Aku tidak tahu dia siapa. Tapi dia kemungkinan lawan perang yang kusembunyikan. Usianya masih sekitar 19 tahun, dan dia amat ketakutan.
Aku sudah paham hukuman yang akan dijatuhi seseorang yang menyembunyikan lawan perang. Tapi entah mengapa aku ingin tetap dia aman, walau nanti ketahuan, lalu aku dieksekusi mati.
Pertama kali kutemui ia sangat panik. Ia kehabisan peluru, dan itulah yang menyelamatkannya. Jika tidak aku sudah mati, pun dirinya. Menyusul. Dikeroyok warga.
Lalu dengan bahasa yang tidak aku ketahui, dengan penuh kecemasan ia berkata sesuatu. Aku langsung paham itu adalah tempat persembunyian.
Dengan bahasa isyarat, aku arahkan ia ke bungker milik keluargaku. Warisan dari buyutnya buyutku yang asli orang Belanda jika diserang pribumi kala itu.
Karena keterburuannya dia sempat terantuk bagian atas bungker. Ia tak punya waktu untuk kesakitan. Langsung lanjut lari ke dalam.
Kemudian aku menutup bungker keluarga, yang cukup untuk puluhan orang itu. Ya, puluhan orang, karena dulu buyutnya buyutku punya banyak keluarga.
Lalu datang Mang Robi bersama massa. Ia bertanya apakah ada tentara yang berlari ketakutan. Dengan sigap dan tegas langsung kukatakan tidak. Getaran tubuhku aku tahan. Aku menahan nafas.
Untungnya aktingku meyakinkan. Mang Robi dan Massa pun pergi. Aku mengembuskan nafas, lega. Tapi kutunggu beberapa menit dulu. Barangkali Mang Robi dan massa kembali.
Beberapa menit kemudian aku masuk ke bungker, kulihat tentara belia itu tertidur, kucek bendera di pakaiannya, ternyata ia tentara Italia. Aku lega dia bukan tentara musuh, tapi kenapa dia dikejar massa? Itu pertanyaanku.
Kututup bungker, kutunggui sampai ia sadar. Tapi aku takut, kalau ia sadar nanti, dirinya akan kembali ketakutan. Saat itu banyak pikiran yang menggerumuti aku. Layaknya aku ini gula.
Apakah dia berkhianat pada negaranya? Atau mengkhianati Indonesia sebagai sekutu negaranya secara pribadi? Atau? Pikiranku blank.
Kutunggui ia, namun dirinya tak kunjung sadar. Hingga akhirnya kulihat pakaian tentaranya basah. Aku langsung sadar itu darah. Dia tertembak.
Untungnya di dalam bungker ada kotak pengobatan, dan cukup lengkap. Aku yang memang bidan ini mengeluarkan peluru dari tubuhnya. Ia mengaduh kesakitan dengan tetap tak sadar.
Lalu kuperban lukanya. Nampak ia ketakutan dan lemah. Setelah selesai ia seperti menyebut nama seseorang. Yang jelas nama seorang wanita. Sudah pasti itu kekasihnya.
Kutunggui ia dengan sabar hingga aku ketiduran. Dan ketika aku bangun tentara itu sudah tak ada.
Ia tak mungkin berlari ke luar, sebab bungkernya aku kunci, dan kuncinya kukantongi. Jadi aku cari di dalam bungker.
Tapi aku tak temukan jejaknya. Bayangan pun tidak. Aku merinding dan ketakutan. Segera aku bergegas keluar dari bungker. Setelah itu kututup bungker itu rapat-rapat.
Setelah itu perang masih berlangsung sekitar tiga bulan lamanya. Dan meski dengan ketakutan, aku berulang kali kembali ke dalam bungker. Tentara itu, bahkan jejaknya, tak pernah lagi kutemukan.
Siapa dia? Mengapa ia dikejar? Apakah ia berkhianat? Siapa yang dikhianati? Masih menjadi misteri.
Dan sebaiknya aku tidak mencari tahu, jika aku ingin diriku serta yang aku sayangi selamanya aman.