Maya tidak pernah mempermasalahkan pekerjaan malam.
Sebagai petugas arsip di Gedung Administrasi Kota Pusaka, jam kerjanya dimulai pukul sepuluh malam hingga enam pagi. Hampir seluruh lantai gedung kosong pada jam-jam itu. Hanya ada beberapa petugas keamanan, teknisi, dan dirinya.
Gedung itu memiliki enam lantai.
Anehnya, menurut denah resmi, arsip hanya berada sampai lantai lima.
Namun sejak hari pertama bekerja, kepala bagian arsip selalu memberi satu pesan yang terdengar aneh.
"Kalau lift berhenti di lantai enam, jangan turun."
Maya mengira itu hanya candaan pegawai lama untuk menakut-nakuti karyawan baru.
Masalahnya, tombol angka enam memang tidak ada di lift.
Selama hampir setahun, tidak pernah terjadi sesuatu yang aneh.
Hingga suatu malam, listrik sempat padam beberapa detik.
Ketika menyala kembali, lift yang sedang dinaiki Maya berhenti.
Pintu terbuka perlahan.
Di atas kusen pintu tidak ada angka.
Hanya lampu kecil berwarna hijau yang berkedip enam kali.
Di depan lift terbentang lorong panjang dengan rak-rak arsip yang jauh lebih banyak daripada seluruh koleksi di lima lantai bawah.
Udara di sana sangat dingin.
Lampu neon menyala redup.
Tidak terdengar suara pendingin ruangan ataupun langkah kaki.
Hanya kesunyian yang terasa terlalu sempurna.
Maya buru-buru menekan tombol tutup pintu.
Lift kembali bergerak turun seolah tidak pernah berhenti.
Sesampainya di lantai dua, ia memeriksa panel.
Tetap saja hanya ada tombol satu sampai lima.
Ia memilih menganggap semua itu sebagai gangguan listrik.
Dua malam kemudian, seorang petugas keamanan bernama Pak Darto menghampirinya.
"Wajahmu pucat."
"Saya mungkin kurang tidur."
Pak Darto menatapnya cukup lama.
"Kamu melihat lantai enam?"
Maya membeku.
"Bapak tahu?"
"Lima belas tahun bekerja di sini, saya pernah melihatnya sekali."
"Lalu?"
"Saya tidak pernah mencoba turun."
"Kenapa?"
Pak Darto menggeleng.
"Karena teman saya turun."
"Terus?"
"Besok paginya dia mengundurkan diri."
"Apa yang terjadi?"
"Sampai sekarang dia tidak pernah mau membicarakannya."
Rasa penasaran mulai menguasai Maya.
Ia mencari dokumen lama tentang gedung itu.
Menurut catatan pembangunan, gedung tersebut memang hanya memiliki lima lantai.
Tidak ada proyek penambahan.
Tidak ada renovasi besar.
Tidak ada lantai keenam.
Semua data resmi mengatakan hal yang sama.
Namun seorang pegawai pensiunan memberi informasi berbeda.
"Dulu pernah ada ruang arsip rahasia."
"Di mana?"
"Tidak ada yang tahu."
"Kenapa dirahasiakan?"
"Katanya arsip itu tidak berisi masa lalu."
"Lalu?"
"Berisi sesuatu yang belum terjadi."
Pegawai tua itu tertawa kecil setelah mengucapkannya, seolah ia sendiri tidak yakin dengan cerita tersebut.
Malam berikutnya, Maya sengaja menaiki lift tepat pukul dua belas.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Lift melewati lantai satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima.
Lalu...
Berhenti.
Pintu terbuka sendiri.
Lorong yang sama kembali muncul.
Kali ini Maya melangkah keluar.
Udara terasa lebih dingin daripada sebelumnya.
Rak-rak besi berjajar tanpa ujung.
Di setiap rak terdapat ribuan map berwarna abu-abu.
Tidak ada nama.
Tidak ada nomor.
Hanya tanggal.
Maya mengambil salah satu map.
Tanggalnya adalah tiga hari setelah malam itu.
Isi map membuat napasnya tercekat.
Laporan kecelakaan bus di Jalan Lingkar Timur.
Dua belas korban luka.
Satu korban meninggal.
Semua nama tercantum lengkap.
Ia segera membuka ponselnya.
Tidak ada berita apa pun.
Karena tanggal kejadian memang belum tiba.
Dengan tangan gemetar, ia mengembalikan map tersebut.
"Ini pasti lelucon."
