Sebagai mandor perempuan, kadang aku mendapati tatapan sinis para tukang. Sumber daya manusia mereka mungkin yang membuat pikiran mereka tetap kolot.
Apalagi hari ini ada kasus, seorang kenek terpergok masa lalunya. Dulu ia pernah merampok, dan membiarkan korbannya kehabisan darah hingga tewas. Awalnya aku pun takut, curiga, dan paranoid. Tapi setelah Budi menjelaskan dengan penuh airmata, aku bersimpati padanya.
Baru saja aku memikirkan bagaimana caranya aku menjelaskan. Bahwa dalam suasana panik orang bisa saja berbuat sangat gelap, seorang kuli muda bernama Mitra menyatakan dia keberatan bekerja dengan seorang pembunuh. Dia mengultimatum, dirinya atau Budi yang keluar.
Aku bingung, bukan karena keduanya sama cakapnya. Tapi lebih kepada, aku tak mau keduanya kehilangan pekerjaan. Lagipula jika aku katakan Mitra yang keluar, sebab aku tak mentolerir orang yang tidak toleran. Sudah dipastikan semua pekerja akan ikut keluar mengikuti mitra.
Itu sama artinya aku harus mengawasi tukang yang berbeda. Padahal aku baru mengingat penuh watak dan gaya kerja mereka beberapa hari lalu. Jika mereka semua keluar, aku harus mengulang sejak awal.
Kemudian atasanku datang, ia menyatakan ia meminta izin padaku karena dia menghormatiku. Secara halus Pak Dimas meminta aku untuk mengeluarkan Budi, karena bisa mengganggu ritme kerja yang lain.
Rasanya ingin aku berkata, ritme mereka terganggu karena pikiran buruk mereka sendiri. Tapi aku hanya bisa mengangguk. Aku sendiri pun mempertahan pekerjaanku sendiri, sebab suamiku tak bisa bekerja lagi akibat kecelakaan. Membuatku mengiyakan perintah Pak Dimas.
Kupanggil Budi. Tapi sebelumnya aku sudah memberitahunya, supaya semua yang dikatakan Pak Dimas tidak dimasukkan ke hati. Ia pun mengangguk. Budi di hadapan Pak Dimas hanya mengangguk. Mengakui dulu dirinya khilaf. Tapi ada yang membuat aku terkejut, Budi berani menyatakan bahwa seluruh doanya telah ditebus di penjara.
Akibatnya nafas Pak Dimas menjadi berat, dari matanya aku tahu dia serba salah. Sepersekian detik berpikir, akhirnya atasanku itu berkata, bahwa ia akan memberikan sedikit insentif pribadi. Tak disebutkan jumlahnya, tapi Pak Dimas menyatakan jumlahnya cukup buat modal usaha kecil.
Sedikit kulirik cek yang diberikan Pak Dimas, sekitar lima juta, mungkin sekitar itu, karena kulihat tanda titik setelah angka lima. Budi pun pamit, aku memandangnya dengan iba. Mungkin uang lima juta memang bisa dipakai buat modal kecil, tapi bagaimana jika Budi punya banyak kebutuhan lain.
Sepulang kerja aku mampir ke rumahnya, tepatnya lingkungan tempat tinggalnya, karena aku tak tahu alamat pastinya. Kudengar dari Mitra, jalan dan nama kampungnya. Tapi tak begitu jelas. Yang pasti alamatnya ada di Perkampungan Ksatria di daerah Kebon Jeruk.
Aku menunggu di dalam mobilku, lalu dia lewat. Aku bingung kenapa Budi tidak mengenali mobilku. Padahal ia seharusnya sudah sering melihat mobilku keluar masuk. Mungkin rumor bahwa matanya rabun benar.
Lalu kudapati ia memarkirkan motornya, ia melihat sepasang kekasih yang sedang bermadu cinta di pinggir trotoar yang agak gelap. Budi menghardik mereka kemudian mengancam akan melaporkan pemudi yang ternyata tetangga Budi. Dengan gemetaran pemudi tersebut mengatakan agar Budi tidak melaporkan pada sang ayah. Budi mengiyakan, tapi ia meminta uang lima ratus ribu rupiah. Aku marah, ini jelas pemalakan.
Aku berniat ikut campur, tapi aku batalkan, Dan setelah mobilku kembali tak Budi sadari, aku ikuti motornya. Ternyata dugaanku benar, rumah Budi begitu kumuh. Kulit cat mengelupas di banyak bagian, dan warnanya pun membusuk.
Kulihat seorang wanita berusia 70an membukakan pintu, Budi mencium tangan wanita tersebut yang ternyata ibunya. Kemudian dari dalam muncul pemuda, awalnya aku kira pemuda, namun ternyata pria berpenampilan seperti anak kecil. Mungkin usianya empat puluh tahunan. Aku rasa dia orang dengan gangguan jiwa.
Aku bisa mendengar pembicaraan mereka. Sebab sepertinya saudara Budi yang aku dengar namanya adalah Rudi cukup keras suaranya, dan Budi pun menjawab juga dengan suara keras. Awalnya aku kira mereka ribut, karena suaranya sampai ke dalam mobilku.
Sampai ada orang lewat lalu kutanyai. Ternyata Bu Puji, ibu mereka, agak kurang pendengarannya. Jadi mereka berbicara dengan suara keras. Saat kutanya lagi, apa para tetangga tak masalah? Ia menjawab, semua warga sudah memaklumi.
Lalu akhirnya kudengar pengakuan dari Budi, bahwa ia baru saja dipecat. Suara Puji yang makin melemah setelah mendengar pengakuan Budi, juga kalimat lemah darinya, bahwa uang dari Pak Dimas tak cukup untuk bertahan hidup, membuatku gemetar. Puji juga menggerutu, karena anaknya itu kini pekerjaan utamanya adalah memalak.
Saat mendengar suara retakan isak dari Puji, aku tidak kuat lagi. Aku pergi, kuantisipasi supaya airmata tidak membasahi pipi. Di dalam kepala masih terputar jelas suara Puji yang melemah. Juga retakan isak wanita tua tersebut. Suaranya jelas terulang berulang.
Aku pun akhirnya tak tahan, airmataku tumpah. Aku mengemudi sambil berderai airmata. Lalu aku melongok, aku terkejut. Kulihat Budi menekan klakson saat melewati mobilku dengan motornya.
Jadi... Budi yang tadi aku perhatikan dengan ibu dan saudaranya itu siapa?