Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
29
Layangan di Langit Hitam
Drama

Bintang meraba plastik biru transparan yang ia temukan di dekat warung nasi. Wadah tipis pembungkus makanan yang tak mengenal rumahnya. Ia bisa ditemukan di mana saja, tetapi tidak mudah untuk didapat karena diburu semua anak.

Cahaya kebahagiaan terpancar di wajah Bintang. Ia memotong plastik itu, kemudian mengukurnya di rangka layangan yang ia buat beberapa hari lalu.

Setiap sisi direkatkan dengan lem aibon secara hati-hati. Tekstur lemnya kenyal dan mengelupas di kulit. Aromanya pekat dan menyengat, membuat kepala pusing jika terlalu lama menghirupnya.

Bintang menutup hidungnya dengan kerah kausnya yang sudah belel. Ia bertanya dalam hati: mengapa anak-anak kolong suka sekali menghirup lem aibon?

Setelah rangka dan plastik menyatu sempurna, ia mengambil benang jahit milik ibunya. Ia menggulungnya ke bekas kaleng susu kental manis yang biasa diminum adiknya yang berusia satu tahun.

Bintang berlari penuh semangat. Lapangan kecil di samping gunung sampah sudah ramai. Riuh tawa melayang bersama desir angin. Hari ini ia punya sesuatu untuk diterbangkan, tidak lagi hadir hanya sebagai penonton. Rasanya, ia ingin segera berbaur dalam kegembiraan.

Bagi Bintang, layangan adalah mimpi. Bukan sekadar mainan biasa yang mengisi sore di musim kemarau. Ketika ia melepas layangan ke udara, ia seolah ikut terbawa untuk menyaksikan luasnya dunia. Mencari titik-titik terbaik untuk ditempati kala dewasa nanti. Tanpa bising, tanpa banjir, tanpa bau, dan tanpa langit kelabu.

“Liat noh punya gue, udah tinggi banget, cok,” seru Jenal kepada Bintang yang tengah merunduk, menarik benang, menyesuaikan layangan dengan hembusan angin.

“Mana?” Bintang mengangkat kepalanya. “Kagak kelihatan.”

“Itu, bego.” Jenal mengarahkan telunjuknya ke langit barat.

Bintang mengucek matanya, lalu mengangguk. Padahal, ia tidak menemukan letak layangan Jenal.

Angkasa begitu kusam. Asap mengepul di berbagai sudut. Hampir tidak ada hari tanpa pembakaran sampah dan bunyi sumbang cerobong pabrik.

Mata perih, dada terasa sesak, dan wajah kering menjadi keluhan yang kerap terdengar dari anak-anak. Namun, semuanya dianggap sudah biasa. Sejak lahir, setiap orang di tempat ini harus belajar beradaptasi dengan keadaan yang bahkan alam pun bosan menegurnya.

Bintang menghela napas panjang berulang. Kesal merayap, menguji kesabaran. Layangan teman-temannya sudah berada di atas, sementara layangan miliknya terus tersungkur ke tanah. Entah mengapa enggan menari, Malu atau mungkin takut kalah saing.

Semua bagian diperiksa berkali-kali. Tali andong sudah benar. Ketebalan rangka sudah sesuai. Bintang merasa tidak ada yang salah dengan layangan kepunyaannya.

“Kasih buntut sedikit, Tang. Kalau nggak ada buntutnya nggak bakalan bisa terbang,” ucap Kakek Saman yang diam-diam mengamati Bintang. “Layangan plastik lebih sulit buat seimbang ketimbang layangan kertas.”

Bintang bergegas pulang. Ia mencoba menyusun kembali layangannya sesuai saran dari Kakek Saman.

Kakek Saman selalu merasa terhibur melihat anak-anak berlari di tanah lapang, menantang angin dengan layangan mereka. Bercanda dengan sesama, melepaskan jari dari layar digital. Namun, ia sadar lahan kian menyempit, terhimpit pabrik dan bangunan bertingkat. Langit pun tak lagi jernih, sering tertutup polusi yang membuat warna senja pudar.

Tak lama, Bintang kembali. Ia sudah menambahkan ekor sekitar 50 cm di layangannya. Ia yakin kali ini layangannya bisa bersaing dengan milik teman-temannya.

Benang tipis itu menegang. Layangan terangkat perlahan dengan stabil. Senyum Bintang merekah, matanya berbinar.

Akan tetapi, semakin tinggi, semakin kencang angin yang bertiup. Layangan itu bergerak melawan kendali.

Tangan Bintang gemetar. Benang putus, layangan terombang-ambing di udara.

Bintang berteriak. Sayangnya, tidak ada yang peduli. Teman-temannya tampak tak tertarik pada layangan yang ia buat penuh perjuangan.

Wajah-wajah dingin itu hanya menoleh sekilas, lalu kembali menatap layangan mereka masing-masing. Hanya dirinya saja yang mencoba mengejar. Tidak ada sorak. Tidak ada rebutan.

Bintang termenung melihat layangannya tergantung tak berdaya, menempel di kabel listrik. Plastiknya robek, rangkanya terjepit di antara kawat hitam, seolah menghentikan seluruh mimpi.

Dengan mata berair, ia menggenggam benang yang tersisa. Ia rasakan seratnya yang kasar bak kehidupan yang selalu menuntut keikhlasan. Ia bisa membuat layangan yang baru, tetapi memulai lagi dari awal terasa sangat berat.

Bintang berjalan pulang. Langkahnya lesu, kecewa, tak berani lagi menatap langit. Ia duduk di belakang rumah dengan tubuh gemetar.

Dari kejauhan, Kakek Saman tampak sibuk menambal jalan berlubang dengan kerikil dan tanah. Sudah puluhan tahun jalanan di kampung ini dibiarkan menganga, tak pernah ada perbaikan. Banyak yang datang membawa gambar mereka dalam selembar kertas, menjanjikan pembaharuan yang lebih layak. Namun, mereka tak pernah kembali setelah duduk berdasi di kursi yang empuk.

Akhirnya, warga terpaksa memilih menjadi apatis. Anak-anak dibiarkan mencari wahana kesenangan sendiri. Orang dewasa bergulat dengan urusan perut.

Bintang merapikan gulungan benang yang kehilangan nyawa. Dari dalam rumah, sang ibu terdengar mencarinya, melambungkan namanya berkali-kali dengan suara keras.

Sore perlahan habis. Bintang sadar tak bisa terus bersembunyi. Ia lantas berdiri, mendorong pintu dapur dengan pelan.

Rupanya, di balik pintu, ibunya sedang menunggu. Bintang gugup. Bibirnya saling menggigit, berusaha menyusun kata untuk mengaku.

“Main sampe lupa waktu. Kan Ibu udah bilang sore ini tolong jagain si Dede, Ibu mau nganterin jahitan dulu.”

Sesuai dugaan. Bintang memilih diam, membiarkan dirinya dimaki sekalian. Matanya sempat melirik ke atas meja jahit, melihat gulungan benang baru bertengger.

Sang ibu lalu menyuruhnya mandi. Tak ada sepatah kata pun tentang benang. Hanya teguran mengenai tanggung jawab.

***

Udara mengalir lebih panas dari biasanya, membawa rasa lengket yang menetap di kulit. Bintang termenung di teras rumahnya dengan kepala menengadah mencari bulan. Suara-suara mesin pabrik makin menderu, mengiringi obrolan para bapak di warung kopi.

Kakek Saman datang menghampiri Bintang. Ia membawa layangan dengan layar kertas berwarna.

“Namanya layangan, kalau putus atau rusak, itu mah sudah biasa. Kalau pengen nerbanginnya tinggi-tinggi, berarti benangnya harus lebih kuat lagi,” ucap Kakek Saman sambil mengusap kepala Bintang.

Bintang tersenyum, dan menerima layangan itu tanpa ragu. Ada harapan baru yang tumbuh, meski masih ada yang harus dicari—entah kapan dan dari mana.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi