Disukai
5
Dilihat
3,567
Ibu, Mana Bapak?
Drama

Anak laki-laki itu berlari ketika penjaga tempat pembuangan datang, ia bersembunyi di belakang truk sampah yang baru saja tiba. Ketika dua orang dalam kursi depan truk keluar, anak kecil itu segera berlari menjauh. Beruntung! Tidak ada yang mendapatinya, kalau saja salah satu dari mereka melihat anak itu pasti dia sudah dihajar habis-habisan. Warga sekitar menolak adanya pemulung atau anak jalanan di lingkungan mereka, penolakan ini dikarenakan tindakan mereka dianggap meresahkan. Walaupun tidak ada niat buruk, tapi menurut warga anak jalanan kurang menghargai barang orang lain. Pengakuan banyak warga menyatakan ketika anak jalanan dipinjami mainan, mainan itu kembali dalam keadaan rusak. Sehingga mereka hanya memberi makan lalu meminta mereka pergi.

“Adam!” teriak seorang wanita di seberang jalan.

Anak laki-laki yang masih berlari menjauhi tempat pembuangan. Melihat ibunya memanggil di seberang jalan, ketakutan di wajahnya mereda. Anak itu memperhatikan kanan dan kiri, memastikan tidak akan ada kendaraan yang melintas saat dia berlari. Ia berlari menuju ibunya dan langsung memeluknya. Wanita itu mengusap-usap kepala Adam, ia menenangkan Adam lalu menunjukkan nasi bungkus yang ia bawa. Mereka saling tersenyum bersama lalu mendekati pohon rindang untuk memakan nasi bungkus. Walau hanya sebungkus tapi mereka terlihat bahagia memakan nasi itu bersama. Pakaian mereka sama-sama lusuh dan sedikit compang-camping.

***

Malam itu, Asri masih mondar-mandir di ruang tamu yang gelap. Sebagian lampu memang sudah dimatikan karena sudah mendekati tengah malam. Dengan perut buncit sembilan bulannya, ia sesekali mengintip ke teras rumah. Hingga saat ini belum nampak tanda-tanda suaminya pulang, ia sudah sangat lelah dan terlampau lelah untuk terus menunggu. Kegelisahannya semakin menjadi-jadi, ia berjalan mendekati kursi tamu yang menghadap ke pintu. Asri menempatkan badannya dengan hati-hati lalu bersandar pada sandaran kursi setinggi kepalanya. Asri mengistirahatkan badannya, mengusap-usap perutnya dan tak lama ia terlelap dengan posisi duduknya.

Jam sudah menunjukkan tengah malam, suara mobil memasuki halaman. Suara itu cukup terdengar namun tidak sampai membangunkan tidur Asri. Pintu mobil terbuka, seorang pria berpakaian rapi keluar. Ia berjalan menuju pintu rumah, ia sempat mengecek smartphone-nya tapi ia memasukkan kembali ke dalam saku. Pria itu melepas dasi di lehernya lalu memegang gagang pintu, ia sedikit terkejut. Ternyata pintu itu belum terkunci lalu ia membukanya. Dari luar, pria itu melihat isterinya tertidur di sofa. Hal ini sedikit membuatnya tegang akan kondisinya dan kandungannya.

Pria itu berjalan masuk ke dalam, ia mendekati istrinya. Ia menunduk sejenak lalu membelai halus rambut Asri dengan senyum kecil di wajahnya.

"Masih sama, seperti 10 tahun lalu saat pertama kita bertemu." Razif tersenyum.

Pria itu mencium kening Asri, ciuman itu membuat Asri sedikit terbangun. Namun pria itu tidak menyadarinya, ia lalu berjongkok membelai perut buncit Asri. Tak lupa ia juga mencium perut itu dengan senyum penuh kasih sayang.

"Razif." Asri terbangun.

"Maaf, kamu terbangun. Ayo masuk, disini dingin."

Pria itu menggandeng Asri pelan menuju kamar.

