Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
64
Pakar Dadakan
Komedi

Rafi datang ke sebuah perusahaan bernama PT Lintas Gagasan hanya untuk melamar pekerjaan sebagai staf administrasi.

Ia sudah mempersiapkan semuanya.

Curriculum vitae.

Fotokopi ijazah.

Surat lamaran.

Bahkan pulpen cadangan.

Yang tidak ia persiapkan adalah pertanyaan dari direktur perusahaan.

"Menurut Anda, bagaimana cara meningkatkan produktivitas perusahaan?"

Rafi terdiam.

Ia sebenarnya tidak tahu.

Namun ia teringat sebuah video motivasi yang pernah ditontonnya beberapa hari sebelumnya.

"Menurut saya," katanya hati-hati, "perusahaan harus mengetahui masalah sebelum mencari solusinya."

Direktur bernama Pak Surya langsung mengangguk serius.

"Menarik."

Rafi merasa jawabannya cukup aman.

Ia melanjutkan.

"Kalau masalahnya sudah diketahui, kita bisa menentukan apa yang harus dilakukan."

Pak Surya menatap manajer di sebelahnya.

"Ini orang bagus."

Rafi tersenyum.

Padahal ia baru saja mengatakan sesuatu yang menurutnya sangat umum.

Lima menit kemudian, wawancara berubah menjadi sesuatu yang tidak masuk akal.

"Kalau kami meminta Anda membantu mengevaluasi sistem kerja perusahaan, sanggup?"

Rafi ingin menjawab tidak.

Namun mulutnya berkata,

"Saya akan berusaha."

Pak Surya tersenyum lebar.

"Bagus. Mulai besok Anda bekerja sebagai konsultan."

Rafi hampir jatuh dari kursi.

"Konsultan?"

"Iya."

"Tapi saya melamar sebagai staf administrasi."

"Kita lihat nanti."

Begitulah Rafi mendapatkan pekerjaan pertamanya.

Tanpa pengalaman.

Tanpa pelatihan.

Dan tanpa mengetahui apa sebenarnya tugas seorang konsultan.

Pagi berikutnya, ia datang mengenakan kemeja putih.

Seorang sekretaris menyambutnya.

"Selamat pagi, Pak Rafi."

"Jangan panggil saya Pak."

"Baik, Pak."

Rafi menyerah.

Ia diberi ruangan kecil dengan papan nama:

KONSULTAN STRATEGIS

Rafi menatap tulisan itu selama hampir satu menit.

"Strategis apanya?"

Tidak ada yang menjawab.

Rapat pertamanya berlangsung pukul sembilan.

Direktur, manajer keuangan, kepala pemasaran, dan beberapa staf duduk mengelilingi meja.

Pak Surya membuka rapat.

"Kita ingin mendengar analisis Rafi."

Semua mata tertuju kepadanya.

Rafi membuka laptop.

File kosong.

Tidak ada analisis.

Ia menarik napas.

"Baik."

Semua menunggu.

Rafi berkata,

"Menurut saya, kita perlu melihat kondisi perusahaan dari berbagai sudut."

Para manajer mengangguk.

Ia melanjutkan.

"Kita tidak boleh hanya melihat apa yang terlihat."

Kepala pemasaran mencatat sesuatu.

Rafi semakin panik.

"Kadang masalah berada di tempat yang tidak kita perhatikan."

Direktur mengangguk penuh perhatian.

"Benar."

Rafi mulai menyadari sesuatu.

Semakin umum kalimatnya, semakin serius mereka mendengarkan.

Ia menutup laptop.

"Saya rasa cukup untuk hari ini."

Rapat selesai.

Lima menit kemudian, kepala pemasaran menghampirinya.

"Analisis Anda dalam."

Rafi tersenyum kaku.

"Dalam sekali."

Sejak hari itu, reputasinya berkembang dengan cepat.

Ketika ditanya bagaimana cara meningkatkan penjualan, ia menjawab,

"Kita harus memahami pelanggan."

Ketika ditanya bagaimana mengurangi pengeluaran, ia berkata,

"Kita harus mengendalikan biaya."

Ketika ditanya bagaimana meningkatkan semangat karyawan, jawabannya,

"Kita harus menciptakan lingkungan kerja yang mendukung."

Semua jawaban tersebut dianggap sebagai strategi tingkat tinggi.

Suatu hari, manajer keuangan bahkan meminta pendapat tentang laporan yang sangat rumit.

Rafi menatap angka-angka tersebut.

Ia tidak mengerti apa pun.

"Menurut Anda?"

Rafi menunjuk salah satu kolom.

"Ini perlu diperhatikan."

Manajer keuangan terkejut.

"Yang mana?"

"Yang angkanya paling mencolok."

Manajer itu menatap laporan.

"Benar juga."

Sejak saat itu, Rafi mulai takut pada dirinya sendiri.

Bukan karena ia merasa pintar.

Justru karena semua orang mengira ia pintar.

Masalah besar muncul ketika perusahaan mengalami penurunan penjualan.

