EKS. KAHYANGAN AGUNG - BERLANJUT
Mereka berdiri di kaki tangga istana.
Megah.
Dahsyat.
Mustahil.
WIRA menatapnya ke atas.
WIRA
Sialan, keramat banget.
RADEN JINAR
Secara teknis, memang keramat. Tak ada yang pernah siap menghadapi ini. Justru itu intinya.
Gerbang istana TERBUKA — bukan dengan derit engsel kuno, melainkan senyap, seakan mereka sudah menunggu saat yang persis ini dan lega akhirnya bisa bergerak.
Sebuah ARAK-ARAKAN muncul.
Para dewa berjubah upacara yang warnanya berubah tergantung dari sudut mana kau memandangnya, ada yang berjalan, ada yang melayang beberapa inci di atas tanah karena kebiasaan, bukan kebutuhan.
Di depan: tiga sosok yang membuat dewa-dewa lain mundur selangkah tanpa sadar, seperti kerumunan yang menyingkir untuk cuaca.
GAGAK SETA — Sang Dewa Jahil.
Tampak seperti rocker punk dalam zirah tradisional.
Menyeringai dengan gigi kebanyakan.
BARA — Sang Dewa Anak.
Tampak berusia dua belas tahun.
Matanya lebih tua dari galaksi.
Membawa tombak yang MENJERIT pada frekuensi yang tak terdengar manusia.
PUSPA ASIH — Tangan terlipat, napas pelan.
Setiap dewa di dekatnya berdiri setengah langkah lebih jauh dari yang seharusnya.
Mereka mendekat. WIRA berusaha untuk tidak lari.
Gagak Seta tiba lebih dulu. Mengitarinya. MENGENDUS.
GAGAK SETA
Bau layanan pelanggan sama mi murahan. Ini beneran penyelamat kita? Atau kita cuma kehabisan pilihan?
Tenggorokan WIRA KERING. Tapi ia menatap mata emas itu.
WIRA
Kamu… nggak seharusnya begitu, kan?
Gagak Seta TERTAWA. Girang.
GAGAK SETA
Wah, aku suka dia! Dia ini kalau nggak jujur, ya lebih cerdik dari tampangnya!
Di belakang arak-arakan, seseorang tak repot-repot maju sampai ke depan. SAMUDRA AJI — jubah tua yang basah dan tak pernah benar-benar kering, kelelahan khas makhluk yang lebih tua dari konsep hari Senin.
SAMUDRA AJI
(bahkan tanpa mendongak)
Empat ribu tahun. Nggak baik-baik saja. Bersedia dikejutkan.
Ia kembali ke apa pun yang sedang dikerjakannya, yang tampaknya tidak apa-apa.
GAGAK SETA
(berbisik keras)
Itu sapaan paling ramah yang dia berikan ke siapa pun sejak zaman Majapahit.
BARA tidak bicara.
Hanya MENATAP WIRA.
Lalu, dengan sengaja, ia MEMBUNGKUK.
Hanya sedikit.
Para dewa lain TERSENTAK.
BARA
Kau menahan Jakarta selama delapan tahun. Itu saja sudah membuatku memperhatikanmu. Jangan sia-siakan.
Ia berbalik dan pergi. Tombaknya menyeret LIDAH API.
Akhirnya, PUSPA ASIH mendekat.
Kehadirannya seperti air sejuk setelah panas gurun.
PUSPA ASIH
Kau takut.
WIRA
Iya.
PUSPA ASIH
Bagus. Takut berarti kau mengerti bobotnya. Welas asih tanpa rasa takut hanyalah iba. Welas asih bersama rasa takut adalah kebijaksanaan.
Ia menyentuh dahinya. Lembut.
PUSPA ASIH
Aku akan mendukungmu, Wira. Bukan karena kukira kau akan berhasil. Tapi karena kau mungkin gagal dengan cara yang mengajarkan sesuatu pada kita semua.
Ia melewatinya. Dewa-dewa lain mengikuti.
WIRA tertinggal berdiri bersama Raden Jinar.
WIRA
Itu tadi… lebih baik dari dugaanku?
RADEN JINAR
Mereka sekutumu. Tunggu sampai kau bertemu pihak yang menentang.
INT. RUANG SINGGASANA - BEBERAPA SAAT KEMUDIAN
Ruangan luas.
Pilar-pilar yang surut ke langit-langit tanpa ujung terlihat, masing-masing terukir nama kaisar yang tak pernah sekali pun harus menjelaskan diri.
Takhta kosong berdiri di ujung jauh, tampak kecil dari sini, absurd kecilnya untuk sesuatu yang telah menentukan bentuk kahyangan selama tiga ribu tahun.
WIRA berhenti di ambang pintu.
Lantai giok di sini aus mulus membentuk garis lurus menuju takhta — jejak langkah tujuh belas kaisar, semuanya menempuh jalur yang sama, tak satu pun pernah melangkah keluar darinya.
Ia menunduk menatap sepatu ketsnya sendiri.
Tak bisa melangkah melewatinya.
RADEN JINAR
Ada apa?
WIRA
Kalau aku masuk ke sana… kalau aku duduk di takhta itu… artinya aku bilang ya. Resmi. Nggak bisa ditarik lagi. Dan aku masih belum siap. Aku masih nggak tahu apa yang kulakukan.
RADEN JINAR
Apakah kau akan jadi lebih dari seadanya dalam setahun? Lima tahun? Seabad? Cukup itu bukan tujuan akhir. Ia sebuah latihan. Kau tidak menunggu sampai siap. Kau memutuskan bahwa kau sudah cukup siap, lalu kau MULAI.
WIRA masih berdiri di ambang. Tak bergerak.
RADEN JINAR
(lembut)
Sebenarnya ada apa?
WIRA
Nenekku ada di dalam sana. Di kawasan pelabuhan. Beku. Kalau aku masuk, aku jadi Kaisar. Dan kalau aku jadi Kaisar, aku harus melakukannya dengan benar. Aku harus membangunkan semua orang secara berurutan, bukan cuma dia. Protokol. Stabilitas. Kebaikan yang lebih besar.
RADEN JINAR
Ya.
WIRA
Dan dia sudah di sana delapan tahun. Dan dia akan baik-baik saja beberapa minggu lagi sementara kita membangun infrastrukturnya dengan benar. Aku tahu itu. Aku tahu semua itu.
Jeda.
WIRA
Tapi kalau aku nggak masuk, aku masih cuma WIRA. Dan WIRA secara teori bisa langsung pergi ke Jakarta dan membangunkan neneknya duluan.
RADEN JINAR
Bukan begitu cara kerjanya.
WIRA
Aku tahu. Begitu aku mengklaim takhta, aku menerima tanggung jawab yang menyertainya. Termasuk membiarkan nenekku beku beberapa minggu lagi sementara aku mengerjakannya dengan benar.
Jeda yang sangat panjang.
WIRA
Nenek pasti nyuruh aku melakukannya dengan benar.
RADEN JINAR
Dia kedengarannya orang yang pantas dibangunkan dengan benar.
WIRA mengembuskan napas.
WIRA
Dia bikin pangsit gosong dan ketawa sampai nangis. Begitulah dia.
Ia menatap takhta.
WIRA
Oke. Ayo kita lakukan.
Raden Jinar menawarkan lengannya.
WIRA menerimanya.
Bersama, mereka melangkah melewati ambang.
Ruang singgasana BEREAKSI.
Lantai giok menyala di bawah kaki mereka.
Rasi bintang bermunculan di dalam batu.
Mereka mendekati takhta.
WIRA meletakkan tangan di sandaran lengan.
Giok itu hangat.
Tujuh belas pasang cap tangan menyala dari dalam batu.
WIRA
Aku bakal mengacaukan ini.
RADEN JINAR
Mungkin.
WIRA
Orang-orang bakal terluka.
RADEN JINAR
Pasti.
WIRA
Dan kahyangan mungkin tetap runtuh, meski kita sudah berusaha sekuat tenaga.
RADEN JINAR
Bisa jadi.
WIRA menoleh menatapnya.
WIRA
Kamu payah banget soal kata-kata penyemangat.
RADEN JINAR
Aku jago soal kebenaran. Itu yang diajarkan Sang Penguasa Langit padaku. Lebih baik gagal dengan jujur daripada berhasil lewat kebohongan.
Ia mundur selangkah. Membungkuk formal.
RADEN JINAR
Takhtamu, Wira. Jika kau mau menerimanya.
WIRA memandang takhta itu.
Ia melihat: Jakarta, tujuh ratus ribu nyawa tertahan dalam hening beku.
Neneknya, menangis di sebuah jendela, selamanya mendengarkan.
Tas punggung di atas konsol.
Ia menarik napas. Lalu, ia duduk.
Takhta itu BERUBAH di sekelilingnya.
Bukan dengan guntur dan kilat.
Hanya… MENYESUAIKAN DIRI.
Mengenalinya.
Dan di seluruh kahyangan, setiap dewa, setiap iblis, setiap roh MERASAKANNYA: seorang Kaisar baru telah menduduki takhta.
Tapi ada sesuatu yang BERBEDA kali ini.
Takhta itu tidak menuntut pemujaan.
Ia mengajukan sebuah pertanyaan: “APA YANG KAU PILIH?”
WIRA
Aku memilih… untuk mencoba. Dengan sadar. Dengan sengaja. Sambil mengakui aku mungkin salah.
CAHAYA EMAS membanjiri ruangan. Cahaya PILIHAN.
Dari ambang pintu: langkah kaki. Banyak langkah kaki. Para dewa datang.
WIRA
(berbisik)
Nggak sempurna. Cukup untuk memulai.
Para dewa memenuhi ruang singgasana.
Ratusan.
Semuanya menatap bocah fana ini yang berani duduk di tempat para kaisar pernah duduk.
Raden Jinar melangkah maju. Suaranya MENGGEMA.
RADEN JINAR
Atas titah terakhir Sang Penguasa Langit yang ketujuh belas, Prabu Danurdana, hamba persembahkan WIRA LINTANG dari Malang. Penjaga Jembatan Jakarta. Ahli waris terpilih takhta kahyangan.
Hening. Lalu, dari belakang kerumunan:
SUARA (O.S.)
AKU KEBERATAN.
Kerumunan MEMBELAH. Sebuah sosok muncul. Tinggi. Rupawan. Menakutkan.
KI YUWENDA — Sang Kaisar Abadi.
Pemimpin faksi Ordo Abadi.
Jubah putih marmer, punggung setegak bilah terhunus, satu ibu jari mengusik segel emas di sabuknya yang aus karena bertahun-tahun digosok.
KI YUWENDA
Takhta tak bisa diklaim oleh seorang fana. Itu pelanggaran atas setiap preseden. Setiap hukum.
RADEN JINAR
Setiap hukum yang ditulis para kaisar demi mempertahankan kekuasaan mereka sendiri.
Mata Ki Yuwenda MENYALA.
KI YUWENDA
Sang Penguasa Langit memang telah turun takhta. Tapi ia tak bisa begitu saja MENUNJUK penggantinya. Takhta harus DIRAIH.
Ia berbalik menghadap para dewa yang berkumpul.
KI YUWENDA
Kita berdiri di tepi jurang. Sang Penguasa Langit telah meninggalkan kita. Kekacauan mengancam. Segel-segel melemah. Dan dalam krisis ini, kita diminta tunduk pada seorang ANAK? Seorang fana yang bahkan tak sanggup menyatukan dirinya sendiri. Yang tercerai-berai melintasi dimensi seperti pecahan kaca. Yang telah MELUPAKAN pengorbanannya sendiri.
WIRA berdiri. Kakinya GEMETAR tapi ia berdiri.
WIRA
Kau benar. Aku memang seadanya. Aku tercerai-berai. Aku fana dan rapuh dan aku PASTI akan melakukan kesalahan.
Ki Yuwenda tersenyum. Penuh kemenangan.
KI YUWENDA
Kalau begitu kau mengaku tak layak —
WIRA
Bukan. Aku mengaku JUJUR.
Ia berjalan menuruni panggung. Mendekati Ki Yuwenda langsung.
WIRA
Sang Penguasa Langit itu seadanya. Dia sendiri yang bilang. Tujuh belas kaisar, semuanya berusaha sebaik mungkin dan lebih sering gagal daripada berhasil. Bedanya: aku TAHU diriku apa. Aku akan mengaku kalau salah. Aku akan minta tolong. Aku akan mengubah arah kalau bukti menunjukkan aku harus.
Ia berbalik menghadap para dewa yang berkumpul.
WIRA
Dan kalau itu membuatku tak layak di mata kalian, mungkin kita perlu mendefinisikan ulang apa itu kelayakan.
GUMAMAN menyebar di kerumunan.
KI YUWENDA
Kata-kata yang indah. Tapi kata-kata tak bisa menahan segel. Kata-kata tak melindungi kahyangan dari Suwung.
Ia memberi isyarat.
Dan LANTAI DI BAWAH MEREKA RETAK.
Melalui retakan: SUWUNG.
Kehampaan yang sama yang mengancam Jakarta.
WIRA TERHUYUNG. Serpihan Jakarta-nya MENJERIT mengenali.
KI YUWENDA
Segel-segel itu sedang pecah. Saat ini juga. Bisakah kau menghentikannya? Bisakah kau, dengan kesadaran fanamu yang nyaris tak utuh itu, menahan Suwung?
Napas WIRA tersengal-sengal.
Ia berlutut di dekat retakan.
Meletakkan tangannya di dekatnya.
GAGAK SETA
Kau GILA?!
Tapi WIRA tidak mendengarkan.
Ia INGAT sekarang.
Jakarta.
Melebur menjadi cahaya.
Menjadi SANG JEMBATAN.
Ia memasukkan tangannya KE DALAM retakan.
Para dewa TERSENTAK.