***

Adam, dia masih berusia lima tahun. Di siang hari yang terik ia bermain di sebuah tanah lapang bersama anak-anak yang pakaiannya tidak jauh berbeda dengan pakaian lusuh yang dikenakannya. Mereka bermain sepak bola, ketika matahari mulai tenggelam mereka beristirahat. Beberapa dari mereka meminum air kran untuk melepas dahaga begitu pula Adam. Mereka berkumpul di tengah lapangan lalu saling bercerita. Beberapa dari mereka merebahkan badan di tanah ini.

“Kemarin bapakku dapat sepatu bola, masih bagus! Di tempat pembuangan yang ujung komplek perumahan. Tapi masih kebesaran bila ku pakai jadi bapak simpan buat aku nanti.” Ucap salah satu anak.

“Kalo bapakku kemarin belikan sate buat kita makan sama-sama ibuk dan adikku.” Anak lain menambahkan.

“Bapakku, dia tidak pulang kemarin gak tau kemana.” Ucap Arul

Adam hanya diam di belakang memperhatikan, ia terlihat kebingungan mendengar percakapan teman-temannya. Hari menjelang sore, Adam pulang bersama Arul. Arul merupakan anak tertua dalam kelompok ini, usianya sekitar 10 tahun. Mereka tidak tahu pergi kemana, mereka hanya berjalan sampai bertemu ibu mereka. Ya! Mereka semua tunawisma.

“Arul, bapak itu apa?” tanya Adam.

“Bapak tu ya bapak. Masa kau tak punya bapak?” Jawab Arul

Adam hanya menggeleng.

“Coba tanyak ibukmu mana bapakmu. Aku juga selalu tanya ibuk.” Arul melihat seorang wanita bertopi membawa karung rosok besar lalu berteriak “IBUK”

Setelah ibunya menoleh, Arul melihat ke Adam “Nah itu ibuk aku, aku pergi dulu. Nah kau tanyalah ke ibukmu.”

Adam terdiam, ia masih kebingungan. Kali ini ia tidak menunggu ibunya, Adam memutuskan menyusuri sekitar tempat untuk mencari ibunya. Arul sudah tidak terlihat, Adam berjalan sendirian.

***

Tengah malam, Razif memegangi tangan isterinya yang terbaring di atas tempat tidur pasien. Dua orang perawat menodorong tempat tidur itu menuju kamar bersalin. Isterinya merintih kesakitan, kamar bersalin sudah dekat tiba-tiba saja isteri Razif hilang kesadaran. Razif berusaha sebisa mungkin menyadarkan isterinya namun tidak berhasil. Memasuki kamar bersalin, Razif memegangi tangan isterinya semakin erat.

“Asri!” Razif berusaha membangunkan isterinya.

Dalam ruang bersalin ini tidak ada tanda-tanda kesadaran dari Asri, jantungnya dan janinnya masih berdetak. Razif masih berusaha menyadarkan isterinya, keringatnya menetes semakin banyak. Mata Razif mengembun, ia tidak bisa mempercayai ini. Razif hilang kendali, dia lemas dalam tangisnya. Perawat dan dokter bersalin di ruangan ini berusaha menenangkan Razif dengan membawa Razif mundur menjauhi bed partus.

Tak berapa lama, dokter mengambil tindakan casear. Beberapa jam Razif menunggu diluar dengan penuh kecemasan matanya nampak lelah. Razif tidak bisa tenang, ia mondar-mandir di depan pintu. Hingga dini hari, akhirnya dokter keluar dari ruang operasi. Wajahnya penuh keringat, ia menatap Razif sejenak lalu menggelengkan kepala, Razif makin cemas. Dokter berjalan kembali masuk ke ruangan, diikuti Razif di belakang. Salah satu perawat tersenyum kecil menujukkan bayi lucu menggemaskan kepadanya.

“Selamat Pak, anak anda perempuan.” Ucap perawat itu.

Razif menerima anak perempuannya lalu menggendongnya, ia terharu hingga meneteskan air mata. Ia memejamkan mata sejenak, lalu terbesit dalam benaknya.

“Istri saya?” Razif sedikit terpekik.

Razif menatap perawat di depannya tetapi perawat itu diam, lalu Razif menatap dokter tapi dokter itu menggelengkan kepala.

“Maaf Pak, Istri anda tidak bisa kami selamatkan” Ucap dokter itu melangkah mendekati Razif lalu memegangi bahu Razif.

Di depannya, Razif menyaksikan tubuh istrinya di tutup kain putih. Ia menghentikan salah satu lengan perawa. Ia mendekati isterinya lalu memeluk dan menciumi jasad istrinya. Ia menangis sejadi-jadinya, menggenggam erat selimut yang akan ditutupkan ke tubuh yang sudah tidak bernyawa itu. Razif seraya menolak kenyataan. Mata Razif memerah, hampir saja ia berteriak namun dihentikan oleh dokter. Ia kembali menatap bayi perempuannya.

“Bibirnya semanis bibir ibunya, wajahnya rupawan persis seperti ibunya.” Razif terduduk lesu.

Razif benar-benar tidak berdaya saat itu, ia benar-benar menantikan saat-saat ini sejak 10 tahun lamanya. Kini, ia sudah menikahi wanita impiannya namun begitu malang setelah melahirkan anak mereka, wanita itu pergi untuk selamanya. Mereka sama-sama sebatang kara hanya saja kehidupan Razif sudah lebih baik untuk bisa membangun keluarga dengan Asri.

***

"Terus, kenapa sekarang berhenti?" Tanya seorang wanita di samping Ibu Adam.

Sore ini sangat terik, Ibu Adam dan seorang lagi yang sama-sama pemulung sedang duduk beristirahat di trotoar di bawah pohon rindang. Ibu Adam terdiam, ia belum menjawab pertanyaan wanita di sampingnya.

"Kan, sekarang udah ada Adam." Jawab Ibu Adam, ia tersenyum kecil.

"Tapi itu bukan alasan kau berhenti, kau berhenti sebelum hamil Adam katamu"

"Ah" Ibu Adam menarik napas dalam-dalam "Dulu, bapak Adam mau nikahin aku, dia belum melamarku. Malam itu dia menginap di kos tempat tinggalku, esok paginya dia sudah tidak ada. Itu pertemuan terakhir kita. Tiga bulan setelahnya aku baru tau ternyata aku hamil. Tapi bapak Adam tidak pernah menemuiku lagi"

Mereka berdua terdiam, wanita di sebelah Ibu Adam tidak bisa berkata-kata.

"Bapak Adam, apa dia juga pelagganmu dulu?" Tanya wanita itu

"Iya, dia langganan sejak setahun terakhir" Jawab Ibu Adam

Hari menjelang malam mereka meninggalkan tempat itu, lalu mencari anak mereka masing-masing.

***

Rumah Razif terasa sepi, ia sedang terduduk lesu di teras rumahnya. Tak lama, ia dikejutkan dengan tangisan anaknya. Dengan cepat, Razif berlari ke dalam rumah. Ia langsung menuju kamarnya lalu menggendong anaknya. Ia meminumkan susu formula namun bayinya tetap menangis, lalu ia mengecek pampersnya. Pampers itu terpasang berantakan, dan dalam keadaan masih kering, Bayinya tetap menangis. Razif kebingungan harus berbuat apa, ia menggendong bayinya keluar rumah. Bayi itu sedikit lebih tenang, wajah Razif kini terlihat sangat muram.

Hari semakin sore, Razif masih menimang-nimang bayinyanya namun bayinya tidak kunjung tertidur. Razif semakin kebingungan, namun setidaknya tangis banyinya mulai reda. Lalu ia membawa bayinya masuk. Bayi itu menangis lagi, Razif tidak berbalik membawa bayinya keluar tetapi ia masuk ke dalam kamar dan meletakkan bayi itu. Bayi itu semakin menangis. Razif nampak muak dan kelelahan, ia memukul-mukulkan kepalan tangannya ke dinding kamar. Dalam benaknya, Razif mengingat seseorang.

"Sari!"

***

Adam dan teman-temannya meminum air kran lagi, badan mereka dipenuhi keringat seusai bermain sepak bola di sore hari. Seperti biasa, mereka berkumpul di tengah lapangan, kali ini Adam merebahkan badan di tengah-tengah dan teman-temannya berada di sekeliling Adam. Arul mendekat, ia paling akhir meminum air kran sore ini. Ia duduk lalu memperhatikan Adam sejenak.

"Hei Adam. Kau sudah tanya ibukmu kah?

Adam tidak menjawab, tapi ia menggeleng.

"Tanyaklah! Masa kau tidak punya bapak. Orang-orang pasti punya bapak." Sambung Arul

"Kecuali Fikri, bapaknya sudah meninggal" Ucap salah seorang teman

"Bapak itu apa memangnya?" Tanya Adam.

***

"Lalu, kapan terakhir berjumpa dengan Bapak Adam?" Tanya wanita itu

Ibu Adam dan wanita kemarin berjalan bersama dengan karung kosong dan sebungkus nasi.

"Malam ketika dia menginap itu." Ibu Adam nampak sangat geram "Aku menghidupi Adam seorang diri, berhenti melacur dan menjual seluruh benda-benda di tempat tinggalku. Kau lihatkan sekarang hidupku seperti apa?" lanjut Ibu Adam

"Kau juga tidak dengar kabar Bapak Adam kah? kenapa tidak dicari?" Tanya wanita itu lagi

"Aku mendengar dia menikah saat Adam berusia tiga tahun, dia punya kehidupan baru, rumah baru, mobil baru. Sudahlah aku muak dengan semua itu" Ibu Adam menyeka air matanya.

***

Siang ini, Razif bersama dua teman kerjanya di rumah. Mereka terdiam menyaksikan tangisan anak Razif di kursi tamu. Bayi itu diletakkan di atas kasur yang ditempatkkan di atas meja. Razif berada di tengah dengan kedua temannya di samping kanan dan kiri. Muka Razif semakin muram, mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

"Hey, kenapa tidak kau carikan pengasuh saja?" tanya Anton

"Aku tidak mau membayarnya" Razif singkat

"Titipkan saja ke neneknya" Sahut Roni

"Mana, neneknya siapa ha? aku nggak punya orang tua, Asri juga!" Razif ketus sambil menutup telinganya.

"Lalu? Ini anakmu! mau kau gimanakan ha! kau bapaknya!" Tegas Anton

Razif hanya terdiam, begitupula teman-temannya.

"Andaikan waktu itu Asri nggak melahirkan." Razif terdiam

Tangisan bayinya semakin kencang, Anton sontak menampar Razif.

"HEH! Nggak bisa gitu! Ini anakmu! tagas Anton sekali lagi "Di luar sana banyak pasutri yang pengen punya anak tapi belum bisa. Ingat itu!" Anton semakin berapi-api

"Tenang-tenang Ton, Ini bayinya nangis. Zif lu ngapain gitu kek. Ini anakmu nangis." Roni menyenggol badan Razif

"Aku lelah!" Razif berteriak. Lalu menggendong bayinya.

***

Ibu Adam dan seorang wanita berjalan bersama, dari kejauhan mereka melihat Adam di pos kamling. Mereka berjalan mendekati pos kamling itu.

"Kenapa kau tidak melacur lagi saja?" Tanya wanita itu

"Aku berjanji untuk behenti." Ibu Adam

"Pada siapa kau berjanji?" Tanya wanita itu lagi

"Pada bapak Adam, pada diriku." Jawab Ibu Adam dengan nada datar

"Tapi kenapa? sekarang kau lihat, Adam tidak mempunyai tempat tinggal." Tanya wanita itu lagi "Atau kenapa kau tidak mempertemukannya dengan bapaknya saja?"

"Itu mustahil." Ibu Adam ketus

"Suatu saat dia pasti menanyakannya." Sahut wanita itu lagi

"Diam kau!" Ibu Adam mulai menggerutu

"Yasudah aku duluan." Wanita itu berpisah dengan Ibu Adam

Ibu Adam berjalan mendekati pos kamling. Adam tertidur di sana, ia membangunkan Adam dengan sangat halus.

“Adam!” Kali ini ibu Adam berada tepat di depannya. Ibu Adam tersenyum menujukkan sebungkus nasi kepadanya.

