GEMA SANG PENGUASA LANGIT
7. ARSIP BAWAH AIR
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

INT. PADEPOKAN ORDO ABADI - BERLANJUT

KI YUWENDA menerobos masuk, separuh Sidang Kahyangan menguntit di belakangnya — para dewa berjubah upacara, wajah mereka terpatri di antara takut dan lega karena akhirnya punya tempat untuk menaruhnya.

DEWA FAKSI

Tuanku. Benarkah itu? Seorang fana di atas takhta?

KI YUWENDA

Benar. Dan ia akan berakhir seperti setiap eksperimen atas ketidakpastian yang pernah berakhir sejak awal kahyangan tercatat.

Ia duduk. Bukan di singgasana — Ki Yuwenda tak percaya pada lambang yang belum ia raih dua kali lipat. Di atas bangku batu polos, benda tertua di ruangan itu.

DEWA FAKSI

Kata-katamu seolah kau pernah melihat ini sebelumnya.

KI YUWENDA

(jeda panjang)

Tiga ratus tahun lalu. Resi Bagaskara membuka segel gagasan Titah Agung, gagasan yang sama yang baru dipecahkan bocah itu malam ini. Aku cukup muda saat itu untuk menyebutnya “muda” tanpa ironi. Kami punya sebelas bulan persis seperti ini. Komite. Persetujuan. Suara semua orang berbobot sama.

Ruangan itu sangat sunyi.

KI YUWENDA

Lalu pagar-pagar perbatasan gagal, karena tak ada komite yang bisa sepakat cukup cepat soal siapa yang bertanggung jawab merawatnya. Empat puluh ribu jiwa, dalam keruntuhan sesudahnya. Bukan iblis. Bukan perang. Hanya — sudah bukan tugas siapa-siapa lagi.

Ia menatap tangannya sendiri.

KI YUWENDA

Aku sendiri yang menyegel gagasan itu kembali. Membangun ulang pagar-pagar itu dengan tanganku sendiri, batu demi batu. Butuh enam puluh tahun. Setiap tahun sesudahnya kuhabiskan memastikan itu tak terulang. Dan kini seorang petugas layanan pelanggan ingin mencoba eksperimen yang sama dengan tujuh ratus ribu nyawa lagi sebagai taruhannya.

DEWA FAKSI

Kalau begitu kita hentikan dia.

KI YUWENDA

(berdiri, sudah bulat)

Kita beri dia tali secukupnya. Dan kita awasi, dengan sangat cermat, saat tak ada seorang pun yang tugasnya menjaga pagar-pagar itu.

INT. KAHYANGAN AGUNG - SERAMBI LUAR - BERLANJUT

WIRA berjalan bersama PUSPA ASIH, melewati pintu-pintu terbuka.

Seorang dewa birokrat kecil mendengkur di meja yang bertumpuk permohonan tak terbaca, bekas cangkir kopi tercetak permanen di giok. Yang lain berdebat dengan sesosok roh soal batas yurisdiksi yang sudah tak berarti selama empat ratus tahun, keduanya jelas jauh lebih menikmati perdebatan itu ketimbang penyelesaian apa pun.

WIRA

Ada yang beneran KERJA di sini?

PUSPA ASIH

Semua orang mengerjakan persis apa yang diwajibkan. Tak lebih. Kepastian bukan sekadar menghapus pilihan mereka, Wira. Ia menghapus alasan mereka untuk peduli.

Mereka melewati roh penjaga kuil yang menganggur, menggosok pedupaan yang sama untuk ketiga kalinya.

WIRA

Itu bukan stabilitas. Itu koma dengan postur bagus.

PUSPA ASIH

(nyaris tersenyum)

Sekarang kau mengerti kenapa arsip tersegel ini penting. Di suatu tempat di istana ini, seseorang pernah begitu peduli pada sebuah pertanyaan sampai ia menjadikan bertanya itu terlarang. Itu masih lebih hidup daripada kebanyakan yang kaulewati.

Ia berhenti di depan sebuah pintu berat tanpa tanda.

PUSPA ASIH

Marilah. Biar kutunjukkan apa yang tak berani dihadapi tujuh belas kaisar.

INT. ARSIP BAWAH AIR - BERLANJUT

KEGELAPAN memberi jalan pada PENDAR BIRU, perlahan, seperti napas tertahan yang dilepaskan.

Mereka berada di sebuah ruang bawah tanah yang luas.

Bukan dibangun — TUMBUH.

Stalaktit pikiran yang mengkristal menggantung dari langit-langit yang puncaknya tak terlihat siapa pun.

Udaranya berasa statis, bau ozon khas sebelum badai yang tak kunjung tiba.

Langkah kaki tidak bergema di sini, melainkan DISERAP, ditelan dinding-dinding yang tampak sedang mendengarkan.

Dinding-dindingnya BERDENYUT dengan kesadaran yang terperangkap, ritme pasang lambat, masuk dan keluar, seolah ruangan itu sendiri bernapas lewat seribu pikiran yang tertahan.

Di suatu tempat jauh di bawah, sesuatu yang sangat besar bergeser dalam tidurnya.

Napas WIRA mengembun di depannya.

Seharusnya tidak dingin.

Tapi dingin.

WIRA

Ya ampun. Mereka… mereka HIDUP.

PUSPA ASIH

Bukan hidup. Sadar. Ada bedanya.

Di dinding: KATA-KATA.

Konsep-konsep, tertulis dalam aksara yang berubah bentuk saat dipandang.

WIRA berjalan melewatinya, membaca cepat.

“KETAKSEMPURNAAN YANG MULIA.” Dinding di sini BERDENYUT lebih cepat, nyaris bersemangat, seperti sesuatu yang sudah lama sekali menahan napas.

PUSPA ASIH

Yang itu nyaris lolos sendiri. Dua kali. Ia tak mau lagi jadi rahasia.

WIRA menempelkan telapak tangannya rata di situ, menguji, tidak berkomitmen. Segel itu tak menunggu ritual penuh. Ia RETAK seketika, bersemangat, sebuah retakan halus menjalar sebelum ia sempat menarik tangannya.

Jauh di atas, di dunia fana: seorang dewa cuaca yang sedang ritual di atas Laut Cina Selatan, tiga abad dalam ramalan badai tanpa cela, tiba-tiba MERAGUKAN dirinya untuk pertama kali sepanjang keberadaannya — dan membelokkan topan empat derajat dari jalur pastinya.

Topan itu luput dari armada nelayan yang tadinya pasti terhantam. Ia juga menyerempet sebuah desa pesisir yang tak pernah diperingatkan, karena selama tiga ratus tahun tak ada yang PERLU memperingatkan; sang dewa tak pernah salah.

RADEN JINAR

(membaca laporan yang baru tiba, pucat)

Banjir kecil. Pesisir Sarawak. Tak ada korban jiwa. Tapi sudah dimulai — setiap dewa yang dulu yakin kini, untuk pertama kalinya, mampu ragu. Dan keraguan punya cuaca.

WIRA menatap tangannya sendiri.

WIRA

Aku nggak bermaksud membuka yang itu dulu.

PUSPA ASIH

Kau tak perlu bermaksud. Itulah arti ketaksempurnaan. Selamat datang di dalamnya.

“HAK MENOLAK KAHYANGAN.” Di bawah kata-kata itu, ukiran samar — ratusan nama, nama-nama fana, masing-masing seseorang yang pernah mencoba berkata tidak dan dibatalkan.

RADEN JINAR

Setiap jiwa yang pernah menolak kenaikan, berkah, takdir. Kahyangan menyimpan catatannya. Kahyangan tak suka dibilang tidak.

“DEMOKRASI DI ANTARA PARA DEWA.” Segel ini hangus di tepinya, seperti ada yang mencoba membakar jalan keluar dan gagal.

“PERTANYAAN TANPA JAWABAN.” WIRA meraih yang satu ini secara naluriah. Raden Jinar menangkap pergelangan tangannya, lembut tapi tegas.

RADEN JINAR

Jangan yang itu. Jangan hari ini. Sebagian pertanyaan disegel karena jawabannya berbahaya. Yang itu disegel karena TAK ADA jawabannya, dan kahyangan tak pernah belajar duduk bersama hal itu.

GAGAK SETA

Oh, aku ingat waktu mereka menyegel yang itu. Tiga ribu tahun lalu. Persis setelah aku menolak sujud. Lima ratus tahun di bawah gunung. Ternyata, mempertanyakan sistem lebih buruk daripada menghancurkan desa atau mencuri buah keabadian. Yang itu cuma KEJAHATAN. Yang ini BIDAH.

WIRA berhenti berjalan.

Memandang ratusan segel yang terentang ke dalam gelap.

WIRA

Semua gagasan ini. Disegel karena bikin kahyangan nggak nyaman.

PUSPA ASIH

Kebanyakan, ya. Bidah-bidah kecil. Percakapan yang tertunda.

