Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
4
Datang
Horor
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

“Dia datang,” ucap Ibu dengan suara serak dan menggigil.

Setiap malam, selepas magrib, selama dua tahun terakhir, Ibu selalu berkata seperti itu. Kadang, aku menangis ketakutan. Kadang, aku hanya mengangguk, membenarkannya dalam hati. Namun, sesekali aku berbicara dengan nada tinggi kepadanya, bersikeras bahwa tidak ada siapa pun di luar—lalu menyeretnya ke kamar.

Malam ini, aku tidak tahu harus menjadi yang mana.

Pintu depan sama sekali tidak diketuk, tetapi udara di ruang tamu mendadak mendingin, mencengkeram tengkuk. Tidak ada yang seharusnya pulang. Di rumah ini, hanya ada aku dan Ibu yang tinggal.

Ibu meringkuk di sudut sofa, jemarinya yang pucat meremas ujung daster.

“Tidak ada siapa-siapa, Bu.” Aku mencoba tetap tenang. Sementara, napasku mulai tersengal, paru-paru menyempit.

“Aaa… ada. Di… sana.” Suara Ibu terputus-putus. Telunjuknya mengarah ke jendela di belakangku, memaksaku untuk melihat.

Aku menyibakkan tirai, tidak lebih dari sejengkal. Mataku memutar, menyisir sisi demi sisi dengan presisi.

Kosong. Hanya ada halaman depan yang temaram disiram cahaya lampu jalan yang berkedip.

“Apa yang sebenarnya Ibu lihat?” tanyaku, tegas dan menekan.

Tidak ada jawaban. Hening membungkus hawa panas yang merangsek ke kulitku.

Saat aku berbalik, Ibu sudah menatapku. Tatapannya sangat dalam, seolah mencari sesuatu yang pernah ia kenal. Lalu, perlahan berubah. Matanya menyipit, napasnya memburu.

“Pergi!” jeritnya tiba-tiba. “Jangan ambil wajah anakku!”

Aku terpaku. Suasana yang Ibu ciptakan membuat rumah meremang. Lantai seakan meraba kakiku. Bahkan, aku mendengar derit pintu-pintu terbuka, padahal semuanya tertutup rapat.

“Kembalikan anakku!” Ibu mengulang narasi yang sama.

“Ini aku, Bu,” pekikku.

Ibu menggeleng keras. Tubuhnya kian merapat ke sandaran sofa. “Bukan. Kamu bukan anakku.”

Aku ingin mendekat, tetapi langkahku tertahan cepat. Di bawah cahaya lampu gantung yang kelelahan, bayanganku tidak bergerak bersamaku.

Ia tertinggal, dan perlahan berdiri di depanku, melepaskan diri dari kakiku. Tingginya sama denganku. Rambutnya terurai sejajar dengan rambutku. Aku tidak melihat wajahnya, tetapi aku tahu ia sedang meniruku.

Aku tak berani berkedip. Hanya bisa menyembunyikan napas di tenggorokan, diikuti tawa gugup yang pecah tanpa kendali.

Bayangan itu menoleh. Ia menyeringai dengan deretan gigi penuh. Ia masih punya geraham yang utuh. Taringnya tampak lebih panjang dan lebih tajam.

Ibu terisak pelan. “Dia sudah di sini. Dia berhasil masuk.”

Benar. Semua yang Ibu katakan bukan delusi. Sesuatu memang datang, dan ia tidak perlu mengetuk pintu.

Lampu-lampu berkelip liar. Angin mengaum, merobek atap.

Bayangan itu berbisik, “Aku yang akan menjaganya untukmu.”

Ia tidak hanya meniru bentukku. Ia juga mencuri suaraku.

Tubuhku lumpuh. Pandanganku runtuh ke dalam gelap.

Seandainya aku lebih sabar, tidak terus-menerus menyangkal kedatangannya, mungkin aku tidak harus menanggung rasa bersalah dan kekalahan ini.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Rekomendasi