Malam itu Desember 2008, perang antara keluarga Wijaya dan Suhendra berakhir. Perang yang orang sering kira sebagai petrus jilid dua tersebut dimenangkan oleh keluarga Wijaya.
Tapi ada konsekuensi mahal. Perjanjiannya ialah, Isabel Wijaya harus mengundurkan diri dari klan mafianya. Mundur sebagai Donna.
Awalnya Isabel menolak. Ia ngotot memimpin klan, meski putra bungsunya menentang. Sikap dingin Isabel membuat putranya tersebut dieksekusi atas perintahnya. Alibi pengkhianatan pun ditebar agar Isabel tetap langgeng berkuasa.
Tapi Isabel tidak tahu, bahwa kekasih putranya, yang telah ia habisi sendiri melalui tangan para soldier, telah melahirkan. Melahirkan seorang putri. Ia baru diberi tahu oleh seorang capo, yang memeriksa isi pesan Dedi, sang putra bungsu.
Isabel merinding, hatinya merasa perih. Ketidaktahuannya membuat seorang gadis cilik kini yatim, bahkan di usia yang baru beberapa minggu. Karena hal tersebut, beberapa kali tekanan darahnya mencapai titik yang bisa dibilang buruk.
Isabel pun mengambil keputusan. Ia akan merawat bayi perempuan yang oleh orang dalam dikabarkan diberi nama Bella. Nama yang hampir sama dengan Isabel, menandakan Dedi begitu menghargai dan mencintai sang ibu.
Saat mendengar itu pertama kali, jantung Isabel berdebar kencang. Ia merasakan rasa bersalah yang selama ini belum pernah ia rasakan. Lalu, mendadak muncul pikiran untuk mengasuh Bella.
Indah, istri Dedi yang tahu cerita yang sebenarnya, tentu menuruti. Alasannya logis. Ia amat takut dengan kekejaman Isabel. Tapi Indah sedikit bisa tenang saat Isabel mengaku telah mundur menjadi Donna, dan sekarang sang putra sulung, Bayu, yang menjadi Don.
Tapi ada yang tidak diketahui oleh Indah. Bayu hanya bos lapangan. Karena sebetulnya semua keputusan final ada di tangan Isabel. Sisi positifnya, wanita berusia akhir enam puluhan tersebut dikawal secara rahasia oleh para soldier, sehingga kemanapun Isabel pergi bersama Bella, mereka aman.
Masa ke masa Bella bersama neneknya sangatlah indah. Dengan perlindungan dari neneknya, pergerakan capo serta soldier yang diperintahkan Bayu, pamannya. Juga para petinggi di klan mafia Wijaya. Saat itu Klan Wijaya adalah klan tunggal yang berkuasa. Tanpa gangguan sedikit pun dari klan lain.
Bella tumbuh menjadi gadis yang baik serta berprestasi di sekolah, juga sering memenangkan berbagai turnamen piano. Meski kadang Bayu memerintahkan para soldier untuk menyuap. Dan tentu, itu perintah Isabel dan atas dasar persetujuannya.
Bella sebetulnya sejak SD sudah sadar siapa neneknya, apalagi jaman sudah digital. Ia juga sudah tahu perihal ayahnya yang dihabisi. Bukan melalui internet, karena di dark web pun hal seperti itu tak ada. Tapi lebih ke menyusun hipotesa dari satu kejadian ke peristiwa lainnya.
Saat itu ada turnamen piano. Bella sangat percaya diri bisa menenangkannya. Ia tahu Bayu dan juga Isabel suka membantu. Tapi ia ingin menang dengan caranya sendiri. Jadi ia memainkan salah satu komposisi piano paling sulit. Ia memainkan Gaspard de la Nuit karya Maurice Ravel.
Semua berdecak kagum. Bayu tersenyum pun Isabel. Namun seorang penembak jitu yang tak terdeteksi mengincar Bella sejak tadi. Jika sulit mendapatkan kepala dan otak, mungkin jantung sama baiknya. Begitu pikir salah satu klan yang sedang merangkak, yaitu Klan Kusuma.
Peluru dilepaskan, para soldier Keluarga Wijaya sudah disuap, dan beberapa tak ambil peduli. Meski diperlakukan baik oleh Isabel dan Bayu, uang tetap saja uang. Tapi kali ini meleset. Bella tetap memainkan Gaspard de la Nuit dengan tenang dan presisi.
Saat itu naluri seorang nenek bekerja. Saat tembakan kedua dilepaskan, dengan kecepatan dan refleks yang tak dimiliki nenek seusianya, Isabel bergerak lalu menutupi tubuh Bella dengan tubuhnya. Isabel tewas seketika, dengan peluru bersarang di pelipis kiri.
Semua terkejut dan panik, polisi bergerak. Para soldier panik, tapi dalam hati sebenarnya mereka merasa terbebaskan. Apalagi bagi yang mau ikut program perlindungan saksi. Mereka juga tahu Klan Kusuma yang sedang merangkak tidak akan beranjak naik. Karena mafia sesungguhnya di zaman modern adalah wakil rakyat itu sendiri.
Bayu sebagai kepala tak bisa melakukan apapun karena sang otak yaitu Isabel alias sang ibu telah tiada. Pakde dari Bella itu divonis mati atas berbagai kejahatan terencana. Sedang yang lain mendapat hukuman bervariasi, termasuk mati, seumur hidup, sampai puluhan dan belasan tahun penjara.
Sedangkan Klan Kusuma mendapat karma buruknya sendiri, mereka hancur dari dalam karena satu sama lain ingin berkuasa, serta lebih mementingkan urusan perut masing-masing.
Sedangkan Bella pindah ke Wina bersama Indah. Ia sering diterapi secara psikologis atas saran ibunya. Kadang dalam sesi terapi ia masih teringat Isabel. Masih terbayang senyum sang nenek kala dirinya cilik dulu, duduk di pangkuannya.
Memori di otak Bella pun kadang terpantik, kala indahnya masa berdua dengan sang nenek. Tapi Bella sadar hidup harus terus berjalan. Ia harus merelakan serta mengikhlaskan.
Bella bersama Indah pun kini hanyalah orang biasa. Mereka hanya warga negara biasa yang menetap di Wina, dan memperbaiki pasport jika masanya akan habis. Alasannya, keduanya masih mencintai Indonesia, dan menghargai tanah yang diperjuangkan para pejuang. Tak peduli seberapa mafianya wakil rakyat saat ini.