INT. APARTEMEN IBU - FAJAR
WIRA muncul di dapur. Begitu saja MUNCUL.
IBUNYA (50-an) sedang membuat martabak telur. Ia tak tampak terkejut.
IBU
Kamu telat.
WIRA
Maaf. Aku — aku jadi kaisar kahyangan dan nggak sengaja memulai revolusi dan ada serangan iblis dan —
Ia menyorongkan sepotong martabak ke piringnya.
IBU
Makan.
Ia duduk. Menggigit. Memejamkan mata.
IBU
Kakekmu pasti bangga.
WIRA MEMBEKU.
WIRA
Mama tahu. Soal Jakarta. Soal semuanya.
IBU
Dari malam pertama. Mama yang menyegel ingatanmu. Setelah Jakarta, Mama ingin memberimu hidup yang NORMAL selama mungkin.
Air mata mengalir di wajahnya.
IBU
Mama ingin kamu jadi mahasiswa pascasarjana. Anak lelaki biasa dengan hidup biasa. Bukan… ini.
WIRA menjangkau melintasi meja. Menggenggam tangannya.
WIRA
Aku MASIH mahasiswa pascasarjana. Masih anak lelaki biasa. Cuma juga… seorang kaisar kahyangan yang belum siap-siap amat.
Ia TERTAWA di antara air matanya.
IBU
Seadanya. Itu selalu ungkapan kakekmu. Katanya: “Lebih baik seadanya tapi jujur, daripada serba cukup tapi palsu.”
WIRA
Apa Kakek akan menginginkan ini untukku?
IBU
Dia akan BERHARAP. Tapi dia ingin itu jadi pilihanmu. Itu bagian terpentingnya.
Hening. Ibu meletakkan spatula. Duduk di hadapannya dengan sungguh-sungguh, seperti dulu ketika ada hal serius yang harus dikatakan di meja dapur.
IBU
Mama perlu mengatakan ini dengan benar. Bukan “maaf kamu jadi tahu.” Maksud Mama: maaf Mama memutuskan sendirian bahwa kamu tak boleh berduka atas apa yang kamu korbankan. Itu bukan hak Mama untuk merampasnya darimu. Seorang ibu seharusnya melindungi anaknya. Mama nggak yakin melindungimu dari ingatanmu sendiri itu perlindungan. Mungkin itu cuma ketakutan yang memakai baju perlindungan.
WIRA diam lama.
WIRA
Delapan tahun aku merasa ada satu ruangan di rumahku sendiri yang nggak boleh kumasuki. Aku nggak tahu kenapa. Aku cuma tahu ada yang hilang, dan aku mengisi ruang itu dengan mi instan dan skrip layanan pelanggan karena itu lebih mudah daripada bertanya kekosongan itu apa.
IBU
(nyaris tak sanggup menahan diri)
Mama tahu. Mama lihat kamu melakukannya. Setiap kunjungan, kamu makin hampa, dan Mama bilang pada diri sendiri itu lebih baik daripada alternatifnya.
WIRA
Mungkin memang. Aku enam belas tahun. Mungkin aku nggak akan sanggup membawa ingatan dan hidup normal sekaligus. Mungkin Mama membelikanku delapan tahun yang memang kubutuhkan.
Ia menjangkau melintasi meja lagi. Kali ini, ibunyalah yang butuh tangannya digenggam.
WIRA
Aku memaafkan Mama. Bukan karena yang Mama lakukan itu kecil. Tapi karena aku mengerti kenapa Mama melakukannya, dan karena menyimpan marah pada Mama cuma beban lain yang sudah nggak ada tempatnya lagi buatku.
Ia menangis sepenuhnya sekarang, tangisan yang sudah delapan tahun terutang dan akhirnya boleh terjadi.
WIRA menghabiskan martabaknya.
Sarapan biasa.
Pagi biasa.
Kecuali ia bisa MERASAKAN kahyangan berdengung di belakang kesadarannya.
