharusnya singkat itu terasa begitu panjang dan menguras emosi. Banyak pengemudi di depanku yang ragu-ragu saat hendak menyalip, berjalan di tengah-tengah jalur, dan enggan memberikan ruang bagi kendaraan lain hingga memicu kemacetan yang tidak perlu. Gemas dengan situasi tersebut, aku terpaksa memanfaatkan celah jalan yang agak lebar untuk mendahului mereka, memacu motor sedikit lebih cepat agar bisa segera tiba di tempat bernaung.
Sesampainya di rumah, aku langsung melepas jaket yang terasa berat, membersihkan diri dengan mandi air segar, lalu merebahkan tubuhku yang lelah di atas kasur kamar.
Suasana kamar yang hening menyambut gundahku. Aku menatap langit-langit ruangan yang polos, membiarkan tubuh serta Pikiranku beristirahat setelah seharian diterpa kepenatan yang tak menentu. Hari ini terasa sangat berbeda dan janggal dari hari-hari biasanya. Berbagai kejadian yang membingungkan, salah paham kecil, dinamika perasaan yang rumit, hingga tekanan waktu datang bertubi-tubi tanpa permisi. Pikiranku lelah, begitu pula dengan fisikku.
Di antara hembusan napas panjang yang kulepaskan perlahan ke udara, aku bergumam lirik dalam hati, memohon petunjuk atas riuhnya hari ini: Tuhan, tolong aku... Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan semua ini?