GEMA SANG PENGUASA LANGIT
13. MEJA DAPUR
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

INT. APARTEMEN IBU - FAJAR

WIRA muncul di dapur. Begitu saja MUNCUL.

IBUNYA (50-an) sedang membuat martabak telur. Ia tak tampak terkejut.

IBU

Kamu telat.

WIRA

Maaf. Aku — aku jadi kaisar kahyangan dan nggak sengaja memulai revolusi dan ada serangan iblis dan —

Ia menyorongkan sepotong martabak ke piringnya.

IBU

Makan.

Ia duduk. Menggigit. Memejamkan mata.

IBU

Kakekmu pasti bangga.

WIRA MEMBEKU.

WIRA

Mama tahu. Soal Jakarta. Soal semuanya.

IBU

Dari malam pertama. Mama yang menyegel ingatanmu. Setelah Jakarta, Mama ingin memberimu hidup yang NORMAL selama mungkin.

Air mata mengalir di wajahnya.

IBU

Mama ingin kamu jadi mahasiswa pascasarjana. Anak lelaki biasa dengan hidup biasa. Bukan… ini.

WIRA menjangkau melintasi meja. Menggenggam tangannya.

WIRA

Aku MASIH mahasiswa pascasarjana. Masih anak lelaki biasa. Cuma juga… seorang kaisar kahyangan yang belum siap-siap amat.

Ia TERTAWA di antara air matanya.

IBU

Seadanya. Itu selalu ungkapan kakekmu. Katanya: “Lebih baik seadanya tapi jujur, daripada serba cukup tapi palsu.”

WIRA

Apa Kakek akan menginginkan ini untukku?

IBU

Dia akan BERHARAP. Tapi dia ingin itu jadi pilihanmu. Itu bagian terpentingnya.

Hening. Ibu meletakkan spatula. Duduk di hadapannya dengan sungguh-sungguh, seperti dulu ketika ada hal serius yang harus dikatakan di meja dapur.

IBU

Mama perlu mengatakan ini dengan benar. Bukan “maaf kamu jadi tahu.” Maksud Mama: maaf Mama memutuskan sendirian bahwa kamu tak boleh berduka atas apa yang kamu korbankan. Itu bukan hak Mama untuk merampasnya darimu. Seorang ibu seharusnya melindungi anaknya. Mama nggak yakin melindungimu dari ingatanmu sendiri itu perlindungan. Mungkin itu cuma ketakutan yang memakai baju perlindungan.

WIRA diam lama.

WIRA

Delapan tahun aku merasa ada satu ruangan di rumahku sendiri yang nggak boleh kumasuki. Aku nggak tahu kenapa. Aku cuma tahu ada yang hilang, dan aku mengisi ruang itu dengan mi instan dan skrip layanan pelanggan karena itu lebih mudah daripada bertanya kekosongan itu apa.

IBU

(nyaris tak sanggup menahan diri)

Mama tahu. Mama lihat kamu melakukannya. Setiap kunjungan, kamu makin hampa, dan Mama bilang pada diri sendiri itu lebih baik daripada alternatifnya.

WIRA

Mungkin memang. Aku enam belas tahun. Mungkin aku nggak akan sanggup membawa ingatan dan hidup normal sekaligus. Mungkin Mama membelikanku delapan tahun yang memang kubutuhkan.

Ia menjangkau melintasi meja lagi. Kali ini, ibunyalah yang butuh tangannya digenggam.

WIRA

Aku memaafkan Mama. Bukan karena yang Mama lakukan itu kecil. Tapi karena aku mengerti kenapa Mama melakukannya, dan karena menyimpan marah pada Mama cuma beban lain yang sudah nggak ada tempatnya lagi buatku.

Ia menangis sepenuhnya sekarang, tangisan yang sudah delapan tahun terutang dan akhirnya boleh terjadi.

WIRA menghabiskan martabaknya.

Sarapan biasa.

Pagi biasa.

Kecuali ia bisa MERASAKAN kahyangan berdengung di belakang kesadarannya.