Ia berjalan melewatinya, lebih dalam.

Ruang itu menyempit di sini, langit-langit merendah hingga Raden Jinar harus menunduk.

Denyut dinding makin LAMBAT semakin dalam mereka turun, seolah mereka melewati bidah-bidah yang lebih baru menuju sesuatu yang cukup purba hingga sudah lama berhenti meronta.

Di dasar paling bawah — segel tertua dan terdalam ruangan itu.

Bukan ukiran dinding seperti yang lain.

Sebuah PINTU, tertutup rapat dengan aksara yang begitu terkikis waktu dan beban sehingga nyaris tak menonjol dari batu, lebih terasa daripada terbaca, seperti huruf braille yang dibiarkan kehujanan selama tiga ribu tahun.

WIRA mengulurkan tangan.

Menelusuri alurnya dengan dua jari, seperti menelusuri bekas luka untuk memeriksa apakah masih sakit.

“TITAH AGUNG ADALAH DUSTA”

Ia menatap.

Tangannya gemetar — bukan tepatnya karena takut.

Karena pengenalan.

Seperti membaca diagnosis yang sudah ia curigai.

WIRA

Ini… ini apa?

Hening berat. Akhirnya, PUSPA ASIH berbicara:

PUSPA ASIH

Segel tertua. Hal pertama yang dikunci Sang Penguasa Langit yang pertama. Isinya: titah itu tak pernah ilahi. Ia DIPILIH. Disepakati. Sebuah kontrak antara dewa dan fana yang menjadi dogma lewat pengulangan. Kahyangan memerintah karena manusia MENGIZINKANNYA memerintah. Bukan karena ditakdirkan kosmos. Dan begitu manusia menarik persetujuan itu —

WIRA

Seluruh sistem runtuh.

RADEN JINAR

Sekarang kau mengerti kenapa ini disegel lebih dulu. Kenapa dikubur paling dalam.

SAMUDRA AJI

Makanya kau JANGAN membukanya. Ada kebenaran yang terlalu berbahaya —

WIRA

Nggak. Kebenaran yang berbahaya tetaplah KEBENARAN. Dan aku lebih memilih membangun di atas fondasi yang jujur daripada kebohongan yang indah.

SAMUDRA AJI

(sesuatu dalam dirinya terlepas)

Kau pikir aku tak tahu itu? Dulu aku PERCAYA pada titah itu. Sungguh. Bukan seperti cara dewa-dewa istana ini percaya, seperti kau percaya sebuah formulir harus diisi dengan benar. Aku percaya sebuah sungai bisa diatur oleh kepastian. Hukum mutlak. Tak ada banjir tanpa peringatan, tak ada kemarau tanpa sebab, semuanya diputuskan lebih dulu supaya tak ada lagi desa yang membangun di tanah yang diam-diam masih dimiliki sungai.

Ruang itu menjadi sangat hening.

SAMUDRA AJI

Empat ribu tahun lalu — jauh sebelum keruntuhan Ki Yuwenda, jauh sebelum siapa pun di ruangan ini terpikir mempertanyakannya — aku menegakkan kepastian itu pada sungaiku sendiri, persis seperti yang dituntut titah. Titah itu jauh lebih tua dari tiga ratus tahun, Wira.

Ia hanya gagal terhadap manusia dengan diam-diam selama sebagian besar waktunya, dan lantang hanya sekali dua kali ketika mereka yang punya takhta terpaksa memperhatikan.

Sebuah desa dibangun di tempat yang kularang, karena ketidaktahuan, bukan niat jahat. Titah menuntut konsistensi di atas belas kasih. Aku tak bisa membuat pengecualian tanpa melemahkan hukum bagi setiap sungai lain yang bergantung padanya.

Suaranya tak meninggi. Hanya menjadi sangat datar, seperti duka lama.

SAMUDRA AJI

Aku menenggelamkan mereka. Semuanya. Karena titah bilang kepastian tak boleh menekuk, bahkan sekali pun, bahkan untuk anak-anak yang tak berbuat apa-apa selain lahir di tempat yang salah. Empat ribu tahun aku berada di bawah air sejak itu, mencoba mencari tahu apakah itu keadilan atau hanya pertama kalinya aku keliru menyangka kepatuhan sebagai kebajikan.

WIRA tak berkata apa-apa untuk waktu lama.

WIRA

(pelan)

Aku turut menyesal.

SAMUDRA AJI

Jangan menyesal. Berhati-hatilah. Persetujuan tak otomatis lebih baik hati daripada kepastian. Ia hanya berbahaya dengan cara berbeda. Setidaknya katakan kau paham itu sebelum kau menghancurkan tembok terakhir antara kami dan mencari tahu dengan cara yang pahit.

WIRA

Aku paham. Dan aku tetap melakukannya. Karena aturan yang tak pernah boleh menekuk akhirnya akan menenggelamkan desa yang tak pantas ditenggelamkan. Dengan cara ini, kalau kita salah, itu kesalahan KITA, dibuat dengan mata terbuka — bukan kesalahan sebuah hukum, dibuat tanpa mata.

Samudra Aji menatapnya lama. Tak membantah lagi. Hanya mengangguk, sekali, izin letih dari seseorang yang kehabisan peringatan yang lebih baik.

WIRA

Mungkin. Atau mungkin aku akan memberi kahyangan kesempatan menjadi apa yang SEHARUSNYA ia jadi. Bukan kediktatoran ilahi, tapi pelayanan. Sebuah pilihan. Sesuatu yang orang INGINKAN, bukan sesuatu yang mereka TAHAN.

Ia memejamkan mata. Meletakkan tangannya di segel.

Ia tak melakukannya segera. Untuk waktu yang lama, tak ada yang terjadi sama sekali — hanya ketakutan seorang enam belas tahun yang mengenakan wajah dua puluh empat tahun, dan ruangan penuh dewa serta duka seorang dewa sungai yang tenggelam, menunggu apakah ia sungguh akan melakukannya.

Raden Jinar tak mendesaknya. Puspa Asih tak mendesaknya. Di suatu tempat di atas mereka, kahyangan sendiri seakan menahan apa pun yang pantas disebut napasnya.

Lalu WIRA mengembuskan napas, pelan, dan berbicara.

WIRA

Aku mengakui bahwa Titah Agung bukan hak ilahi. Ia sebuah kontrak. Dan kontrak membutuhkan PERSETUJUAN dari kedua belah pihak. Kahyangan melayani atas kehendak mereka yang diperintahnya. Bukan sebaliknya.

Segel itu MELEDAK. Bukan dengan kekerasan. Dengan WAHYU.

Awalnya tak ada suara.

Hanya sebuah TEKANAN, seperti ketika sebuah ruangan berubah saat seseorang akhirnya mengatakan hal yang selama ini dihindari semua orang.

Lalu pintu itu bukan terbuka melainkan MENGAKUI bahwa ia sebenarnya tak pernah terkunci — retakan halus berlari di permukaannya seperti es yang retak, dan di baliknya: bukan kegelapan.

Tiga ribu tahun keheningan yang menumpuk, mengembuskan napas.

CAHAYA membanjiri ruangan, emas menuju putih, begitu terang hingga Raden Jinar menutupi wajah dengan lengan.

Ia tak berhenti di dinding.

Ia MENEMBUSNYA, menembus istana itu sendiri, naik melalui lapisan-lapisan kenyataan yang tak pernah dirancang untuk bisa ditembus.

Di SELURUH kahyangan, setiap dewa mendadak diam sekaligus — cangkir berhenti di tengah jalan menuju bibir, kuas tergantung di atas kaligrafi setengah jadi, sebuah tangan membeku di tengah gerak dalam pertengkaran yang tak akan ada yang ingat mulainya.

Selama satu detik penuh, seluruh birokrasi surgawi sekadar BERHENTI.

Lalu semuanya pecah.

Beberapa MENJERIT — suara tinggi dan tipis, suara menyaksikan dinding penopang identitasmu sendiri ambruk.

Yang lain TERTAWA, sungguh-sungguh, tak berdaya, tawa seorang tahanan yang sadar pintu itu tak pernah terkunci.

Seorang dewa tua di pelataran luar duduk berat di sebuah bangku marmer dan sekadar menangis, karena alasan yang bahkan ia sendiri tak bisa ungkapkan.

Dan di dunia fana, dua belas dimensi jauhnya dari semua ini: seorang komuter di metro Shanghai mengembuskan napas, lebih panjang dari yang seharusnya sanggup ia tarik.

Seorang pria di Lagos melepaskan kepalan yang tak ia sadari telah ia genggam selama empat puluh tahun hari Minggu.

Di seribu kota, pada detik yang sama persis, orang-orang menengadah ke arah ketiadaan — ke langit-langit, ke lampu lalu lintas, ke tangan mereka sendiri — dan tak bisa mengatakan kenapa, hanya bahwa sesuatu, di suatu tempat, baru saja berhenti berpura-pura.

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)