Namun siapa yang sanggup membuat ribuan dokumen sedetail itu?
Ia terus berjalan.
Di ujung lorong terdapat meja kayu tua.
Di atasnya ada buku besar bertuliskan:
ARSIP YANG MENUNGGU TERJADI
Halamannya berisi daftar tanggal selama puluhan tahun.
Setiap tanggal diberi tanda.
Sebagian telah dicoret.
Sebagian masih kosong.
Saat Maya membalik halaman terakhir, ia melihat tanggal hari itu.
Di sampingnya tertulis satu nama.
MAYA PRADIPTA
Tangannya langsung dingin.
Di bawah nama itu terdapat satu kalimat.
"Membuka map yang bukan miliknya."
Lampu lorong mendadak berkedip.
Semua rak mengeluarkan suara berderit bersamaan.
Seolah ribuan map sedang bergeser sendiri.
Maya berlari menuju lift.
Namun lorong berubah.
Lift sudah tidak ada.
Sebagai gantinya hanya tembok putih.
Dari belakang terdengar suara kertas dibalik.
Lembar demi lembar.
Cepat.
Semakin cepat.
Ia menoleh.
Tak ada siapa-siapa.
Tetapi ribuan map di rak mulai terbuka sendiri.
Kertas-kertasnya beterbangan memenuhi lorong.
Di setiap lembar hanya ada satu kalimat.
"Belum waktunya."
"Belum waktunya."
"Belum waktunya."
Tulisan itu terus muncul pada setiap halaman.
Suara kertas yang beterbangan berubah menjadi seperti bisikan ratusan orang.
Maya menutup telinganya.
Namun bisikan itu justru terdengar semakin jelas.
"Jangan membaca hari esok..."
"Jangan membawa pulang masa depan..."
"Arsip harus tetap utuh..."
Di tengah kepanikan, ia melihat pintu besi kecil yang sebelumnya tidak ada.
Tanpa berpikir panjang, ia membukanya.
Di balik pintu terdapat lift.
Pintu lift langsung menutup begitu Maya masuk.
Ketika terbuka kembali, ia sudah berada di lantai satu.
Jam dinding menunjukkan pukul 00.07.
Hanya tujuh menit berlalu.
Padahal menurut perasaannya, ia berada di lantai enam hampir satu jam.
Esok paginya, berita mengejutkan muncul di semua media.
Sebuah bus mengalami kecelakaan di Jalan Lingkar Timur.
Jumlah korban.
Lokasi.
Bahkan nama-namanya.
Sama persis dengan isi map yang dibaca Maya.
Ia langsung merasa mual.
Semalaman ia berusaha meyakinkan diri bahwa semua itu hanyalah mimpi.
Kini ia tahu, itu nyata.
Maya memutuskan berhenti bekerja.
Saat mengurus surat pengunduran diri, kepala bagian arsip hanya mengangguk pelan.
"Saya sudah menduga."
"Bapak tahu tentang lantai itu?"
Pria tua tersebut tidak menjawab.
Ia hanya membuka laci mejanya.
Di dalamnya terdapat sebuah map abu-abu.
Tanpa identitas.
Tanpa nomor.
"Semua orang yang pernah melihat lantai enam akan datang ke sini lagi suatu hari."
"Maksud Bapak?"
"Bukan karena mereka ingin."
"Tapi karena arsipnya belum selesai."
Enam bulan berlalu.
Maya pindah ke kota lain dan bekerja di perpustakaan universitas.
Ia mulai melupakan kejadian itu.
Hingga suatu sore seorang mahasiswa mengembalikan buku tanpa sengaja menyelipkan sebuah map abu-abu di antara halaman-halamannya.
Map itu tidak memiliki nama.
Hanya sebuah tanggal.
Tanggal esok hari.
Dengan napas tertahan, Maya membukanya.
Isinya bukan laporan kecelakaan.
Bukan bencana.
Melainkan berita kehilangan.
Korban yang dinyatakan hilang hanya satu orang.
Namanya...
Maya Pradipta.
Sebelum sempat menutup map itu, lampu perpustakaan padam sesaat.
Ketika menyala kembali, terdengar bunyi "ting..." dari ujung ruangan.
Sebuah lift tua yang tidak pernah ada di perpustakaan itu kini berdiri dengan pintu terbuka.
Di atasnya, sebuah lampu hijau berkedip perlahan.
Enam kali.
Di dalam lift, rak-rak arsip tampak memanjang ke dalam kegelapan.
Sebuah map baru perlahan bergeser keluar sendiri.