Sebelum ada nama, sebelum gunung mengenal puncaknya, sebelum laut mengingat ombaknya, tidak ada gelap dan tidak ada terang.
Yang ada hanyalah keheningan.
Bukan keheningan yang kosong.
Melainkan keheningan yang terlalu penuh.
Di dalamnya berkumpul setiap suara yang akan lahir. Tangis bayi pertama. Tawa seorang ibu. Gemuruh hujan di atas daun. Nyanyian burung yang belum memiliki sayap. Semuanya berhimpit dalam satu keadaan yang belum mengenal waktu.
Lalu sesuatu bergetar.
Ia bukan cahaya.
Bukan pula suara.
Ia hanyalah kesadaran.
Kesadaran bahwa sesuatu yang hanya mengenal dirinya sendiri tidak akan pernah memiliki cerita.
Maka Getar itu membelah Keheningan.
Yang satu memandang yang lain.
Di antara keduanya lahirlah Jarak.
Dan Jarak menjelma menjadi Ruang.
Ruang tumbuh seperti retakan.
Retakan itu terus memanjang hingga melahirkan tiga undakan.
Yang pertama naik, menjadi Alam Atas, tempat para Penjaga mengingat segala sesuatu tanpa pernah ikut campur.
Yang kedua menetap di tengah, menjadi Alam Tengah, tempat pilihan-pilihan dilahirkan.
Yang ketiga tenggelam ke dasar, menjadi Alam Bawah, tempat segala yang terlupakan tetap hidup dalam diam.
Namun satu retakan menolak berhenti.
Ia tidak naik.
Ia tidak turun.
Ia berkelana di antara ketiganya.
Maka lahirlah Celah Antara, tempat batas menjadi tipis dan keberanian meminta harga.
Semesta telah memiliki bentuk.
Tetapi bentuk tanpa keseimbangan hanyalah keruntuhan.
Maka lima pasak ditancapkan.
Tak ada suara yang mengumumkannya.
Namun seluruh semesta berdenyut mengikuti irama yang sama.
Yang pertama menjaga batas agar setiap makhluk tetap mengenali kodratnya.
Yang kedua menimbang nurani, sebab kekuatan selalu mengikuti niat pemiliknya.
Yang ketiga mengikat setiap wilayah pada kesepakatan yang tak pernah ditulis.
Yang keempat mengajarkan bahwa segala sesuatu memiliki waktunya sendiri untuk menjadi utuh.
Yang kelima menyeimbangkan setiap pengambilan dengan pengembalian.
Tidak ada satu pun yang dapat lolos darinya.
Semesta pun bernapas.
Dari napas itu lahirlah empat wajah.
Yang pertama tidak pernah tampak, namun selalu hadir.
Yang kedua menjaga gunung, sungai, hutan, dan laut tanpa meminta disembah.
Yang ketiga hidup dari segala yang belum selesai janji yang diingkari, duka yang tak sempat diucapkan, dan harapan yang patah di tengah jalan.
Yang terakhir adalah manusia.
Tubuhnya rapuh.
Umurnya pendek.
Tangannya kosong.
Namun kepadanyalah diberikan sesuatu yang tidak dimiliki oleh wajah-wajah lain.
Pilihan.
Dan sejak pilihan pertama dibuat, sesuatu yang baru terlahir.
Bukan hukuman.
Bukan hadiah.
Melainkan benih.
Benih itu tertanam di setiap keputusan.
Kadang tumbuh pagi.
Kadang baru berbuah ketika anak cucu telah lupa siapa yang menanamnya.
Tetapi ia tidak pernah gagal tumbuh.
Seorang yang mengambil lebih dari kebutuhannya akan kehilangan sesuatu yang tak pernah ia sangka berharga.
Seorang yang menjaga hutan akan menemukan jalan pulang ketika semua peta gagal.
Seorang yang mengkhianati janji mungkin tetap duduk di atas takhta, tetapi singgasananya akan semakin sunyi dari musim.
Begitulah semesta menjaga dirinya.
Tidak dengan algojo.
Tidak dengan palu pengadilan.
Melainkan dengan keseimbangan yang selalu menemukan jalannya sendiri.
Maka para leluhur tidak pernah menyebut Alam Manhyang sebagai surga.
Mereka tidak menyebutnya dunia.
Mereka menyebutnya cetakan.
Karena setiap kisah, selalu dicetak oleh hukum yang sama.
Ketika seorang anak menolong orang asing.
Ketika seorang raja melupakan rakyatnya.
Ketika seorang pemburu meminta izin kepada hutan.
Ketika seorang ibu menanam kembali pohon yang ditebang keluarganya.
Semesta selalu mencatat.
Bukan dengan tinta.
Melainkan dengan getaran.
Dan selama Getar pertama itu masih bergema, dunia akan terus melahirkan cerita baru.
Sebab sebelum ada nama, sebelum ada kerajaan, sebelum ada pahlawan, diciptakan bukanlah manusia.
Melainkan keseimbangan.
Dan dari keseimbangan itulah seluruh kisah Alam Manhyang dilahirkan.
Namun para Penjaga mengetahui satu rahasia yang tidak pernah dituliskan, tidak pernah dipahat pada candi, dan tidak pernah diwariskan kepada mereka yang mencari kuasa.
Getar Pertama tidak pernah berhenti.
Ia hanya menjadi pelan, hingga telinga manusia tidak lagi mampu mendengarnya.
Akan datang suatu zaman ketika manusia menganggap Alam Manhyang hanyalah dongeng para leluhur. Gunung dipandang batu, sungai sekadar air yang mengalir, hutan sekadar kayu yang dapat dihitung, dan langit sekadar ruang kosong yang dapat diukur. Mereka akan membaca kisah-kisah lama sebagai hiburan, memperdebatkan kebenarannya, lalu menyimpannya di rak-rak yang berdebu.
Pada masa itu, nama akan lebih dihargai daripada nurani. Kecepatan akan dipilih daripada laku. Kepemilikan akan dianggap lebih mulia daripada keseimbangan. Lima Pasak tidak akan hancur, tetapi akan terlupakan. Pancakarma tidak akan berhenti bekerja, hanya menjadi semakin sunyi hingga manusia mengira segala akibat lahir karena kebetulan.
Tetapi Semesta tidak pernah melupakan Getar.
Sebab setiap benih yang tertidur tetap mengingat musim hujan.
Maka apabila kesunyian dunia telah mencapai batasnya, apabila manusia mulai merindukan sesuatu yang tidak dapat dibeli, tidak dapat diwarisi, dan tidak dapat dijelaskan oleh angka-angka, Getar itu akan kembali terdengar.
Bukan sebagai petir yang membelah langit.
Bukan sebagai suara yang turun dari puncak gunung.
Melainkan sebagai bisikan yang lahir di dalam hati mereka yang masih mampu merasa.
Mereka akan datang dari tempat-tempat yang saling berjauhan.
Ada yang membawa cerita.
Ada yang membawa lagu.
Ada yang membawa benih.
Ada yang membawa gambar.
Ada yang membawa doa.
Dan ada yang datang dengan sepasang tangan yang ingin memperbaiki apa dibiarkan rusak.
Mereka tidak akan saling mengenal.
Namun mereka akan mengenali Getar yang sama.
Pada hari itulah Alam Manhyang akan mulai hidup kembali.
Bukan karena gunung-gunung bergerak.
Bukan karena para Penjaga turun memperlihatkan wajahnya.
Bukan karena langit terbelah membuka gerbang.
Melainkan karena manusia kembali menghidupi Lima Hukum yang telah lama tertidur di dalam dirinya sendiri.
Ketika batas dihormati, Nurani didahulukan, Konsensus dijaga, Prosedur dimuliakan, dan Keseimbangan dipulihkan, maka Alam Manhyang tidak lagi berada di balik kabut.
Ia hadir di setiap langkah.
Di setiap hutan yang kembali ditanam.
Di setiap sungai yang kembali dijaga.
Di setiap janji yang ditepati.
Di setiap tangan yang memilih mencipta daripada merusak.
Dan pada saat manusia berhenti menjadikan Kitab Manhyang sekadar bacaan, lalu mulai menjadikannya laku kehidupan, saat itulah Getar Pertama akan kembali memenuhi semesta.
Maka para leluhur berkata:
"Jangan mencari Alam Manhyang di ujung dunia."
"Carilah ia pada hari ketika manusia kembali mengingat cara menjadi penjaga."
Sebab pada akhirnya, Kitab Manhyang tidak diturunkan untuk disimpan di dalam perpustakaan.
Ia diturunkan agar dapat hidup kembali di dalam hati manusia.
Dan ketika hari itu tiba, dunia tidak sedang membaca Kitab Manhyang.
Dunialah yang sedang menjadi halaman-halamannya.