INT. BALAIRUNG KAHYANGAN - SAYAP ADMINISTRASI - SIANG - BEBERAPA HARI KEMUDIAN
Sebuah lorong yang membentang jauh lebih panjang daripada gedung yang menampungnya. Gulungan-gulungan melayang setinggi kepala, mengarsipkan dirinya sendiri ke laci-laci yang membuka dan menutup tanpa disentuh siapa pun.
RADEN JINAR berjalan cepat. WIRA, jauh lebih lambat, menyusul di belakang sambil membawa setumpuk tablet giok yang jelas tak ia pahami.
RADEN JINAR
Ini Kementerian Tata Sapa. Setiap makhluk dalam daftar kahyangan punya gelar, pangkat, dan bentuk sapaan yang disahkan. Salah sedikit, kau menghina empat ribu tahun protokol.
WIRA
Memangnya apa yang terjadi kalau aku menghina empat ribu tahun protokol?
RADEN JINAR
Dulu: perang. Sekarang: nota-nota bernada keras.
Mereka melewati seorang roh kecil yang tampak mudah tersinggung, mencap sebuah tablet dengan kemarahan kasatmata.
WIRA
(berbisik)
Dia lagi nge-cap apa?
RADEN JINAR
Penolakan atas usulan reformasi Kementerian Tata Sapa-mu. Untuk keempat kalinya.
WIRA
Aku belum mengajukan usulan keempat.
RADEN JINAR
Dia menolak lebih dulu yang akan kau ajukan. Menghemat waktu.
WIRA berhenti berjalan. Menunduk menatap tablet-tablet giok di pelukannya — formulir permohonan, formulir penolakan, formulir permohonan izin untuk mengajukan formulir lain.
WIRA
Gimana caranya ada yang BERES di sini?
RADEN JINAR
Pelan-pelan. Dengan benar. Dengan cara yang sama selama tiga ribu tahun.
WIRA
Itu bukan jawaban. Itu diagnosis.
Raden Jinar nyaris tersenyum.
RADEN JINAR
Sang Penguasa Langit dulu bilang protokol ada supaya tak seorang pun harus mengambil keputusan sendiri. Satu formulir untuk setiap situasi, sehingga tak ada yang benar-benar bertanggung jawab atas hasilnya. Hanya berkasnya.
WIRA meletakkan tablet-tablet itu di sebuah rak melayang. Semuanya. Sekaligus.
WIRA
Oke. Protokol baru. Satu aturan.
RADEN JINAR
(waspada)
Yaitu?
WIRA
Kalau sebuah formulir ada hanya untuk melindungi seseorang dari keharusan memutuskan sesuatu, kita bakar formulirnya dan suruh dia memutuskan.
Riak kengerian bergerak kasatmata di antara para juru tulis di dekat situ.
RADEN JINAR
Itu bukan protokol. Itu ketiadaan protokol.
WIRA
Bukan — itu jenis yang lain. Segalanya tetap butuh pemilik. Hanya saja orang, bukan formulir. Seseorang yang namanya benar-benar tertera pada keputusan itu.
Raden Jinar mempertimbangkannya lama. Di belakangnya, roh yang mudah tersinggung itu berhenti mencap dan sekadar menatap WIRA, tablet membeku di tengah penolakan.
RADEN JINAR
Kementerian akan membencinya.
WIRA
Kementerian boleh mengajukan keluhan.
RADEN JINAR
Ada formulirnya.
WIRA
(sudah melangkah pergi)
Berarti butuh nama juga di situ.
Raden Jinar memperhatikannya pergi. Lalu, di luar kehendaknya, memungut tumpukan tablet yang ditinggalkan dan, untuk pertama kalinya dalam delapan ratus empat puluh dua tahun pengabdian, melempar separuhnya langsung ke dalam tong bertanda SEBENARNYA TIDAK PERLU, sebuah label yang lima menit lalu belum ada dan kini, entah bagaimana, selalu ada.
