Ibu meninggal di pagi yang tenang. Suara sirene ambulans menghentak, memecah posisi dudukku. Satu per satu tangis menjalar dari tiap langkah. Aku berjalan pelan ke ruang tengah. Limbung, bingung, dan tak percaya.
Kuharap ini mimpi. Namun, sorot matahari menembus jendela. Bayangan tirai menyala miring ke utara. Jam dinding berdetak seperti biasa, tak memberi jeda untuk mencerna takdir.
Aku bersila di samping jasad Ibu. Kupandangi wajahnya yang pucat. Senyumnya telah hilang. Pelukannya menjadi kenangan.
Aku tahu Ibu akan pergi, tetapi aku tidak pernah mau membayangkan rasanya. Aku tidak tahu cara menghadapi kehilangan. Dua tahun ia berjuang melawan kanker ganas di tubuhnya. Hampir setiap hari ia berbicara tentang kematian. Kadang aku memintanya diam, kadang aku merenung dengan pikiran liar.
Bagaimana dengan hari esok? Bagaimana aku berangkat sekolah? Bagaimana aku membiasakan diri tanpa satu panggilan yang paling sering keluar dari mulutku?
Tenda mulai berdiri di halaman. Kursi-kursi plastik berwarna hijau berjejer memenuhi setiap sudut. Para tetangga berdatangan. Mereka menyalamiku, menyebut nama ibu, lalu mengambil posisi di dekatku.
Aku mengenali semuanya, tetapi hanya bisa mengingat tanpa tahu cara bersikap yang baik ketika sedang berduka. Tak ada sepatah kata pun yang bisa kuucap. Hanya anggukan kecil sebagai balasan.
Ayah sibuk mempersiapkan prosesi pemakamam Ibu. Ia tampak tegar, meski di wajahnya ada jejak tangis yang lebih dulu menghantam hebat. Sementara itu, kakakku terus meraung di dalam kamar. Rintihannya terdengar amat berat dan pahit.
Aku mendengar, aku merasa. Hanya saja, tubuhku kaku, tak mau beranjak dari sisi Ibu. Ada kekosongan yang tak bisa kuisi dengan apa pun.
Tamu semakin ramai, tangis semakin mengikis garis bibir. Siang pun meninggi. Ibu sudah berganti baju. Ia dimasukkan ke dalam keranda, dibawa ke masjid, dan siap ditidurkan di bawah tanah.
Tidak. Ibu tidak suka gelap. Ia juga takut pada cacing dan ulat. Aku ingin membawanya pulang, tidur di sampingku saja selamanya.
“Ibu sudah tenang sekarang, tidak sakit lagi,” bisik Ayah, setengah terisak, memelukku dengan erat. Akan tetapi, kata-katanya tak bisa kugenggam seluruhnya.
Tanah dipadatkan sedikit demi sedikit. Nisan ditancapkan. Air dan bunga ditaburkan. Tak ada lagi yang bisa kulakukan, kecuali berusaha mengikhlaskan.
Batin bergemuruh, benak berteriak. Kaki mengayun pulang dengan terpaksa. Meninggalkan Ibu, berpisah selamanya.
Rasanya begitu aneh ketika kembali ke rumah, seperti bunga yang kehilangan kelopaknya saat sedang mekar. Aku duduk di pojok ruang tamu, menyepi dan menepi.
Teman-teman sekelasku datang berombongan. Seragam mereka kusut, sepatu mereka berdebu. Mereka berdiri canggung di depan pintu, lalu menunduk, lalu masuk. Ada yang menepuk pundakku, ada yang hanya menatap lantai. Aku menghitung jumlah mereka tanpa sadar. Aku menghafal susunan nama berdasarkan tempat duduk.
Ada satu nama yang absen. Hanna.
Padahal, aku menunggunya. Aku sangat berharap kedatangannya.
Sayangnya, sampai kursi-kursi dikembalikan, sampai makanan dibungkus plastik dan dibagikan, sampai halaman rumah kembali kosong, dia tetap tidak ada. Sulit untuk kuterka alasannya.
Aku tidak bertanya kepada siapa pun tentang Hanna. Seolah dengan menyebut namanya, aku akan membuat ketidakhadirannya benar-benar nyata.
***
Seminggu kemudian, aku masuk sekolah. Asing menyapa sejak kakiku melewati pintu gerbang. Lorong, lapangan, hingga kelas seolah menjadi pemandangan baru. Aku harus berkenalan dan beradaptasi lagi dari awal.
