Kirim izin baca kepada penulis skrip ini?
Blurb
Delapan tahun lalu, langit Jakarta menjerit dan kenyataan runtuh dalam hitungan detik. Di saat kota-kota besar di seluruh dunia lenyap tak bersisa, Wira—seorang anak SMA berusia 16 tahun dengan kacamata bersekat selotip—secara sukarela meleburkan diri untuk menjadi "Jembatan" kuantum yang menahan kehancuran mutlak dan menyelamatkan 17,3 juta nyawa.
Premis
Bagaimana jika penyelamat dunia bukanlah dewa yang mahakuasa, melainkan seorang anak remaja biasa yang terlupakan, dan bahwa tatanan kosmik yang sempurna ternyata dibangun di atas penderitaan manusia yang harus ditebus dengan kejujuran, kerja sama, serta kerendahan hati?
Pengenalan Tokoh
Cerita bermula delapan tahun lalu di Jakarta. Di tengah rutinitas harian anak-anak sekolah dan para pekerja, langit tiba-tiba menjerit dan kenyataan di seluruh bumi mengalami keretakan dimensional (entropi global). Kota-kota besar seperti Baghdad dan Doha lenyap dalam hitungan detik, tersedot ke dalam kehampaan bernama Suwung. Menghadapi bencana yang memusnahkan 17,3 juta jiwa ini, Wira Muda (16) mengajukan diri sebagai sukarelawan penstabil. Mengabaikan tangisan sang nenek dan meninggalkan tas sekolah berisi PR matematikanya di konsol, kesadaran Wira terpecah menjadi tujuh bagian untuk merajut kembali perisai kuantum Jakarta.
Akibat campur tangan ibunya yang ingin melindunginya, ingatan Wira disegel. Delapan tahun kemudian, ia hidup sebagai pemuda 24 tahun yang bekerja secara monoton di bagian dukungan pelanggan Garuda Elektronik di Malang, menderita tremor aneh di tangannya tanpa tahu alasannya.
Di sisi lain, di dimensi tinggi, Sang Penguasa Langit memutuskan mengundurkan diri. Ia merasa bersalah karena telah membangun sistem birokrasi ilahi di atas penderitaan Wira dan menegakkan hukum mutlak tanpa belas kasihan. Ia memerintahkan Raden Jinar untuk membangunkan sang nenek dan menyerahkan takhta kepada Wira.
Ketika Raden Jinar membuka ingatan Wira, pemuda itu dihadapkan pada kebenaran pahit tentang pengorbanannya. Didorong oleh kerinduan pada sang nenek dan rasa tanggung jawab moral, Wira menerima takhta Kahyangan. Namun, ia menolak cara-cara lama yang otoriter. Wira membuka segel-segel gagasan berbahaya, menghapus "Titah Agung" yang dianggap sebagai hak ilahi mutlak, dan menggantinya dengan kontrak sosial berbasis persetujuan serta kerja sama.
Perubahan ini memicu perpecahan dan perlawanan dari faksi konservatif yang dipimpin oleh Ki Yuwenda. Saat segel pelabuhan Jakarta kembali goyah dan pasukan iblis menyerang Kahyangan, Wira menolak untuk bertarung sendirian. Alih-alih memikul beban dunia seorang diri seperti masa lalu, ia mengajak para dewa untuk berbagi beban, menyatukan kesadaran, dan membangun pertahanan lewat gotong royong.
Melalui debat filosofis, keberanian moral, dan kerendahan hati untuk mengakui kesalahan ("seadanya tapi tulus"), Wira berhasil meredakan konflik, membujuk Ki Yuwenda untuk mengawasi perubahan, serta berhasil membangunkan satu per satu warga Jakarta yang sempat membeku—termasuk nenek tercintanya. Cerita ditutup dengan tatanan baru di mana kahyangan dan bumi belajar hidup berdampingan secara transparan, di mana keselamatan dicapai bukan lewat paksaan kepastian, melainkan melalui keberanian untuk terus mencoba bersama-sama.
Akibat campur tangan ibunya yang ingin melindunginya, ingatan Wira disegel. Delapan tahun kemudian, ia hidup sebagai pemuda 24 tahun yang bekerja secara monoton di bagian dukungan pelanggan Garuda Elektronik di Malang, menderita tremor aneh di tangannya tanpa tahu alasannya.
Di sisi lain, di dimensi tinggi, Sang Penguasa Langit memutuskan mengundurkan diri. Ia merasa bersalah karena telah membangun sistem birokrasi ilahi di atas penderitaan Wira dan menegakkan hukum mutlak tanpa belas kasihan. Ia memerintahkan Raden Jinar untuk membangunkan sang nenek dan menyerahkan takhta kepada Wira.
Ketika Raden Jinar membuka ingatan Wira, pemuda itu dihadapkan pada kebenaran pahit tentang pengorbanannya. Didorong oleh kerinduan pada sang nenek dan rasa tanggung jawab moral, Wira menerima takhta Kahyangan. Namun, ia menolak cara-cara lama yang otoriter. Wira membuka segel-segel gagasan berbahaya, menghapus "Titah Agung" yang dianggap sebagai hak ilahi mutlak, dan menggantinya dengan kontrak sosial berbasis persetujuan serta kerja sama.