Pak Surya mengumpulkan seluruh manajemen.

"Kita butuh solusi."

Semua orang memandang Rafi.

Rafi menelan ludah.

"Kenapa semua melihat saya?"

Pak Surya menjawab santai.

"Karena Anda konsultan."

Rafi ingin mengatakan bahwa ia hanya lulusan baru yang pernah menonton video motivasi.

Namun tidak ada kesempatan.

"Baik," katanya.

Ia berdiri.

"Masalah kita adalah..."

Semua menunggu.

"...kita terlalu sibuk mencari masalah."

Ruangan hening.

Rafi sendiri tidak tahu maksudnya.

Lalu kepala pemasaran mengangkat tangan.

"Saya setuju."

Manajer keuangan ikut mengangguk.

"Saya juga."

Pak Surya tersenyum.

"Jadi?"

Rafi berpikir cepat.

"Kita perlu melakukan sesuatu yang berbeda."

"Contohnya?"

Rafi melihat kalender di dinding.

Hari itu Jumat.

Ia berkata,

"Kita dengarkan pelanggan secara langsung."

Pak Surya berdiri.

"Bagus! Mulai minggu depan."

Rafi duduk kembali.

Dalam hati ia berkata, Kenapa ide itu terdengar masuk akal?

Minggu berikutnya, perusahaan mengadakan acara bertemu pelanggan.

Rafi ditugaskan memimpin.

Ia gugup.

Namun ternyata acara berjalan baik.

Pelanggan menyampaikan berbagai keluhan yang selama ini tidak diketahui manajemen.

Ada yang mengeluhkan pelayanan.

Ada yang meminta sistem pembayaran lebih sederhana.

Ada yang mengatakan produk mereka sulit digunakan.

Tim perusahaan mulai mencatat semuanya.

Setelah acara selesai, Pak Surya menghampiri Rafi.

"Ternyata metode Anda berhasil."

Rafi tersenyum.

"Ini bukan metode saya."

"Lalu?"

"Saya hanya menyuruh kita bertanya kepada pelanggan."

Pak Surya tertawa.

"Kadang solusi terbaik memang sederhana."

Untuk pertama kalinya Rafi merasa ia benar-benar melakukan sesuatu yang berguna.

Sebulan kemudian, perusahaan mengalami perubahan besar.

Sistem pelayanan diperbaiki.

Produk diperbarui.

Keluhan pelanggan berkurang.

Penjualan perlahan meningkat.

Nama Rafi semakin terkenal di kantor.

Bahkan sebuah perusahaan lain menghubungi PT Lintas Gagasan untuk meminta rekomendasi konsultan.

Pak Surya memanggil Rafi.

"Mereka ingin Anda membantu proyek mereka."

Rafi langsung panik.

"Pak, saya tidak bisa."

"Kenapa?"

"Saya bukan konsultan sungguhan."

Pak Surya tertawa.

"Saya tahu."

Rafi terdiam.

"Sejak awal saya tahu Anda belum berpengalaman."

"Lalu kenapa saya diterima?"

"Karena Anda tidak berusaha terlihat paling pintar."

Rafi mengernyit.

"Saya justru sering tidak tahu harus menjawab apa."

"Itu sebabnya Anda selalu bertanya atau kembali melihat masalah dari awal."

Pak Surya menepuk bahunya.

"Perusahaan tidak selalu membutuhkan orang yang punya semua jawaban. Kadang perusahaan membutuhkan orang yang berani mengatakan bahwa jawabannya belum ditemukan."

Rafi tersenyum.

Untuk pertama kalinya ia merasa gelar "konsultan" itu tidak terlalu menakutkan.

Beberapa bulan kemudian, Rafi benar-benar mengikuti pelatihan manajemen.

Ia membaca buku.

Mengikuti seminar.

Belajar membuat analisis.

Dan perlahan menjadi konsultan yang benar-benar memahami pekerjaannya.

Namun satu kebiasaan tidak pernah hilang.

Setiap kali rapat berlangsung terlalu lama, seseorang biasanya bertanya,

"Rafi, bagaimana pendapatmu?"

Ia selalu membuka laptop, menarik napas, lalu berkata,

"Pertama, mari kita lihat masalahnya."

Semua orang langsung diam dan mengambil catatan.

Rafi tersenyum.

Ia akhirnya tahu kenapa kalimat itu selalu berhasil.

Bukan karena terdengar cerdas.

Melainkan karena sebagian besar orang memang terlalu sibuk mencari jawaban sampai lupa memahami pertanyaannya.

Dan sejak menjadi "pakar dadakan" yang tidak sengaja, Rafi belajar bahwa terkadang seseorang tidak perlu menjadi yang paling pintar di ruangan.

Cukup menjadi orang yang mau mendengarkan, berani mengakui ketidaktahuan, dan tidak takut mengatakan, "Saya belum tahu, mari kita cari tahu bersama."

Meski begitu, setiap kali melihat papan nama KONSULTAN STRATEGIS di depan ruangannya, Rafi masih menghela.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Rekomendasi