Teman-teman memandangku sekilas, lalu kembali berbincang dan bercanda. Mereka datang hari itu. Mereka tahu, tetapi mungkin masih meraba emosiku untuk memulai pertanyaan tentang kabar.
Hanna. Dia juga pasti tahu, bukan?! Namun, aku belum melihatnya.
Bel pelajaran pertama berbunyi, aku duduk sendiri di bangku barisan paling depan. Biasanya Hanna selalu tiba lebih dulu. Saat aku datang, dia akan bertanya tentang tugas, tentang yang kutonton semalam, tentang apa pun yang membuat cerita kami tak pernah habis.
Kegerakkan pena di buku mengikuti tulisan guru di papan tulis. Pandanganku lurus, mencoba fokus pada yang ada di depan mata.
Kapur berdecit, penghapus berdesir. Teman-teman di belakang masih bersenda gurau dengan suara pelan.
Aku menoleh ke belakang. Hanna duduk dengan tubuh sedikit condong ke kiri. Rambutnya diikat rapi. Tangannya berpangku pada bahu teman sebangkunya.
Dia tertawa bersama dua orang yang jarang berbicara dengannya selama ini. Aku membisu. Kutundukkan kepala perlahan.
Beberapa kali aku melirik ke arahnya. Dia tetap tak melihatku. Mungkin sempat, tetapi dia memilih untuk menghindari adu mata denganku. Ternyata, banyak sekali yang kulewatkan selama masa berkabung.
Aku dan Hanna sudah berteman sejak kelas tujuh. Selama lebih dari empat tahun, kami selalu bersama. Kami sering dijuluki “si kembar” karena, katanya, sering terlihat mirip satu sama lain.
Kami pun hampir tidak pernah bertengkar. Kalaupun terjadi, masalah itu tidak pernah lebih dari semalam.
Dia satu-satunya tempat berbagi yang kupunya di luar rumah. Dia seperti Ibu yang pandai membaca suasana hatiku. Dia seperti sinar pagi yang selalu membawa keceriaan untukku.
Saat jam istirahat, Hanna melewatiku. Dia berhenti sebentar, lalu bertanya tentang tugas makalah Bahasa Indonesia. Suaranya datar dan sopan, seakan berbicara kepada orang baru.
Aku menunggu kalimat lain. Tentang kabarku. Tentang hari itu. Tentang apa pun yang seharusnya tidak bisa dihindari. Akan tetapi, dia hanya tersenyum tipis, dan pergi tanpa mendengar jawabanku.
Dia benar-benar berubah. Bukan hanya sikapnya, tetapi juga penampilannya. Ada riasan bedak di wajahnya, dan sentuhan lipstik di bibirnya. Pertama kalinya, aku melihat dia berdandan.
Apa yang dia tutupi dariku? Apakah dia punya cerita baru dalam hidupnya yang tidak ingin dia bagi denganku?
Ada sakit yang kian menjalar dalam tubuhku. Hanna bukan lagi temanku yang dulu. Memorinya entah tertinggal, terlupa, atau terhapus oleh waktu. Ataukah mungkin dia sebenarnya tidak ingin terlibat dalam kesedihanku?
Manusia datang dan pergi, dan aku harus tetap melanjutkan hidupku. Esok atau lusa, aku akan mengajaknya berbicara, bertanya tentang semuanya.
Detik bergulir, jam berganti. Aku pulang dengan langkah terseok. Jalanan ramai seperti biasa. Tukang gorengan masih mengais nasib di depan gang. Anak-anak bersepeda sambil berteriak. Seorang bapak menenteng galon dengan napas terengah-engah.
Ketika aku membuka pintu rumah, seorang tetangga menghampiri. Ia tersenyum dan bertanya tentang makan siangku. Aku mengangguk, menjawab sudah ada yang menyiapkan.
Ia kembali ke rumahnya. Aku terpaku pada sudut-sudut yang hening. Televisi mati, tirai tertutup rapat.
Lepas berganti baju, aku masuk ke kamar Ibu. Lemarinya sudah kosong. Hanya beberapa helai pakaian yang tersisa yang sengaja kudekap agar tidak dibagikan kepada orang-orang.
Kemarin, orang-orang datang dan menerima. Ada yang memilih baju batik. Ada yang mengambil gamis. Tidak ada yang menatap wajahku lebih lama dari yang kuharapkan.
Sore hari, langit mendung. Suara ketukan pintu bertalu berkali-kali. Hanna mematung dengan tubuh gemetar. Bajunya basah di bagian lengan. Payungnya meneteskan air di lantai teras.