Perubahan ini memicu perpecahan dan perlawanan dari faksi konservatif yang dipimpin oleh Ki Yuwenda. Saat segel pelabuhan Jakarta kembali goyah dan pasukan iblis menyerang Kahyangan, Wira menolak untuk bertarung sendirian. Alih-alih memikul beban dunia seorang diri seperti masa lalu, ia mengajak para dewa untuk berbagi beban, menyatukan kesadaran, dan membangun pertahanan lewat gotong royong.
Melalui debat filosofis, keberanian moral, dan kerendahan hati untuk mengakui kesalahan ("seadanya tapi tulus"), Wira berhasil meredakan konflik, membujuk Ki Yuwenda untuk mengawasi perubahan, serta berhasil membangunkan satu per satu warga Jakarta yang sempat membeku—termasuk nenek tercintanya. Cerita ditutup dengan tatanan baru di mana kahyangan dan bumi belajar hidup berdampingan secara transparan, di mana keselamatan dicapai bukan lewat paksaan kepastian, melainkan melalui keberanian untuk terus mencoba bersama-sama.
Sinopsis
#1
LANGIT YANG MENJERIT
#2
JEMBATAN
#3
DELAPAN TAHUN KEMUDIAN
#4
PENGUNDURAN DIRI SANG PENGUASA LANGIT
#5
YANG TERLUPAKAN
#6
TAKHTA YANG SEADANYA
#7
ARSIP BAWAH AIR
#8
KAHYANGAN DALAM KEKACAUAN
#9
TUJUH PENOPANG
#10
HALAMAN ISTANA
#11
NENEK PULANG
#12
PROTOKOL BARU
#13
MEJA DAPUR
#14
KAHYANGAN BARU
#15
HARI KE-31
#16
TIGA TAHUN KEMUDIAN
#17
SEADANYA -- DAN MASIH BERNAPAS
Disukai
0
Dibaca
233
Tentang Penulis
N. Y. YONS
Dibesarkan di Jawa Tengah, Indonesia, tempat kosakata dan ritme harian praktik Sumarah dan kebatinan membentuk pemahamannya tentang kesulitan, kesabaran, dan disiplin batin jauh sebelum ia memiliki bahasa untuk menggambarkannya secara sistematis.
Karya mengambil dari warisan budaya ini berdampingan dengan keterlibatan yang berkelanjutan dengan psikologi, sosio-kultural, dan penelitian organisasi kontemporer, bertujuan menjadikan sebuah tradisi kearifan yang jauh lebih tua sungguh-sungguh bisa dipakai bagi pembaca yang menavigasi tekanan spesifik kehidupan profesional dan pribadi modern.
Karya mengambil dari warisan budaya ini berdampingan dengan keterlibatan yang berkelanjutan dengan psikologi, sosio-kultural, dan penelitian organisasi kontemporer, bertujuan menjadikan sebuah tradisi kearifan yang jauh lebih tua sungguh-sungguh bisa dipakai bagi pembaca yang menavigasi tekanan spesifik kehidupan profesional dan pribadi modern.
Bergabung sejak 2026-09-11
Telah diikuti oleh 12 pengguna
Sudah memublikasikan 11 karya
Menulis lebih dari kata
Rekomendasi dari Fantasi
Skrip Film
GEMA SANG PENGUASA LANGIT
N. Y. YONS
Novel
Story of Dharma 2
Indah Nur Aini
Novel
Vampir yang Kesepian
Nurul Arifah
Novel
The Battle of Serenity: Hiraeth
Nabil Bakri
Komik
Queen of The Blood & Sierra The High Witch
Richelle Letitia
Skrip Film
Family Family Love
Sylveon
Novel
The Last RTS
Yelena Morozova
Novel
Linn
Qarina R Jussap
Novel
Mansheviora: Semesta Alternatif
Miftachul Arifin
Novel
Serangga dan Cahaya
tehdanjahe
Novel
Gethora
Adi Putra
Novel
Sometimes I Lie
Noura Publishing
Novel
BREGADA LULUHAN
PapaDi_YSELnury
Novel
Kamu dan Hujan
Naila Etrafa
Novel
Perihal Ruh
Hizbul Ridho
Rekomendasi
Skrip Film
GEMA SANG PENGUASA LANGIT
N. Y. YONS
Cerpen
Toko Buku Terakhir di Kwitang
N. Y. YONS
Novel
KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa
N. Y. YONS
Skrip Film
3:17: Jangkar Terakhir
N. Y. YONS
Skrip Film
PROTOKOL PENGHAPUSAN
N. Y. YONS
Novel
THE LONG SILENCE : Ketika Pengorbanan Membuatmu Kehilangan Hidupmu Sendiri
N. Y. YONS
Novel
3:17 Jangkar Terakhir
N. Y. YONS
Novel
PROTOKOL PENGHAPUSAN
N. Y. YONS
Novel
GEMA SANG PENGUASA LANGIT: TRILOGI TITAH AGUNG
N. Y. YONS