Bowo adalah tipe orang yang memiliki satu prinsip sederhana dalam hidup: kalau urusan itu bisa dihindari, kenapa harus dihadapi?
Karena prinsip itulah, selama tiga puluh satu tahun hidupnya, ia berhasil menghindari menjadi panitia tujuh belas Agustus, petugas ronda, koordinator arisan, bahkan pernah pura-pura batuk selama satu minggu hanya agar tidak ditunjuk menjadi pembawa acara pengajian.
Namun semua keberuntungan itu berakhir pada malam Jumat.
Malam ketika Pak Darto mengumumkan bahwa Ketua RT mereka mengundurkan diri.
Sebenarnya Bowo sama sekali tidak berniat datang ke balai warga. Ia hanya mendengar kabar bahwa rapat malam itu menyediakan pisang goreng, tahu isi, dan teh manis gratis.
"Datang lima menit, makan, terus pulang," gumamnya penuh percaya diri.
Rencana yang menurutnya sangat matang.
Sayangnya, hidup tidak pernah bekerja sama dengan orang yang terlalu percaya diri.
Rapat dimulai dengan sangat serius.
Pak Darto berdiri sambil membawa map biru.
"Kita harus segera memilih Ketua RT yang baru."
Semua warga langsung menunduk.
Ada yang pura-pura membaca pesan di ponsel.
Ada yang mendadak sibuk mengikat tali sandal.
Pak Roni bahkan tiba-tiba keluar dengan alasan ingin memastikan motornya tidak kehujanan, padahal langit cerah.
Bowo sendiri sedang fokus memilih pisang goreng paling renyah.
Tiba-tiba Pak Darto bertanya, "Siapa yang bersedia?"
Tanpa melihat situasi, Bowo mengangkat tangan.
"Mau tambah pisang goreng, Pak."
Semua orang langsung menoleh.
Pak Darto tersenyum lebar.
"Alhamdulillah. Saudara Bowo bersedia."
Bowo membeku.
"Bukan, Pak. Maksud saya..."
Seluruh warga bertepuk tangan.
Pak Darto bahkan sudah menyalaminya.
"Selamat menjadi Ketua RT."
Pisang goreng yang tadi tampak menggoda mendadak terasa seperti jebakan.
Hari pertama menjabat, Bowo menerima dua puluh tiga pesan di grup warga.
Ada yang kehilangan ayam.
Ada yang mengeluh tetangga memutar musik dangdut sejak subuh.
Ada yang bertanya apakah menanam pohon mangga di depan rumah perlu izin RT.
Bahkan ada yang mengirim foto kucing tidur di atas mobil.
"Pak RT, ini kucing siapa?"
Bowo menatap layar ponselnya.
"Kalau saya tahu itu kucing siapa, mungkin saya juga tahu siapa yang menemukan Atlantis."
Masalah berikutnya muncul saat dua tetangga bertengkar.
Pak Jaya menuduh kambing Bu Rina memakan tanaman cabainya.
Bu Rina membalas dengan menuduh tanaman cabai Pak Jaya memang terlalu menggoda.
"Mana ada kambing bisa membedakan batas tanah!" seru Bu Rina.
"Itu kambingnya sekolah kali!" balas Pak Jaya.
Bowo mencoba menengahi.
"Bagaimana kalau cabainya diganti?"
Pak Jaya mengangguk.
Bu Rina juga mengangguk.
Bowo lega.
Sampai Pak Jaya berkata,
"Silakan ganti pakai cabai yang sudah berbuah."
Bu Rina langsung berdiri lagi.
"Kalau begitu kambing saya minta diganti jadi sapi!"
Pertengkaran dimulai lagi.
Bowo mulai memahami mengapa Ketua RT sebelumnya terlihat sepuluh tahun lebih tua dari usia sebenarnya.
Seminggu kemudian, warga mengadakan kerja bakti.
Bowo berusaha memberi semangat.
"Ayo, kita bersihkan selokan!"
Semua mengangguk.
Lima menit kemudian yang bekerja hanya Bowo dan tiga anak kecil yang sebenarnya sedang mencari ikan kecil.
Pak Roni sibuk mengawasi.
Pak Jaya sibuk memberi saran.
Pak Herman sibuk memotret.
Sementara yang lain berkata,
"Pak RT hebat ya, semangat sekali."
Bowo baru sadar.