WIRA

Aku harus kembali. Sebentar lagi. Tapi aku perlu ingat kenapa aku melakukan ini.

IBU

Untuk tujuh ratus ribu orang di Jakarta?

WIRA

Untuk semua orang. Dewa dan manusia. Untuk kesempatan membangun sesuatu yang JUJUR, bukan sesuatu yang BERKUASA.

Ia berdiri. Mencium dahinya.

WIRA

Sayang Mama.

IBU

Mama tahu. Sekarang pergilah selamatkan dunia. Atau kahyangan. Atau tugas setengah jadi apa pun yang perlu dikerjakan.

Ia TERSENYUM.

DISSOLVE KE:

INT. JAKARTA - KANTOR KOORDINASI KRISIS - MALAM

Sebuah kantor pemerintah sempit yang berjalan dengan kopi dingin dan lampu neon. Peta-peta medan kuantum pelabuhan menutupi satu dinding, direvisi begitu sering hingga pin-pinnya punya pin.

MENTERI SUSANTI (40-an sekarang, letih, telah secara pribadi memberi pengarahan kepada tiga presiden tentang krisis persis ini) berdiri di kepala meja para pejabat, seorang PENGHUBUNG PBB di panggilan video membeku di tengah kedip akibat Wi-Fi buruk. Secarik kertas tua terlipat tinggal permanen di saku jasnya — sebuah nama, ditulis delapan tahun lalu di sebuah ruangan yang mirip ini.

PEJABAT 1

Utusan mereka menyebutnya “titah yang baru”. Katanya dibangun di atas persetujuan. Katanya negara mana pun boleh menolak sepenuhnya.

MENTERI SUSANTI

Kahyangan tak pernah sekali pun menanyakan pendapat kita tentang apa pun dalam tiga ribu tahun sejarah tercatat. Sekarang mendadak mau minta tanda tangan?

PENGHUBUNG PBB

(audio terputus-putus)

Kantor Sekretaris Jenderal telah menjalankan pemeriksaan latar belakang. Sejauh yang bisa dilakukan terhadap sesosok dewa. Usianya dua puluh empat. Petugas layanan pelanggan. Mahasiswa pascasarjana. Tak ada catatan kriminal. Tak ada afiliasi politik.

PEJABAT 1

Itu orang yang mau menjalankan langit sekarang?

MENTERI SUSANTI

Itu orang yang SUDAH menjalankannya. Selama delapan tahun. Tanpa bertanya pada kita. Satu-satunya yang berubah, sekarang dia bertanya.

Hening di sekeliling meja. Seseorang mengisi ulang kopi yang tak perlu diisi ulang, sekadar supaya tangannya punya kegiatan.

PEJABAT 1

Apa kita percaya padanya?

MENTERI SUSANTI

Saya tidak percaya pada SATU PUN dari mereka. Dewa, presiden, siapa pun yang punya kekuasaan sebesar itu dan tak ada yang menuntut pertanggungjawaban.

Ia menatap peta pelabuhan. Pada tujuh ratus ribu pin itu.

Tangannya melayang ke saku jasnya. Tak mengeluarkan kertas itu. Tak perlu.

MENTERI SUSANTI

Tapi dia yang pertama dalam seluruh berkas ini yang pernah bilang “kalian boleh menolak”.

Ia mengambil pulpen. Menandatangani.

MENTERI SUSANTI

Susun perjanjian kerja sama. Bersyarat. Ditinjau setiap enam bulan. Dan tolong carikan saya saluran langsung ke siapa pun yang sebenarnya menjalankan Jembatan sehari-hari — bukan utusannya. Dia.

PEJABAT 1

(sudah mengetik)

Baik, Bu Menteri.

Ia menatap wajah PENGHUBUNG PBB yang membeku dan berpiksel di layar.

MENTERI SUSANTI

Sampaikan pada Sekretaris Jenderal: Indonesia ikut. Tipis-tipis. Tapi ikut.

DISSOLVE KE:

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)