DISSOLVE KE:
INT. UNIVERSITAS BRAWIJAYA - LORONG - PAGI
WIRA berdiri di luar pintu ruang sidang, dasi miring, catatan sedikit gemetar di tangannya — bukan karena Jembatan kali ini. Hanya ketakutan manusia biasa.
Ia menelepon Dimas.
DIMAS (V.O.)
(lewat telepon, setengah tidur)
Ini jam 8 pagi. Awas aja kalau bukan kiamat.
WIRA
Sidang tesis empat menit lagi. Aku nggak ngerti kenapa aku lebih takut sama lima penguji daripada sama Ki Yuwenda.
DIMAS (V.O.)
(tertawa, lalu, lebih lembut)
Karena Ki Yuwenda nggak menilai kamu. Eh — ingat nggak yang kamu bilang dulu, waktu kamu masih jaga telepon? Ada pelanggan teriak-teriak soal garansi dan kamu bilang, “semua orang di panggilan ini punya peran, peranku cuma tetap tenang lebih lama daripada dia bisa marah.”
WIRA
Aku nggak ingat pernah ngomong sebijak itu.
DIMAS (V.O.)
Kamu pernah. Dan waktu itu juga kamu benar. Sana, tetap tenang lebih lama daripada mereka bisa bingung. Kamu pasti lancar.
WIRA tertawa, sebagian getar di tangannya hilang.
WIRA
Jumat masih jadi, kan.
DIMAS (V.O.)
Harus jadi.
Ia menutup telepon. Meluruskan dasinya. Membuka pintu.
INT. UNIVERSITAS BRAWIJAYA - RUANG SIDANG TESIS - PAGI
Meja penguji.
Lima wajah, termasuk PROF. HARTONO (60-an, mata tajam, empat puluh tahun mahasiswa).
WIRA di depan.
Sepertujuh dirinya sedang menstabilkan Jakarta.
Sepertujuh lainnya ada di rapat infrastruktur kahyangan.
Sisanya di sini.
WAHYUNI
Data bab tujuh Anda. Observasi empiris langsung dari sebuah peristiwa kesadaran terdistribusi. Di mana data ini dikumpulkan?
WIRA
Jakarta.
Hening. Semua orang tahu apa arti Jakarta.
WIRA
Saya adalah Jembatan. Saya sudah menjadi Jembatan selama delapan tahun.
Hening yang lebih panjang. Seorang penguji, pria yang lebih tua di ujung meja, meletakkan penanya dengan sangat hati-hati, seakan benda itu bisa meledak.
PROF. HARTONO
(terukur, mengujinya)
Itu klaim yang sangat besar untuk diajukan sebelas menit sebelum sidang Anda berakhir, Saudara Wira. Bisakah Anda membuktikannya?
Tangan WIRA bergeser fase, sedikit saja, tembus pandang di tepinya selama setengah detik, lalu padat lagi.
Tak seorang pun di ruangan itu bernapas selama setengah detik itu. Pena Prof. Hartono, yang sudah diletakkan, tak bergerak untuk mengambil dirinya sendiri kembali. Di suatu tempat di ujung meja, kursor laptop berkedip, terlupakan, di atas kalimat catatan yang belum selesai.
WIRA
Bisa saya tunjukkan. Tapi saya kira Bapak-Ibu lebih suka saya tidak menjadikan ruangan ini barang bukti.
WAHYUNI
(pelan)
Adik saya ada di Sektor 4.
WIRA
(lembut)
Dia dijadwalkan Selasa depan. Saya cek daftarnya pagi ini.
Wahyuni tak berkata apa-apa lagi. Hanya mengangguk, sekali, dan menunduk menatap catatannya seperti butuh sedetik untuk tidak menangis di depan komite penguji tesis.
PROF. HARTONO
(kepada ruangan, final)
Komite menganugerahkan gelar Magister Sains bidang Fisika, dengan predikat cum laude. Selamat, Saudara Wira — sekarang pergilah, bangunkan mereka.
Ia mengangguk. Dan pergi.
DISSOLVE KE: