Lanjutan Si Kerudung Merah

Setahun sudah, sejak peristiwa yang hampir merenggut nyawaku di Danau Toba.

Ayah menyuruhku tinggal di Bandung tepatnya di salah satu gedung di Jalan Asia Afrika.

Tinggal di apartemen Braga City Walk, aku kembali melakukan kebiasaanku bersepeda ketika kuliah di Belanda. Terlalu dekat dari Braga ke gedung kantor, kalau mengendarai mobil lebih jauh karena harus berputar-putar akibat kebijakan jalan satu arah di kota itu.

“Pagi Pak!” Aa Teja satpam apartemen, menyapaku pagi-pagi ketika hendak mengayuhkan sepeda ke kantor.

”Pagi A, cabut dulu yah ke kantor, jaga apartemen saya baik-baik.” Candaku.

”Siap Bos!”

Maklumlah belum memiliki teman di Bandung ini, sehingga setiap pulang kantor jika Aa Teja selesai dengan bagian shiftnya, ia kuajak main Wii di apartemen.

...

Setiap jumat malam aku pulang ke rumah orang tuaku di Jakarta. Pernah tak pulang, lalu jalanan di Bandung penuh dengan lautan mobil-mobil berhuruf B.

Bosan juga setelah 3 bulan di Bandung sendirian dan kuputuskan untuk mencoba menyelusuri jalan Braga malam hari bersama Aa Teja. Ia memboncengku dengan motor mengajakku makan nasi goreng di depan Hotel Savoy Homann, lumayan enak untuk jajanan pinggir jalan begitu juga dengan bubur ayamnya.

Setelah kenyang, berjalan di sekitar Jalan Asia Afrika tepat pk. 23.00, ada sepasang lelaki dan perempuan berpakaian pengantin lengkap. Kupikir aku melihat hantu lagi, ternyata pemotretan prewed.

Bandung kaya dengan wisata kuliner mulai dari warung Ceu Mar yang menyediakan makanan rumahan kas Sunda yang muncul pk. 20.00 WIB sampai subuh.

Makan siang dengan teman kantor di sebuah kantin di tikungan jalan Braga yang buka dari pk. 08.00 – 14.00, makanan enak dan tutupnya cepat.

Satu bulan kulineran, banyak makanan enak-enak tetapi agak aneh jam bukanya, seperti perkedel Bondon di depan stasiun hall. Mulai buka pk. 23.00 dan diharuskan mengambil nomor karena ramainya antrian pembeli.

Setelah dua bulan wisata kuliner aku memutuskan untuk menjadi member Gym, tepat di bawah apartemenku. Takut buncit karena makan malam terus.

Beberapa minggu kemudian kumenemukan sosok gadis yang kusukai di gym itu. Kami sering bersama-sama di kelas spinning.

Akhirnya kami berkenalan...

”Hai, sering kesini yah?” tanyaku, ketika mencari sepeda yang nyaman sebelum kelas dimulai.

”Iyah, Nada, kamu?”

”Choky.” Jawabku.

”Haha, Batak yah?”

”Kok tahu?” tanyaku agak heran.

”Tahu aja, banyak kok teman-temanku yang memiliki nama panggilan begitu.”

Dalam hati aku berharap ia Batak juga.

Selesai dari kelas spinning kami berjanji untuk mampir di The Kiosk, tepat di depan Gym. 20 menit kemudian aku menunggunya di depan ruang loker sambil mengambil air minum.

Akhirnya ia keluar setelah 15 menit menunggu, ia tampak cantik dengan balutan celana jeans legging dipadankan tanktop putih dan geraian rambut panjangnya.

”Lama yah nunggunya?” Begitu ia mendapatiku melamun menunggunya.

“Tidak, hanya 15 menit.” Ujarku berusaha berbohong.

”Ahh, sabar rupanya, bagimu 15 menit itu sebentar?” ujarnya setengah menggodaku.

Aku hanya tersenyum, lalu kami berdua menuju tempat itu.

Kami mengobrol seru, ternyata Nada menyenangkan orangnya. Ponselnya tiba-tiba berdering.

”Baru beres nge-Gym, arek kadieu? Nteu, teu mawa mobil. Di the Kiosk nya.”

Tiba-tiba seorang lelaki muncul dan mendekatinya lalu mencium pipinya di depanku.

”Nah, ini Choky saya.”

4 disukai 6.2K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction