HOBI NYONTEK

"Hei! Nyontek lagi lo ya?" seru Aziz pada sahabatnya, Lukman. 

"Eh, lo gila ya suaranya kedengeran ampe ujung pintu tau. Iya, gue nyontek, kenapa?" 

"Lo gak takut dosa?" 

"Dosa? Kan bisa taubat." balas Lukman sekenanya. 

"Gak takut Allah ngeliat lo?" balas Aziz. 

"Hmm.. nggaklah. Kan Allah juga paling tau kenapa gue nyontek, hehee."

"Yee elo, wkwkw."

"Ah, elo mau ngasih tau gue teori apa lagi, Ziz, gue udah kebal karena gue emang mesti nyontek. Era sekarang ini orang-orang lebih banyak menilai hasil yang diraih dibanding prosesnya." 

"Yakin lo bilang gitu?" 

"Yakinlah. Kan semuanya butuh nilai untuk lolos SNMPTN, buat UTBK, atau untuk ujian mandiri, dan buat semua tes lainnya yang masih dan akan kita jalanin ke depan," 

"Hmm ... okelah, Bro, barangkali lo udah kebal. Tapi, Man, nyadar nggak, makin hari lo makin hobi nyontek, nyalin pekerjaan orang lain yang bukan hak lo, makin makin lo 'haus' pengakuan akan kesempurnaan diri lo. Semakin kita akan mencari cara untuk menutupi kekurangan-kekurangan kita dengan cara-cara yang ga halal dan ga bener. Dari situlah, kita secara ga sadar mulai memikirkan cara agar bisa mengambil hak-hak orang lain. Dan itu sebenernya salah satu akar penting penyebab kenapa orang-orang bisa korupsi meskipun gaji-gajinya gede dan finansialnya relatif udah sempurna. Karena dia udah biasa haus akan pengakuan dan sesuatu yang bukan dari jerih payahnya sendiri. Juga ditambah dengan pola dan gaya hidup yang salah, konsumtif, dan pencitraan-pencitraan palsu. Akibatnya, budaya korupsi dan yang lebih umumnya kita sebut KKN, kian tumbuh subur di kehidupan bermasyakat kita ini," 

"Waah, astaga! Seriusan kek gitu? Baru denger gue dari elo."

"Iya, Bro. Alhamdulillah banget. Semua insight ini gue dapet dari baca-baca berita dan nyari tau. Eh, yuk, Man, kita solat Asar bareng. Dah mau azan nih." 

"Oh iya. Thanks banget ya, Ziz, udah ngingetin gue."

"Masama, Man."

7 disukai 1 komentar 3.3K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Hahay jadi ingat masa Smk.
Saran Flash Fiction