Ia sedang memimpin... tetapi juga menjadi tenaga utama.
Belum selesai urusan itu, datang laporan baru.
Seekor monyet masuk ke permukiman.
Monyet itu mencuri pisang, kerupuk, bahkan sempat membawa jemuran seorang ibu.
Warga panik.
"Pak RT harus bertindak!"
Bowo yang belum pernah menghadapi monyet selain di kebun binatang hanya bisa menelan ludah.
Dengan bermodal ember, sapu, dan topi proyek, ia memimpin operasi penangkapan.
Hasilnya?
Monyet itu justru mencuri topinya.
Seluruh warga tertawa.
Anak-anak bahkan bertepuk tangan melihat monyet bergaya memakai topi kuning.
Untung petugas pemadam kebakaran datang membantu.
Monyet akhirnya berhasil diamankan.
Sejak hari itu anak-anak memanggil Bowo dengan julukan "Pak RT Sahabat Monyet."
Puncak kekacauan terjadi menjelang lomba tujuh belas Agustus.
Bowo ditugaskan menjadi koordinator seluruh acara.
Ia membuat daftar perlombaan.
Balap karung.
Makan kerupuk.
Tarik tambang.
Panjat pinang.
Semua tampak sempurna.
Sampai ia sadar telah mencetak poster dengan tulisan besar:
"LOMBA MAKAN KETUPAT."
Padahal yang dimaksud warga adalah makan kerupuk.
Entah bagaimana pikirannya bisa berubah.
Akibatnya, belasan ibu datang membawa ketupat lengkap dengan opor.
Anak-anak bingung.
Panitia bingung.
Juri lebih bingung lagi.
Pak Darto berbisik,
"Pak RT... ini lombanya atau lebaran?"
Seluruh lapangan pecah oleh tawa.
Akhirnya lomba benar-benar diubah menjadi makan ketupat.
Ternyata lebih sulit daripada makan kerupuk.
Peserta harus menghabiskan ketupat tanpa menjatuhkannya.
Pemenangnya justru seorang nenek berusia tujuh puluh tahun yang berkata santai,
"Beginian mah tiap lebaran."
Malam pembagian hadiah berlangsung meriah.
Bowo berdiri di atas panggung.
Ia merasa selama beberapa bulan terakhir hidupnya berubah total.
Ia memang sering salah.
Sering panik.
Sering menjadi bahan tertawaan.
Namun perlahan ia mengenal semua warganya.
Ia tahu siapa yang diam-diam suka membantu tetangga.
Siapa yang selalu menyumbang makanan saat ada acara.
Siapa yang diam-diam membersihkan musala setiap subuh.
Pak Darto menghampirinya.
"Masih menyesal datang karena pisang goreng?"
Bowo tertawa.
"Sedikit."
"Kalau disuruh mengulang?"
Bowo berpikir sejenak.
"Lain kali saya tetap datang."
"Karena gorengannya?"
Bowo menggeleng.
"Karena ternyata punya tetangga yang bisa tertawa bersama jauh lebih mengenyangkan daripada sepiring gorengan."
Semua yang mendengar langsung bertepuk tangan.
Pak Roni berteriak,
"Kalau begitu gorengannya buat saya saja!"
Gelak tawa kembali memenuhi balai warga.
Setahun kemudian masa jabatan Bowo selesai.
Warga berkumpul lagi untuk memilih Ketua RT baru.
Pak Darto berdiri seperti biasa.
"Siapa yang bersedia menjadi Ketua RT?"
Semua warga menoleh ke arah Bowo.
Bowo langsung menyembunyikan kedua tangannya di bawah kursi.
Ia bahkan duduk di atas tangannya sendiri.
Pak Darto tertawa.
"Tenang, Pak Bowo. Kali ini bukan Bapak."
Bowo menghela napas lega.
Lalu terdengar suara dari belakang.
"Pak, siapa yang mau tambah pisang goreng?"
Tanpa sadar, seluruh warga mengangkat tangan bersamaan.
Balai warga kembali dipenuhi tawa.
Dan sejak hari itu, setiap rapat selalu menyediakan lebih banyak pisang goreng.
Bukan karena semua orang lapar.
Melainkan agar mereka selalu mengingat malam ketika seorang pria yang hanya ingin mencari camilan justru menemukan keluarga besar dalam diri para tetangganya.