Warisan

"Pergi, pergi dari sini....."

Aku menarik mereka pergi dari depan rumahku, ya paman dan bibiku. Mereka yang selalu merongrong kepadaku, mereka yang selalu mengganggu ketenangan hidupku selama berpuluh-puluh tahun sejak aku masih kecil.

Terkadang aku berpikir, aku muak dengan semua ini. Dengan segala yang telah terjadi. 

Bukan inginku untuk di ambil menjadi anak kandung dari kakak kalian dulu. Bukan ingin aku juga jika di lahirkan di dunia ini oleh ibu kandung yang mencampakkanku.

Seakan sekarang tak ada yang mengerti selain suami, anak-anak, sahabat dan keluarga intiku. Ya keluarga yang benar-benar darah dagingku.

Sedangkan mereka, semua saudaraku yang lain perlu aku hanya untuk mengejar harta warisan saja. Warisan yang sebenarnya adalah milikku dari almarhum mama dan papa angkatku. Dan wasiat untuk selalu di jaga olehku untuk anak-anakku kelak jika dewasa nanti. Mereka yang menganggap aku anak kandung secara legal.

Hidupku sekarang tidak seenak dan semudah yang kini kalian lihat, hidupku sekarang penuh perjuangan dan liku. Yang mungkin tak akan pernah selesai aku ceritakan walau aku tuliskan menjadi sebuah cerita.

Aku yang lahir dengan putih bersih dulu, aku yang di peluk dan di inginkan penuh cinta oleh mereka. Yang ter campakkan oleh keadaan dan cobaan. Yang mencari pelarian sahabat dan pacar demi melupakan rong-rongan keluarga tentang jati diriku. Kalian merusak hidupku, merusak mentalku, merusak masa depanku. Demi harta yang kalian kejar jika mama dan papaku mati kelak. 

Haruskah aku habisi dan jalani hidup seperti yang kalian inginkan dalam sebuah ke putus asaan dan kehancuran. Tidak aku akan berjuang dan akan aku tulis kisah hidupku sebagai pelajaran dan sebagai tamparan untuk keluarga besarku kelak.

Kini 35 tahun usiaku, mama dan papaku telah meninggal karena lanjut usia, faktanya bukan doa yang kalian berikan, tapi mengemis harta warisan mama papaku. Apa kalian pikir aku Sintia akan memberikannya? tidak aku akan memperjuangkan hak-hakku kepada kalian!

Seperti hari ini, kalian yang mengaku kalah padaku, orang yang dulu sering kalian hinakan. Aku sang pemilik warisan sebenarnya. Menyesalkah kalian telah menghinaku, mencaciku, sirik dan dengki padaku sejak aku kecil.

Dulu kalian bilang aku bukan siapa-siapa! kini, aku yang membalas bilang kalian bukan siapa-siapa bagiku! Tak perlu ada hubungan jika tidak ingin hubungan. Jangan saling mengusik jika tidak ingin terusik. Warisan mama dan papa bukan sekedar warisan, tapi kenangan dan pesan untuk anak dan cucunya yaitu kami. Yang harus selalu di jaga sesuai amanatnya.

“Mama, dan Neng Sintia jagalah rumah papa ini, Jangan pernah kalian jual, rumah ini penuh kenangan, jadi pakailah dan rawatlah untuk anak dan cucuku nanti.”

9 disukai 1 komentar 2.5K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
yeayy ketemu FF nya
Saran Flash Fiction