Aku punya teori bahwa manusia itu seperti frekuensi radio. Ada yang memancar sangat kuat sampai suaranya memenuhi ruangan, dan ada yang frekuensinya begitu tipis sampai orang lain menganggapnya hanya derau statis.
Lalu, di mana posisiku? Ya, aku ada dalam ruang yang kedua.
Maya satu-satunya orang yang terkadang mencoba memutar kenop radionya untuk mencariku. Kami berteman sejak kuliah. Selalu duduk berdampingan di kelas. Saling mengejek dan mendukung di waktu yang bersamaan. Jenis pertemanan yang awet karena sejatinya tidak pernah saling menuntut.
Memang, belakangan aku merasakan keberadaanku bagaikan energi darurat untuknya. Saat ban mobilnya bocor jam sepuluh malam, dia lebih memilih meneleponku. Dia juga tidak malu merengek supaya aku mau menemaninya membeli hadiah ulang tahun untuk Aris.
"Bum, jujur, kamu itu orang paling baik yang aku kenal," katanya suatu sore, sambil memilih dasi untuk Aris di sebuah mal. "Kamu nggak kepikiran cari pacar, gitu? Biar nggak direpotin aku terus."
Aku hanya tersenyum tipis. Pertanyaannya ibarat pisau tumpul yang terus ditekan ke dadaku. Dia tidak tahu bahwa aku sudah pernah duduk di kencan-kencan yang canggung. Aku duduk di sebuah kursi romantis, tetapi hanya menjadi pendengar yang melankolis. Sebab, setelahnya, aku tidak pernah dikirimi pesan lagi. Mungkin mereka mencium bau keputusasaan yang kusembunyikan di balik sikap santunku.
Mulutku selalu bisu. Otakku selalu mendadak kosong. Aku tidak punya magnet. Aku tidak punya gravitasi. Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tetap tinggal di orbitku. Tidak ada yang mengitariku ada, selain Maya.
Hingga malam itu, di teras rumahnya. Maya baru saja bertengkar hebat dengan Aris. Dia menangis sampai tubuhnya gemetar. Aris pergi begitu saja karena suatu urusan yang menurutnya lebih penting.
Aku datang ketika semuanya sudah selesai, menyisakan reruntuhan emosi. Awalnya, aku hanya bermaksud mengembalikan sweater Maya yang tertinggal di mobilku. Namun, melihat luka di wajahnya, aku langsung menyodorkan bahuku.
Maya langsung bersandar dan menumpahkan semua sumpah serapah tentang kepiluannya. Dia merasa tidak terlihat lagi bagi Aris. Hanya menjadi pajangan yang dipamerkan di acara kantor atau saat makan malam bersama teman-teman kekasihnya.
"Aku cuma pengen dicari, Bum. Bukan hanya dibutuhkan saat dia perlu," isaknya. "Aku pengen merasakan lagi kepanikannya saat aku nggak angkat teleponnya. Aku ingin kembali menjadi prioritasnya saat dia butuh pelarian dari pekerjaannya. Aku pengen merasa sangat diinginkan sampai-sampai dia rela melakukan kesalahan demi aku."
Aku merasakan ada yang patah di diriku. Ada retakan yang perlahan terbuka dengan cara dipaksakan. Bukan karena kasihan kepadanya, tetapi karena aku menyadari betapa ironisnya dia. Dia mengeluh tidak diinginkan, padahal tepat di sampingnya, ada seorang pria yang sudah sepuluh tahun menghitung jumlah kedipan matanya.
Sungguh ironi yang getir. Sama halnya dengan lampu teras yang hanya dihidupkan untuk mengusir gelap, menjadi "orang baik" ternyata hanya sekadar cara paling sopan untuk dilupakan. Aku paham. Jika aku terus menjadi teman yang menetap, aku akan selamanya menjadi udara. Tidak terlihat, meski selalu ada untuk mendekapnya.
"Aris tidak akan pernah mencarimu seperti itu," ujarku. Suaraku memberat, seperti benturan nurani dan akal sehat.
Maya menoleh, matanya memantulkan keperihan yang teramat dalam. "Apa maksudmu?"
"Dia merasa memikimu seutuhnya. Dan itu masalahnya. Dia tidak perlu takut kehilanganmu, karena kamu selalu ada di tempat yang seharusnya." Aku berdiri, menatapnya dengan kejujuran yang mungkin menghancurkan. "Kamu ingin merasa dicari? Kamu ingin tahu rasanya diinginkan sampai seseorang rela mengacaukan moralitasnya?"
Aku menarik napas panjang. Inilah evaluasi terakhir dari hidupku yang kosong. Jika aku tidak bisa masuk lewat pintu depan, aku akan masuk dengan mendobrak dindingnya.
"Jangan minta Aris melakukannya. Dia tidak punya alasan untuk itu." Aku melangkah mendekat, masuk ke zona nyamannya yang selama ini tidak berani kusentuh. Ruangan terbentang dikelilingi banyak bintang di atas, tetapi aku seakan tersedot dalam pengap yang mencekik. "Mintalah padaku."
Maya terdiam, napasnya tertahan. Aku duduk sesaat, meredam getaran yang kian hebat di tubuhku, lalu aku kembali menadahkan wajahku ke dalam pandangannya.
"Jadikan aku selingkuhanmu."
Kalimat itu meluncur bukan sebagai godaan, apalagi candaan. Ia adalah permohonan yang merusak dan mengerikan. "Aku tidak butuh status. Aku tidak butuh diakui di depan orang-orang. Aku hanya ingin ponselku bergetar karena kamu sedang bersembunyi di kamar mandi hanya untuk mengirimiku pesan. Aku ingin kamu berbohong pada semua orang hanya untuk menemuiku selama sepuluh menit. Aku ingin menjadi alasan kamu merasa bersalah, karena setidaknya, rasa bersalah itu membuktikan bahwa aku punya dampak dalam hidupmu."
"Bum, kamu..."
"Jadikan aku selingkuhanmu, May!” Aku mengulang ucapanku. Lebih menekan, lebih memohon. “Cintai aku di tempat gelap, tempat di mana Aris tidak bisa melihat. Jadikan aku dosa yang paling ingin terus kamu ulang.”
Maya tidak menjawab malam itu. Dia juga tidak mengusirku dengan makian atau tamparan. Dia hanya menatapku seolah baru pertama kali melihatku sebagai laki-laki, bukan sekadar 'Bumi yang baik'. Kemudian, dia masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.
Mungkin dia akan membenciku. Mungkin dia tidak akan pernah meneleponku lagi. Anehnya, aku merasa puas. Aku merasa tidak lagi menjadi derau statis di frekuensi radionya. Aku telah mengirimkan sinyal yang begitu kuat hingga dia harus mematikan radionya agar tidak terganggu.
Malam ini, tiga malam setelah semua itu tumpah, aku duduk di mobilku sambil memandangi jendela kamarnya. Aku tidak berani mengetuk. Hanya mampu berbicara dengan ponselku yang gelap nan sunyi.
Aku sudah menimbang hasilnya. Jika dia mengiyakan, aku akan mendapatkan yang kuminta: rasa dibutuhkan yang ilegal. Jika dia menolak, aku akhirnya punya alasan untuk benar-benar hilang dari hidupnya.
Dua-duanya adalah kemenangan bagiku. Mungkin.
Aku adalah Bumi, pria yang cukup berbahaya untuk diingat. Pria yang baru saja menukar seluruh harga dirinya demi sebuah getaran di layar ponsel.
Akan tetapi, mungkin kepastian itu masih mengeram di bawah temaram, di dalam kamar. Aku akan menunggunya, menggelar sabar tanpa takaran.
Aku kembali menghidupkan mesin mobil. Melaju ke depan, walau senyap mengaburkan batas kewarasan.
Tidak niat untuk berkhianat atau mengkhianati. Aku sekadar ingin merasakan bahwa aku sangat dibutuhkan. Sebuah pencapaian menyedihkan dari kesepian yang tak pernah diselesaikan.