Flash Fiction
Disukai
2
Dilihat
9
SONDER
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Kau pikir dirimu pusat semesta. Wajar. Setiap manusia dilahirkan dengan ilusi itu—bahwa dunia berputar mengelilingi luka dan bahagiamu, bahwa orang-orang di sekitarmu hanya figuran yang muncul untuk menopang ceritamu, lalu menghilang begitu adegan berganti.

Tapi coba berhenti sejenak. Lihat sekelilingmu.

Perempuan yang menyeberang di lampu merah itu, dengan tas belanja di kedua tangan—semalam ia menangis di kamar mandi supaya anaknya tidak dengar, karena suaminya pergi tanpa kabar tiga hari, dan ia belum tahu harus bilang apa pada anak itu besok pagi.

Lelaki tua yang duduk sendirian di warung kopi, menyeruput kopi yang sama setiap hari selama sepuluh tahun—dulu ia duduk berdua, selalu berdua, sampai kursi di depannya kosong sejak istrinya pergi, dan kini kopi itu satu-satunya rutinitas yang membuatnya merasa masih ada alasan bangun pagi.

Bapak yang mengendarai motor pulang larut malam itu, helmnya sudah retak di beberapa sisi—ia tidak tidur nyenyak sejak enam bulan lalu, bukan karena insomnia, tapi karena setiap malam kepalanya sibuk menghitung: besok ada proyek atau tidak, besok anaknya masih bisa bawa bekal atau tidak. Ia tersenyum lebar setiap pulang ke rumah, memeluk anaknya yang berlari menyambut di depan pintu, menyembunyikan hitungan-hitungan itu rapat-rapat di balik tawa. Sebab satu-satunya hal yang lebih berat dari lapar itu sendiri adalah membiarkan anaknya tahu bahwa bapaknya sedang takut.

Tukang ojek online yang berhenti di pinggir jalan itu, memeriksa ponselnya berkali-kali menunggu notifikasi orderan yang tak kunjung datang—sudah tiga jam, baru satu kali antar, cukup untuk beli bensin, belum cukup untuk cicilan motor bulan ini. Ia mengecek saldo aplikasinya sambil menahan lapar yang sudah dari siang tak sempat diurus, sambil menghitung ulang: kalau nanti malam masih sepi, apa yang harus ia bilang pada istrinya yang sedang hamil delapan bulan. Ia tersenyum ramah pada setiap penumpang yang naik, mengucap "hati-hati, Kak" dengan tulus yang mengherankan—seolah keramahan itu satu-satunya kekayaan yang masih bisa ia bagikan dengan cuma-cuma.

Pedagang gorengan di pojok gang itu, yang menggoreng adonan yang sama sejak subuh, menghitung setiap keping uang receh yang masuk ke kaleng bekas cat—bukan karena serakah, tapi karena setiap seribu rupiah adalah satu langkah lebih dekat pada uang sekolah anaknya yang menunggak dua bulan. Ia tertawa keras setiap kali pembeli bercanda dengannya, tawa yang jujur, karena ia sudah lama belajar satu hal: tawa itu gratis, dan kadang satu-satunya kemewahan yang tersisa untuk dibagikan kepada dunia.

Dan pria berjas mahal yang keluar dari mobil mengkilap di depan gedung tinggi itu—jangan buru-buru menyangka hidupnya ringan. Ia punya segalanya yang orang lain kejar seumur hidup: rumah besar, tabungan yang tak akan habis tujuh turunan, nama yang disebut hormat di mana-mana. Tapi malam-malamnya kosong dengan cara yang berbeda. Anak-anaknya sudah lama berhenti menunggunya pulang, karena ia terlalu sering pulang setelah mereka tidur. Istrinya sudah lama berhenti bertanya kabar, karena jawabannya selalu sama: sibuk. Ia punya segalanya, kecuali seseorang yang benar-benar menunggu suara pintu terbuka dengan rindu, bukan basa-basi.

Lucunya, kekayaan dan kemiskinan ternyata bertemu di satu titik yang sama: keduanya bisa membuat seseorang merasa sendirian dengan cara yang berbeda tapi sama telaknya.