Dia menyerahkan buku catatanku yang pernah dipinjamnya. Aku perhatikan sampulnya sedikit kusut. Dia mengatakan maaf dengan suara rendah. Aku menerimanya dengan dua tangan.
Kami berdiri berhadapan. Aku ingin bertanya banyak hal, tetapi kata-kata terasa terlalu besar untuk mulutku.
“Aku pulang,” ucapnya, parau.
Aku memanggil namanya sebelum dia melangkah pergi. Kuurai rasa penasaranku mengenai perubahan sikapnya: mengapa dia tidak datang, mengapa dia seolah tidak mengenaliku, mengapa dia tak pernah menjawab telepon dan membalas pesanku.
Hanna membuang muka ke jalan. Pertanyaanku seakan telah menyakitinya cukup dalam.
“Aku takut,” gumamnya. “Bahkan, aku tidak mau datang ke pemakamanku sendiri.”
Dia membuka payung, tergesa, berlari menembus genangan. Bibirku kelu, tanganku kaku. Dia pun menghilang di balik tikungan, di bawah temaram.
***
Keesokan harinya, aku sengaja datang terlambat ke sekolah. Aku ingin melihat posisi Hanna duduk. Kurangkai kata dan keberanian untuk menjernihkan jarak yang tiba-tiba menjauh.
Namun, kelas kosong. Tak ada tas. Tak ada buku di meja. Padahal, aku yakin bukan hari libur.
Wali kelas masuk. Rautnya seperti kaget melihatku. Aku bertanya tentang teman-teman. Ia menjawab dengan pertanyaan balik tentang keberadaanku.
“Ibu kira kamu sudah di rumah Hanna?”
Rumah Hanna? Ada apa di sana? Mengapa hanya aku yang tidak tahu?
Tubuhku menggigil. Wali kelas memelukku. Ia berkata bahwa Hanna telah pergi untuk selamanya-lamanya.
Tidak mungkin. Hanna menyebalkan, sangat menyebalkan. Dia mendiamkanku, lalu meninggalkanku begitu saja. Aku benci duniaku. Aku benci kehilangan.
Kulangkahkan kaki keluar kelas. Kususuri aspal yang mulai panas. Bendera kuning berkibar di depan rumah Hanna. Papan nama dan karangan bunga berjejer bersama gema tangisan.
Aku berbalik, menjauh dari bendera kuning itu. Aku tak bisa hadir untuk menerima takdir. Ini terlalu kelam. Ini terlalu kejam. Hariku bak roda yang bocor, berputar dalam duka yang sama.
Mulutku penuh keluh. Pikiranku bertabur pilu.
Setiba di rumah, aku sandarkan kepala di atas bantal di kamarku. Kubuka buku catatanku yang kemarin dikembalikan Hanna. Setiap lembarnya begitu dingin, membangkitkan memori indah bersamanya tanpa terbayang sepi akan menjegal.
Kubuka catatan kecil yang terselip di halaman belakang. Tulisannya cukup samar, tertimpa bercak merah yang mengering.
“Maaf, hari itu aku bukan tak ingin datang. Tubuhku menolak pergi. Dan berhari-hari aku hanya bisa berbaring di ranjang kamar rumah sakit. Dokter bilang aku akan pergi. Aku takut, takut sekali. Namun, aku senang saat bisa kembali ke sekolah. Aku senang melihatmu, tapi aku takut menambah rasa sedihmu. Naura, jaga dirimu baik-baik. Pokoknya, aku ingin terus menjadi temanmu di kehidupan mana pun.”
Air mataku luruh, membasahi pipi hingga menetes ke buku. Aku biarkan isakku meledak sampai tenagaku habis. Aku sempat kecewa kepada Hanna, dan sekarang aku kecewa kepada diriku sendiri.
Aku seharusnya menarik tangannya saat di sekolah. Aku seharusnya jadi orang pertama yang tahu segalanya tentang dia.
Dengung suara masjid membangunkanku dalam gelap yang pekat. Sesaat, aku tersenyum tipis karena mengira seluruh sesak ini hanyalah mimpi buruk yang baru saja usai.
Namun, jemariku menyentuh tekstur buku catatan dan merasakan kaku kain seragam yang masih melekat di tubuh. Kesadaran menghantamku: ini bukan mimpi.
Hanna, sepertinya kita impas. Kamu tidak hadir di pemakaman ibuku, dan kini aku memilih mendekap erat catatanmu karena tak sanggup melihatmu berbaring di bawah tanah.