“Kita tidak boleh makan disini, ayo cari tempat lain.” Kata Ibu Adam

Ibu Adam berjalan menggandengnya menuju sebuah teras toko lalu menggelar beberapa kardus. Seperti biasa, tanpa mencuci tangan, mereka makan bersama nasi bungkus itu. Adam berhenti sejenak, terdiam teringat kata ‘bapak’ yang diucapkan teman-temannya.

“Ibuk, bapak itu apa?” tanya Adam.

“Sudah itu tidak usah dibahas.” Ibu Adam terdiam, ia kebingungan.

“Teman-temanku punya bapak, kenapa aku tidak? Aku boleh minta bapak kah buk? Aku juga mau punya bapak.”

“Sudahlah ibukmu ini sayang banget sama kamu” mata Ibu Adam sedikit mengembun.

“Iya, kalau begitu bapak itu apa?” Tanya Adam lagi.

Dari belakang, terdengar suara seseorang datang, seorang laki-laki dewasa berpakaian rapi menggendong bayi dan tas besar berisi perlengkapan bayi yang di tenteng. Ia terdiam melihat Ibu Adam dan Adam. Adam terdiam seraya Ibunya begitu terkejut.

"Sari," Panggil laki-laki itu kepada Ibu Adam

Ibu Adam hanya diam, ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Sari, aku mau menitip anakku. Ibunya meninggal. Boleh?” Ucap laki-laki itu.

Ibu Adam hanya diam, ia hanya menatap laki-laki itu dengan tatapan datar ada amarah dan kecewa. Mereka semua terdiam, laki-laki itu berjalan mendekat.

“Kau ingat dengan anak yang tidak kau nikahi ini tidak? Kau tau aku bunting kau malah nikahi perempuan lain! Sekarang anaknya lahir ditinggal mati ibunya kau titipkan padaku?” Sari meneteskan air mata.

“Aku tinggalkan dia disini” Laki-laki itu meletakkan bayinya di samping Ibu Adam.

“Hei Razif! Bawa balik anakmu ini. Kau saja tidak pernah memberi uang!” tatapan Ibu Adam kecewa dan beramarah.

“Ibuk.” Adam menyaut.

“KALAU KAU TANYAK BAPAK, ITU BAPAK KAU! TANYA SAJA PADA DIA APA ITU BAPAK!” Ibu Adam berteriak.

Adam ketakutan tapi ia juga tidak berani mendekati laki-laki itu. Adam menatap mata laki-laki itu. Laki-laki itu juga menatapnya, ia sempat meneteskan air mata.

"Sar! memang seberapa yakin kamu kalau ini anakku? bagaimana bisa kamu yakin itu anakku kalau pekerjaanmu saja gonta-ganti teman tidur!" Razif sedikit berteriak

Ibu Adam berdiri lalu berjalan mendekat ke Razif.

"Kau menagatakan itu seolah-olah aku wanita paling kotor! Bukanya sudah aku katakan padamu kalau aku bersamamu aku tidak dengan laki-laki lain! Aku berhenti!" Ibu Adam mulai menangis "Bahkan aku tidak melakukan itu hingga sekarang. Kau lihat!" Adam terdiam, ia mendekat lalu memeluk Ibunya.

"Itu tidak mungkin!" Razif kembali berteriak.

"Lalu bagaimana denganmu? kau dulu juga berlangganan banyak wanita!" Ibu Adam kembali berteriak "Kau saja tidak mencariku setelah kau menghamiliku!"

Adam memperhatikan laki-laki itu, namun laki-laki itu pergi meninggalkan Adam, Ibu Adam, dan bayi perempuannya. Laki-laki itu menuju mobil di pinggir jalan, ia masuk lalu memacu mobilnya pergi. Ibu Adam menangis merasakan perlakuan itu, apalagi dengan bayi yang ditinggalkan laki-laki itu. Ibu Adam mengambil bayinya, menggendong dalam pangkuan.

“Ini adikmu Adam.” Ucap Ibu Adam menahan air matanya.

 

~TAMAT~

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
rajip bajingan