Dan di luar semua yang sudah disebutkan di sini, ada jutaan beban lain yang bahkan tak sempat terangkai jadi kalimat di halaman ini. Ada yang setiap pagi harus meyakinkan diri sendiri untuk sekadar bangun dari tempat tidur, tanpa ada yang tahu betapa beratnya itu. Ada yang duduk di ruang tunggu rumah sakit, menghitung waktu, menunggu hasil yang menentukan arah sisa hidup seseorang yang dicintainya. Ada yang menyimpan rahasia tentang dirinya sendiri bertahun-tahun, takut dunia akan berhenti mencintainya begitu rahasia itu terungkap. Ada yang setiap malam berperang dengan pikirannya sendiri, dengan suara-suara di kepala yang tak seorang pun dengar selain dirinya. Ada yang kehilangan seseorang tanpa sempat berpamitan, dan ada yang justru terjebak bersama seseorang tanpa bisa pergi. Semua itu, dan ribuan bentuk lain yang bahkan tidak punya nama—terlalu personal, terlalu tersembunyi, terlalu unik pada satu jiwa untuk pernah bisa dirangkum tuntas oleh siapa pun, termasuk oleh tulisan ini.

Tidak ada tangga untuk mengukur siapa yang lebih layak menangis. Beratnya berbeda-beda bentuknya—ada yang berupa perut kosong, ada yang berupa rumah yang penuh tapi terasa kosong, ada yang berupa kursi yang tak lagi terisi, ada yang berupa mimpi yang ditahan demi orang lain, ada yang bahkan tak sempat tersebutkan di sini. Tapi bagi yang memanggulnya, semua beban itu, dalam skala masing-masing, terasa sebesar dunia. Tak ada yang berhak berkata "punyaku lebih berat darimu"—karena luka tidak ditimbang dengan neraca yang sama untuk semua orang.

Ini bukan untuk mengecilkan lukamu. Ini untuk mengingatkan: kau tidak pernah benar-benar sendirian dalam merasa sendirian.

Setiap orang yang lewat di depanmu hari ini sedang berperang dengan sesuatu yang tidak kau lihat. Setiap senyum yang mereka lemparkan mungkin dipaksakan menembus badai yang sedang mereka sembunyikan rapat-rapat. Dan kau—ya, kau juga—adalah orang asing bagi ribuan orang lain yang lewat di sisimu, yang tidak pernah tahu bahwa malam-malammu tidak seringan yang terlihat dari luar.

Maka inilah penegasan yang ingin disampaikan, sekali ini, dengan jujur:

Kau bukan tokoh utama satu-satunya. Tapi kau juga tidak pernah menjadi figuran.

Kau adalah pusat semesta bagi dirimu sendiri, dan sekaligus hanya sebaris kalimat singkat dalam semesta orang lain—dan dua hal itu, anehnya, sama-sama benar, sama-sama layak dihormati.

Sebab pada akhirnya, si bapak yang menghitung uang bensin, si pedagang yang menghitung keping receh, si pria berjas yang menghitung hari sejak terakhir kali anaknya memeluknya dengan tulus, dan setiap orang lain yang bebannya bahkan tak sempat tertulis di sini—mereka semua, tanpa saling kenal, tanpa pernah bertegur sapa, sedang mendaki gunung yang sama: gunung bernama ingin dilihat, ingin cukup, ingin dicintai dengan cara yang terasa nyata.

Kalian semua tidak pernah bertemu.

Tapi malam ini, di bawah langit yang sama, kalian sedang saling menopang tanpa pernah tahu—

sebab begitulah caranya semesta menjaga keseimbangan: dengan menyebarkan luka yang sama ke jutaan dada yang berbeda, supaya tidak ada satu orang pun yang benar-benar harus memanggulnya sendirian—meski tak satu pun dari mereka pernah menyadarinya, dan meski tak satu tulisan pun, termasuk ini, akan pernah cukup panjang untuk menyebutkan semuanya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi