GEMA SANG PENGUASA LANGIT
2. JEMBATAN
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

INT. PUSAT OPERASI JALINAN - BERLANJUT

Kekacauan terkendali.

Seratus operator di stasiun-stasiun holografik.

Layar-layar menunjukkan PEMUDARAN menyebar seperti kanker ke seluruh distrik Jakarta.

LAYAR UTAMA menampilkan hitungannya dengan telanjang:

Radius Dampak: 17,3 juta. Waktu Menuju Kegagalan Berantai: 04:47… 04:46… 04:45…

PELANGGARAN SEKUNDER GLOBAL: 212 DAN TERUS NAIK.

BAGHDAD, IRAK: STRUKTUR HILANG.

DOHA (THE PEARL), QATAR: STRUKTUR HILANG.

Di konsol tengah: WIRA.

Enam belas tahun.

Berpostur kecil.

Kacamata dililit selotip di bagian tengah.

Tas sekolah masih di bahunya — ia sedang dalam perjalanan pulang saat sirene meraung.

Tangannya GEMETAR di atas kendali holografik yang merespons kesadaran, bukan sentuhan.

Seharusnya ia bahkan tidak berada di sini.

Protokol darurat merekrut setiap warga sipil yang punya potensi psionik laten.

Ia hanya mendapat skor 3 dari 100 dalam tes. Nyaris tak cukup.

Di sekelilingnya: PARA INSINYUR JALINAN.

Berpengalaman puluhan tahun.

Satu orang mengetik pesan, menghapusnya, mengetiknya lagi.

Seorang lagi melepas cincin kawinnya dan meletakkannya di konsol, tempat benda itu kelak akan ditemukan.

Menempel di dinding belakang, menyingkir dari jalan semua orang tapi menolak pergi: SUSANTI (30-an), staf penghubung junior dari Kementerian, ada di sini karena harus ada perwakilan pemerintah, dan ia kebagian undian paling sial delapan menit sebelum langit menjerit.

OPERATOR #1

Segel kuantumnya tidak akan bertahan! Kita sudah di 97% kegagalan berantai —

OPERATOR #3

(tanpa menoleh)

Baghdad hilang dalam sembilan puluh detik. The Pearl kurang dari semenit. Tak ada yang menyegelnya. Kita tidak punya jangkar dalam jangkauan.

SUSANTI

(menemukan suaranya)

Kalau begitu Jakarta tidak boleh dapat alasan itu. Perbaiki.

Ia sudah menekan nomor. Saluran langsung Kementerian. Berdering tanpa jawaban. Ia mencoba ponsel Wakil Menteri. Kotak suara. Ia mencoba direkturnya sendiri. Tak ada. Semua orang yang bisa mengambil keputusan ini untuknya sedang tidur, atau di bunker, atau sekadar tak terjangkau pukul 2 pagi pada malam ketika langit menjerit. Ia menurunkan ponselnya. Menyadari, dengan ngeri yang perlahan merayap, bahwa apa pun yang terjadi di ruangan ini dalam sepuluh menit ke depan, DIALAH catatan resmi pemerintah tentangnya. Tak ada atasan yang akan datang.

KEPALA INSINYUR

Kami TAHU. Seseorang harus menyegelnya. SEKARANG.

Hening. Tak ada yang bergerak. Mereka semua tahu apa arti “menyegel”.

OPERATOR #1

Pak, untuk menyegel distorsi magnitudo 8,7 dibutuhkan jangkar yang sadar. Tersebar di ketujuh titik jalinan. Tekanannya akan memecah pikiran manusia menjadi —

Ia tak sanggup menyelesaikannya.

KEPALA INSINYUR

(pelan, kepada Susanti, sebuah pengakuan yang akan ia sesali)

Kami sudah mencobanya sejam lalu. Insinyur sukarelawan. Empat puluh satu tahun, dilatih khusus untuk ini. Tiga titik jalinan, bukan tujuh — kami kira segel parsial bisa mengulur waktu.

Ia tak menatap siapa pun.

KEPALA INSINYUR

Sekarang ia di ruang medis. Ia tidak tahu namanya sendiri. Profil tekanan untuk tujuh titik lebih buruk. Jauh lebih buruk. Itu sebabnya tak ada yang mau jadi sukarelawan di sini. Mereka sudah MELIHAT harganya.

Kepala Insinyur menyapu ruangan dengan pandangan.

Tak ada yang mendongak.

Tak seorang pun.

Lalu — sebuah suara kecil:

WIRA

(nyaris tak terdengar)

Aku bisa.

Semua menoleh.

WIRA

Aku… aku bisa melakukannya.

KEPALA INSINYUR

Nak, kamu nggak ngerti apa yang kamu tawarkan —

WIRA

Tujuh belas juta orang.

Ia menatap layar-layar.

WIRA

Mama lagi di Sumatra, jenguk saudara. Nenekku di kawasan pelabuhan.

Suara neneknya BERDERAK lewat sistem komunikasi.

Ia sudah mendengarkan sejak tadi.

NENEK (V.O.)

WIRA. JANGAN. Jangan dengarkan mereka. Kamu baru enam belas tahun —

WIRA

Nggak kalau Jakarta gagal.

Ia menatap Kepala Insinyur. Mantap sekarang. Sudah memutuskan.

WIRA

Kasih tahu caranya.

Di dinding belakang, SUSANTI menyaksikan seorang anak enam belas tahun dengan tas sekolah setuju menghilang supaya tujuh belas juta orang asing tak perlu menghilang. Ia tidak berkata apa-apa. Tak ada yang seperti ini dalam uraian tugasnya. Tapi ia mengeluarkan ponselnya dan menuliskan nama anak itu, supaya seseorang yang resmi, di suatu tempat, ingat bahwa itu pernah diucapkan keras-keras di ruangan ini.

Ia masih menyimpan catatan itu, delapan tahun kemudian. Ia tak pernah sekali pun perlu melihatnya untuk mengingat.

BEBERAPA SAAT KEMUDIAN

Kepala Insinyur membuka skema.

Tujuh titik berpendar tersusun mengelilingi pelabuhan.

Tujuh jangkar kuantum yang membutuhkan kesadaran serentak.

KEPALA INSINYUR

Kamu akan terpecah. Tujuh keping. Masing-masing menjaga satu titik segel. Kesadaranmu akan terentang sejauh berkilo-kilometer. Kamu akan mengalami semuanya sekaligus. Kamu akan merasakan setiap orang yang terperangkap. Setiap detiknya. Selamanya.

WIRA

Apa aku masih… jadi aku?

Kepala Insinyur ragu. Berbohong akan lebih baik hati. Tapi ia bukan orang yang baik hati.

KEPALA INSINYUR

Aku tidak tahu.

WIRA mengangguk.

Ia melepas tas punggungnya.

Meletakkannya dengan hati-hati di atas konsol.

Lewat ritsleting yang terbuka kita melihat: PR untuk ulangan matematika besok; setengah roti isi; novel fiksi ilmiah tentang kontak pertama; ponselnya, baterai 3%, dengan pesan dari teman soal rencana nonton hari Jumat; sebuah foto — neneknya dan dirinya, Lebaran tahun lalu, keduanya tersenyum, tangan nenek di bahunya.

Ia meninggalkan tas itu.

Tangannya bergerak ke konsol.

Bukan menekan tombol.

MELEBUR ke dalamnya.

Jemarinya menjadi tembus pandang.

Lalu telapak tangannya.

Lalu lengannya.

NENEK (V.O.)

(menjerit)

WIRA, BERHENTI —

WIRA

(tersenyum di balik air mata)

Sayang Nenek. Bilangin Mama maaf soal ulangan matematikanya.

Ia menarik napas. Dan LARUT.

Kesadarannya RETAK — satu anak enam belas tahun menjadi tujuh kepingan serentak, masing-masing melesat lewat saluran kuantum menuju titik jangkar di sekeliling pelabuhan.

Selama 4,7 detik yang terasa selamanya, WIRA mengalami SEGALANYA — seorang ibu menyanyikan lagu pengantar tidur, membeku di tengah nada; kata-kata terakhir seorang satpam kepada putrinya di Singapura; 127.000 orang tergantung pada benang yang cukup tipis untuk putus oleh satu pikiran.

Ia bertahan. Nyaris tak sanggup.

Ia MENJERIT di tujuh lokasi sekaligus.

Suara sebuah pikiran yang mencabik dirinya sendiri.

Dan segel-segel itu MENGUNCI RAPAT.

KARTU JUDUL: “JEMBATAN ITU BERTAHAN. 17,3 JUTA SELAMAT. WIRA, 16 TAHUN, MASIH MENAHANNYA.”

INT. PUSAT OPERASI JALINAN - BERLANJUT

Tubuh WIRA duduk di konsol.

Kosong.

Bernapas.

Ada.

Tapi ia tidak di sana.

KEPALA INSINYUR

Dia berhasil. Dia menjadi Jembatan.

Sang nenek MENJERIT lewat sistem komunikasi. Bukan kata-kata. Hanya suara.

KEPALA INSINYUR

Di mana-mana. Dan tak di mana pun.

EKS. PELABUHAN JAKARTA - FAJAR

Matahari terbit di atas sebuah kota yang terselamatkan.

Dan di kawasan pelabuhan: tujuh ratus ribu orang.

Membeku.

Menunggu.

CUT KE HITAM.


Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)