Bahkan Ki Yuwenda mundur.
Tangan WIRA MELEBUR menjadi cahaya, menjadi struktur. Gemetarnya berhenti.
WIRA
(suara bergema)
Aku pernah di sini. Aku pernah MENJADI ini.
Kesadarannya RETAK. Ketujuh kepingannya AKTIF sekaligus.
INTERCUT: EKS. PELABUHAN JAKARTA - BERLANJUT
Ratusan kilometer jauhnya, di atas zona tersuspensi, salah satu dari tujuh pilar cahaya yang menahan Pemudaran BERKEDIP — meredup hingga sebagian kecil dari terangnya, medan kuantum di sekitarnya bergetar — lalu perlahan naik kembali, pulih, seakan sesuatu yang jauh baru saja, dengan tenang, diminta menutupi sesuatu yang lain.
Tak seorang pun di Jakarta melihatnya terjadi. Tak seorang pun di ruang singgasana tahu harus melihat ke sana.
INT. RUANG SINGGASANA - BERLANJUT
WIRA
(tujuh suara dalam harmoni)
Suwung bukan kekacauan. Ia PILIHAN. Kenyataan yang belum memutuskan. Dan pilihan itulah yang membuat kita ilahi. Bukan kekuasaan. Bukan keabadian. Kemampuan untuk MEMUTUSKAN akan jadi apa kita.
Retakan itu MENUTUP.
Ketujuh kepingan WIRA RUNTUH kembali menjadi satu.
Ia jatuh.
Terengah.
Raden Jinar menangkapnya.
Ruang singgasana HENING. Bahkan Ki Yuwenda menatap. Tak bisa bicara.
WIRA
(letih tapi tegas)
Aku memang seadanya. Tapi seadanya itu CUKUP. Dan aku di sini. Memilih untuk mencoba. Jadi. Siapa yang ikut aku?
Hening panjang. Lalu: BARA melangkah maju.
BARA
Aku.
PUSPA ASIH menyusul.
PUSPA ASIH
Dan aku.
GAGAK SETA menyeringai.
GAGAK SETA
Ah, ya sudahlah. Seenggaknya bakal seru.
Satu per satu, para dewa melangkah maju.
Tidak semuanya.
Bahkan tidak kebanyakan.
Tapi CUKUP.
Ki Yuwenda mengamati. Wajahnya batu.
KI YUWENDA
Ini belum selesai.
WIRA
Aku tahu.
KI YUWENDA
Ordo Abadi tak akan tunduk pada… eksperimen ini.
WIRA
Ya jangan. Aku nggak minta kepatuhan. Aku minta percakapan. Perdebatan. Hak untuk SALAH dan belajar darinya.
Tawa Ki Yuwenda dingin.
KI YUWENDA
Kau akan belajar. Dengan cara yang pahit. Nikmati takhtamu selagi bisa, Wira. Ketika krisis sesungguhnya datang — dan ia PASTI datang — kita lihat apakah “tak sempurna, tapi tak berhenti” cukup untuk menahannya.
Ia LENYAP. Separuh dewa yang hadir mengikutinya.
RADEN JINAR
Itu bisa jauh lebih buruk.
WIRA
Gimana caranya?
RADEN JINAR
Dia bisa saja langsung mencoba membunuhmu alih-alih menunggu.
WIRA TERTAWA. Suara setengah histeris.
WIRA
Aku bikin kesalahan fatal, kan?
RADEN JINAR
Mungkin. Tapi itu kesalahanMU. Dan itu yang membuatnya lebih baik daripada tujuh belas kaisar dengan kepastian milik orang lain.
WIRA menatap takhta. Masih berpendar. Masih menunggu.
WIRA
Oke. Terus sekarang?
RADEN JINAR
Sekarang kita bentuk Sidang Kahyanganmu. Mulai membuka segel Gagasan Berbahaya. Menstabilkan Jakarta sebelum ia runtuh sepenuhnya.
GAGAK SETA
Dan bersiap perang. Soalnya Ki Yuwenda nggak bakal cuma OMONG KOSONG soal menentangmu.
WIRA menarik napas dalam. Mengembuskannya perlahan.
WIRA
Satu langkah satu waktu. Apa hal pertama yang harus kulakukan?
PUSPA ASIH
Pelajari apa yang kau warisi. Segel-segelnya. Sistemnya. Kebenaran-kebenaran yang terkubur.
WIRA memandang keluar ke istana yang luas dan menanti — lorong-lorong yang belum pernah ia jalani, pintu-pintu yang belum ia ketahui bobotnya.
WIRA
Seadanya…
Ia melangkah maju. Ke lorong-lorong tak dikenal dari warisannya sendiri.