WIRA
Aku harus kembali. Sebentar lagi. Tapi aku perlu ingat kenapa aku melakukan ini.
IBU
Untuk tujuh ratus ribu orang di Jakarta?
WIRA
Untuk semua orang. Dewa dan manusia. Untuk kesempatan membangun sesuatu yang JUJUR, bukan sesuatu yang BERKUASA.
Ia berdiri. Mencium dahinya.
WIRA
Sayang Mama.
IBU
Mama tahu. Sekarang pergilah selamatkan dunia. Atau kahyangan. Atau tugas setengah jadi apa pun yang perlu dikerjakan.
Ia TERSENYUM.
DISSOLVE KE:
INT. JAKARTA - KANTOR KOORDINASI KRISIS - MALAM
Sebuah kantor pemerintah sempit yang berjalan dengan kopi dingin dan lampu neon. Peta-peta medan kuantum pelabuhan menutupi satu dinding, direvisi begitu sering hingga pin-pinnya punya pin.
MENTERI SUSANTI (40-an sekarang, letih, telah secara pribadi memberi pengarahan kepada tiga presiden tentang krisis persis ini) berdiri di kepala meja para pejabat, seorang PENGHUBUNG PBB di panggilan video membeku di tengah kedip akibat Wi-Fi buruk. Secarik kertas tua terlipat tinggal permanen di saku jasnya — sebuah nama, ditulis delapan tahun lalu di sebuah ruangan yang mirip ini.
PEJABAT 1
Utusan mereka menyebutnya “titah yang baru”. Katanya dibangun di atas persetujuan. Katanya negara mana pun boleh menolak sepenuhnya.
MENTERI SUSANTI
Kahyangan tak pernah sekali pun menanyakan pendapat kita tentang apa pun dalam tiga ribu tahun sejarah tercatat. Sekarang mendadak mau minta tanda tangan?
PENGHUBUNG PBB
(audio terputus-putus)
Kantor Sekretaris Jenderal telah menjalankan pemeriksaan latar belakang. Sejauh yang bisa dilakukan terhadap sesosok dewa. Usianya dua puluh empat. Petugas layanan pelanggan. Mahasiswa pascasarjana. Tak ada catatan kriminal. Tak ada afiliasi politik.
PEJABAT 1
Itu orang yang mau menjalankan langit sekarang?
MENTERI SUSANTI
Itu orang yang SUDAH menjalankannya. Selama delapan tahun. Tanpa bertanya pada kita. Satu-satunya yang berubah, sekarang dia bertanya.
Hening di sekeliling meja. Seseorang mengisi ulang kopi yang tak perlu diisi ulang, sekadar supaya tangannya punya kegiatan.
PEJABAT 1
Apa kita percaya padanya?
MENTERI SUSANTI
Saya tidak percaya pada SATU PUN dari mereka. Dewa, presiden, siapa pun yang punya kekuasaan sebesar itu dan tak ada yang menuntut pertanggungjawaban.
Ia menatap peta pelabuhan. Pada tujuh ratus ribu pin itu.
Tangannya melayang ke saku jasnya. Tak mengeluarkan kertas itu. Tak perlu.
MENTERI SUSANTI
Tapi dia yang pertama dalam seluruh berkas ini yang pernah bilang “kalian boleh menolak”.
Ia mengambil pulpen. Menandatangani.
MENTERI SUSANTI
Susun perjanjian kerja sama. Bersyarat. Ditinjau setiap enam bulan. Dan tolong carikan saya saluran langsung ke siapa pun yang sebenarnya menjalankan Jembatan sehari-hari — bukan utusannya. Dia.
PEJABAT 1
(sudah mengetik)
Baik, Bu Menteri.
Ia menatap wajah PENGHUBUNG PBB yang membeku dan berpiksel di layar.
MENTERI SUSANTI
Sampaikan pada Sekretaris Jenderal: Indonesia ikut. Tipis-tipis. Tapi ikut.
DISSOLVE KE: