Sopian bingung, ia merasa dirinya kacau. Sudah empat hari, Lina, gadis yang ia tunggu tak kunjung menjumpainya kembali.
Padahal menurut Sopian, Lina adalah gadis jelita. Bahkan Sopian mendapat servis. Walau Lina meminta lampu dimatikan.
Sopian kemudian berdiri, ia berlalu dari Warteg Mak Atin yang biasa jadi tongkrongannya bersama sejawatnya. Tapi ia heran, tak satupun batang hidung mereka terlihat.
Saat melangkah di jalan pinggiran Kartasura, Sopian diintip. Rupanya itu beberapa temannya. Abdul, Mekar, dan Ali mengamati pemuda berusia 25 tahun tersebut.
Abdul mengeluh, dia sudah bosan berperan jadi Lina, apalagi kemarin onderdilnya sudah dirudal. Ali pun meminta supaya Abdul bersabar, karena di antara mereka hanya Abdul yang jika memakai pakaian wanita sangat pas.
Wajah Abdul juga mulus dan layaknya wanita, membuat kecurigaan Sopian mengecil. Abdul menyetujui, tapi ia juga menanyakan, setelah ia mendapatkan alamat Sopian, apakah dirinya akan ikut merampok, atau tetap bersama Sopian.
Mekar yang badannya paling besar di antara mereka berkata dengan enteng, kalau Abdul harus memberi Sopian servis berulang kali. Tapi jangan sampai Sopian tahu, kalau Abdul juga punya rudal. Abdul yang takut pada Mekar pun mengiyakan.
Lalu sudah dua malam Lina alias Abdul menyervis Sopian, tapi Sopian belum juga memberi alamat rumah. Apalagi nafsu Abdul semakin besar, sebab Sopian terus mengoceh kalo rumahnya adalah yang terbesar di seluruh Sukoharjo.
Lampu dinyalakan, Lina baru selesai memberi servis lagi dan lagi. Lalu ia yang aslinya cowok tulen bernama Abdulah Wibisono tersebut melakukan strategi cadangan. Ia menanyai Sopian saat pemuda tanggung itu mabuk.
Tanpa diduga dengan keadaan setengah sadar Sopian memberi tahu alamat rumahnya. Ia malah dengan sengaja memberi kuncinya. Tak mau kesempatan hilang, ia pun segera meraih kunci, dan tak menghiraukan pesan Mekar agar selalu ada di samping Sopian.
Abdul bergegas menuju markas, setelah sampai ia dengan tertawa terbahak-bahak menunjukkan kunci rumah milik Sopian. Abdul pun sudah tahu alamat Sopian.
Ali dan Mekar girang. Tapi Mekar meminta supaya Abdul tetap menjaga Sopian. Namun pemuda asal Magelang tersebut menolak perintah pemuda yang pendidikannya paling tinggi di antara mereka itu.
Ali kemudian mengatakan, Abdul dibutuhkan untuk menahan Sopian supaya tidak pergi dari tempatnya sekarang, alias pulang.
Tapi Mekar tiba-tiba punya pandangan lain. Dengan hilangnya Lina, mungkin Sopian akan mencari gadis gadungan tersebut, bukan pulang ke rumah. Abdul dan Ali pun merasa itu masuk akal.
Akhirnya mereka sampai di alamat yang dituju, dan suasana di sekitar rumah sepi. Lampu dinyalakan. Juga, rumah Sopian memang rumah mewah.
Saat Ali mengunci pintu mendadak lampu mati. Awalnya terdengar jeritan Mekar, kemudian Ali. Abdul terpeleset sesuatu dan setelah ia pegang itu darah segar. Ia kemudian memegang dan mengangkat sesuatu, dan dari ukurannya, ia tahu itu kepala Mekar.
Abdul menjerit, tapi ia keburu ditebas. Sebelumnya, saat dalam ketakutan, ia mendengar suara layaknya anak ayam yang begitu banyak. Serta, ia mendengar suara yang ia kenal.
Suara yang ia kenal itu mengatakan sesuatu yang membuat dirinya merinding, sebelum menemui ajal. Ali, Mekar, dan Abdul tewas. Semuanya dengan kepala terpisah dari tubuh.
Sejak saat itu Sopian pun menghilang. Ia tidak pernah lagi muncul. Ia seolah ditelan misteri. Tapi sebelum kematiannya, Abdul dengan jelas mendengar suara Sopian, tentang kenyangnya ia.
Yang didengar Abdul ialah... Perlu waktu lama untuk dirinya menyamar dan bersandiwara agar dapat mengonsumsi daging manusia.
Sopian berterima kasih karena Abdul telah memberinya servis selama ini. Dan menyatakan ia sebenarnya sudah tahu sejak awal.
Sebelum Abdul ditebas dalam ketakutan nya. Sopian bertanya,
"Siapa yang paling pandai bersandiwara?"