Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
12
Lukisan Tanpa Nama
Misteri

Mira bekerja sebagai kurator muda di Museum Arunika. Selama enam tahun, ia telah melihat ribuan benda bersejarah melewati tangannya, tetapi tidak pernah menemukan sesuatu yang benar-benar membuatnya kehilangan tidur.

Sampai sebuah lukisan tua datang.

Lukisan itu ditemukan ketika sebuah rumah kosong direnovasi. Tidak ada tanda tangan pelukis. Tidak ada tahun pembuatan. Tidak ada keterangan mengenai orang-orang yang tergambar di dalamnya.

Hanya ada sebuah pemandangan kota pada malam hari.

Di tengah lukisan berdiri seorang perempuan mengenakan gaun biru tua. Di belakangnya terdapat jam menara, jembatan batu, dan tujuh rumah berderet.

Mira merasa ada sesuatu yang aneh.

Bukan karena lukisan itu indah.

Melainkan karena perempuan tersebut tampak seperti sedang menatap langsung kepada orang yang melihatnya.

Malam pertama setelah lukisan dipajang di ruang penyimpanan, Mira memeriksa kamera keamanan.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun keesokan paginya, ia melihat sesuatu yang berbeda.

Jumlah rumah dalam lukisan berubah.

Kemarin ada tujuh.

Sekarang hanya enam.

Mira mengira dirinya salah menghitung.

Ia mengambil foto lukisan tersebut sebagai pembanding.

Foto itu menunjukkan tujuh rumah.

Mira kembali menatap lukisan.

Enam.

Ia memanggil teknisi museum.

Tidak ada kerusakan.

Tidak ada lapisan cat baru.

Tidak ada kemungkinan seseorang masuk ke ruangan.

Mira mulai merasa tidak nyaman.

Malam berikutnya, ia sengaja memeriksa lukisan sebelum pulang.

Enam rumah.

Jam menara menunjukkan pukul 23.15.

Perempuan dalam lukisan masih berdiri di tempat yang sama.

Mira mencatat semuanya.

Keesokan paginya, jam dalam lukisan menunjukkan pukul 23.16.

Selain itu, sebuah jendela baru muncul di rumah paling ujung.

Mira terdiam.

Ia mulai membandingkan lukisan tersebut dengan arsip sejarah kota.

Jam menara dalam lukisan ternyata benar-benar pernah ada.

Namun jembatan batu di belakangnya sudah dihancurkan lebih dari tujuh puluh tahun lalu.

Lebih aneh lagi, tidak ada catatan mengenai perempuan dengan gaun biru.

Mira memperbesar foto lama kota.

Di salah satu gambar hitam putih, ia menemukan bentuk jam menara yang sama.

Di sebelahnya berdiri tujuh rumah.

Ia memeriksa alamat rumah-rumah tersebut.

Enam masih tercatat dalam dokumen.

Rumah ketujuh tidak pernah muncul.

Seolah-olah bangunan itu sengaja dihapus dari sejarah.

Mira mulai mencari dokumen kepemilikan lama.

Ia menemukan satu nama yang berulang dalam beberapa catatan.

Elena Wiratama.

Tidak ada foto.

Tidak ada tanggal kematian.

Tidak ada keterangan pekerjaan.

Hanya satu catatan pendek dari surat kabar lama:

"Seorang perempuan menghilang setelah menolak meninggalkan rumahnya."

Tanggalnya sama dengan tahun ketika jembatan batu dihancurkan.

Mira kembali ke lukisan.

Kali ini ia melihat perempuan di dalam gambar dengan lebih teliti.

Di tangannya terdapat sebuah benda kecil.

Sebuah kunci.

Mira memperbesar bagian tersebut.

Kunci itu memiliki bentuk kepala menyerupai burung.

Ia mencari simbol serupa di museum.

Tidak ada.

Namun ketika membuka katalog benda lama, ia menemukan sebuah foto kunci yang hampir identik.

Keterangan foto membuatnya terkejut.

Kunci Rumah Nomor Tujuh.

Mira segera menghubungi Pak Darma, penjaga museum yang telah bekerja selama puluhan tahun.

Ketika mendengar nama Elena, lelaki tua itu berubah pucat.

"Jangan cari rumah itu."

"Kenapa?"

"Karena rumah itu tidak pernah benar-benar hilang."

Mira menatapnya.

"Apa maksud Bapak?"

Pak Darma menghela napas.

"Dulu ada seorang perempuan yang menolak menjual rumahnya ketika pemerintah kota memperluas jalan. Setelah jembatan dihancurkan, rumahnya tetap berdiri sendirian di belakang kawasan baru."

"Lalu?"

"Suatu malam rumah itu terbakar."

"Elena?"

"Tidak ditemukan."

Mira terdiam.

"Kenapa semua catatannya hilang?"

Pak Darma tidak menjawab.

Malam itu Mira kembali memeriksa lukisan.

Kini hanya tersisa lima rumah.

Perempuan di dalam lukisan tidak lagi menghadap ke depan.

Ia sedang menoleh ke arah rumah paling ujung.

Di bawah lukisan, Mira menemukan tulisan kecil yang sebelumnya tidak ada.

Cari tempat yang tidak pernah tercatat.

Mira langsung mengambil foto.

Keesokan harinya ia pergi ke lokasi lama.

Berdasarkan peta, kawasan tersebut kini menjadi taman kota.

Namun setelah mencari cukup lama, ia menemukan sebuah dinding batu tua tersembunyi di balik pepohonan.

Di balik dinding terdapat fondasi rumah.

Tidak ada bangunan.

Tetapi di antara bebatuan, Mira menemukan sebuah kotak logam.

Di dalamnya terdapat surat-surat lama, foto, dan dokumen.

Semua milik Elena.

Dokumen tersebut mengungkap sesuatu yang jauh lebih besar.

Rumah Elena dahulu menjadi tempat penyimpanan catatan warga yang menolak penggusuran. Beberapa dokumen resmi telah diubah sehingga seolah-olah semua keluarga menerima penggantian secara sukarela.

Elena menyimpan bukti asli.

Ia tidak menghilang karena melarikan diri.

Ia dipaksa meninggalkan kota setelah berusaha mengungkap kebenaran.

Mira membawa dokumen tersebut kembali ke museum.

Ia kemudian memeriksa lukisan sekali lagi.

Kini hanya tersisa satu rumah.

Perempuan di dalamnya tersenyum tipis.

Jam menara berhenti pada pukul 23.17.

Di bagian bawah lukisan muncul tulisan baru:

Sekarang mereka tahu.

Keesokan paginya, lukisan itu kembali normal.

Tujuh rumah.

Jembatan batu.

Jam menara.

Dan perempuan bernama Elena.

Namun kali ini, sebuah nama muncul di sudut bawah lukisan.

Elena Wiratama.

Mira tidak pernah menemukan siapa pelukisnya.

Tidak ada catatan mengenai asal-usul lukisan tersebut.

Tetapi ia memahami maksudnya.

Lukisan itu bukan sekadar benda seni.

Ia adalah saksi yang menunggu seseorang menemukan cerita yang telah disembunyikan.

Beberapa bulan kemudian, museum membuka pameran khusus tentang sejarah penggusuran kawasan lama. Dokumen Elena dipajang untuk pertama kalinya.

Di sampingnya, lukisan tanpa nama ditempatkan dalam sebuah bingkai baru.

Mira berdiri di depannya sebelum museum dibuka.

Ia memperhatikan perempuan dalam lukisan.

Kali ini Elena tidak lagi memandang penonton.

Ia menghadap ke arah tujuh rumah yang berdiri utuh.

Mira tersenyum kecil.

Misterinya memang belum sepenuhnya terpecahkan.

Tetapi mungkin tidak semua misteri diciptakan untuk memiliki jawaban.

Sebagian hanya menunggu seseorang cukup berani untuk mengajukan pertanyaan yang benar.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Rekomendasi