Ada satu cangkir kopi di rak dapur yang tidak pernah kupakai untuk siapa pun selain kau.
Bentuknya biasa saja—putih polos, sedikit gompal di bagian pegangannya karena pernah jatuh waktu kita bertengkar kecil soal hal yang sekarang bahkan tak lagi kuingat detailnya. Tapi cangkir itu tetap kusimpan, tidak kubuang, karena di dasarnya masih ada tulisan tanganmu, ditulis pakai spidol permanen di malam ulang tahunku yang keempat sejak kita bersama: "Selama masih ada kopi, selama itu pula ada kita."
Kopi kesukaan kita berdua selalu sama: Kopi Susu Gula Aren, tapi bukan sembarang racikan—harus pakai espresso robusta yang agak gosong, gula aren cair yang kau masak sendiri sampai kental, dan susu yang dituang pelan-pelan supaya membentuk gradasi warna cokelat-krem yang menurutmu "seperti senja yang dituang ke dalam gelas". Kau bahkan memberi nama sendiri untuk racikan itu—"Hujan Sore"—karena pertama kali kita menyeduhnya bersama, hujan turun deras di luar, dan kita berdua duduk di teras sambil menyeruputnya pelan-pelan, tidak buru-buru pulang meski atap bocor sedikit di sudut ruang tamu.
Kau selalu bilang, kopi itu seperti hubungan. Pahit di awal, tapi kalau diseduh dengan benar—sabar, tidak terburu-buru, gula aren yang tidak boleh dituang sekaligus—rasa itu berubah jadi sesuatu yang membuat orang rela bangun pagi hanya demi menyeruputnya lagi besok.
Aku tidak percaya waktu itu. Kupikir itu cuma gombalan barista yang kau baca di caption Instagram.
Sampai kau pergi.
Bukan pergi seperti orang marah lalu membanting pintu. Kau pergi dengan cara yang lebih sunyi—ambulans yang datang jam tiga subuh, lorong rumah sakit yang baunya seperti alkohol dan lantai basah, dan aku yang berdiri di luar ruangan sambil memegang dua gelas Hujan Sore yang sudah dingin, satu untukmu, satu untukku, karena tanganku terlalu gemetar untuk berhenti melakukan kebiasaan itu meski kau sudah tak sadarkan diri di baliknya pintu.
Sekarang, tiap pagi jam tujuh—jam yang sama seperti dulu—aku masih menyeduh dua gelas Hujan Sore. Satu kuletakkan di kursi kosong di depanku, dengan takaran gula aren yang persis seperti racikanmu, meski aku sendiri lebih suka kopi tanpa gula.
Orang-orang bilang aku aneh. Terapisku bilang ini bagian dari proses—katanya, aku belum siap "melepaskan ritual" itu. Tapi aku punya versiku sendiri soal alasan aku melakukannya, yang tidak pernah kuucapkan pada siapa pun sampai malam ini.
Aku menyeduh gelas kedua bukan karena berharap kau akan datang menyeruputnya.
Aku menyeduhnya karena uap gula arennya—manis, hangat, mengepul, lalu perlahan menghilang ke udara pagi yang dingin—adalah satu-satunya hal yang masih terasa seperti napasmu. Setiap pagi, selama beberapa menit, aku bisa berpura-pura kau baru saja menghembuskan napas di seberang mejaku, bukan di ranjang rumah sakit yang dingin itu, tiga tahun lalu.
Kopi akan selalu pahit di awal. Itu benar katamu. Tapi yang tidak pernah kau bilang—dan baru kusadari sekarang—adalah bahwa rasa pahit itu tidak pernah benar-benar hilang, meski gula aren ditambahkan sekental apa pun, meski waktu berjalan bertahun-tahun. Ia hanya belajar bersembunyi di balik rasa manis, menunggu diseruput lagi kapan saja, tiba-tiba, di tegukan yang paling tak terduga—biasanya di tegukan terakhir, saat gula arennya sudah mengendap di dasar gelas dan yang tersisa hanya pahit murni, tanpa penyamaran.
Sama seperti rindu.
Cangkir gompal itu masih di rak dapur. Tulisan tanganmu masih di dasarnya, memudar tapi belum hilang, seperti banyak hal lain tentangmu yang kubiarkan tetap ada—tidak untuk membuatku terpuruk, tapi untuk mengingatkanku bahwa cinta yang sudah pernah nyata, tidak akan pernah benar-benar berhenti meninggalkan jejak.
Selama masih ada kopi, katamu dulu.
Ternyata kau benar. Selama masih ada Hujan Sore yang mengepul di pagi hari, selama itu pula ada kau—setidaknya untukku, dalam gradasi cokelat-krem yang perlahan menghilang, seperti caramu pergi: pelan, hangat, manis di permukaan, pahit di dasarnya, dan tak pernah benar-benar terasa selesai.