Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
5
Cincin Antik
Horor
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

“Aku bisa mengabulkan permintaanmu dalam satu jentikan jari.” Miko mengatakannya penuh percaya diri. Ia baru saja memamerkan sebuah cincin antik dari perunggu. Ada semacam motif atau ukiran yang tak bisa kulihat dengan jelas. Cincin itu sekarang melingkar pada jari manis Miko berkat seorang kolektor barang antik yang tiba-tiba memberinya secara cuma-cuma.

“Jaman sekarang, masa masih ada yang begituan?” tanyaku tidak percaya. “Coba buktikan.” Aku menantangnya.

“Cara mainnya bukan begitu. Aku tidak bisa meminta untuk diriku sendiri. Aku hanya bisa mengabulkan permintaan orang lain.”

“Aneh. Apa istimewanya kalau begitu?”

“Aneh, apanya? Justru mulia, bro. Nih, ya, sekalipun aku punya barang ini, aku enggak bisa pake sembarangan. Kalau aku mau sesuatu, aku perlu minta tolong pada orang lain. Rendah hati sekali, bukan? Aku bisa menolong orang lain dengan mudah. Kalau aku baik, mereka juga pasti mau membantuku memenuhi permintaanku.”

Aku menatap Miko untuk sesaat. Ia masih tampak bersemangat. Tiba-tiba terlintas sebuah ide. “Oke, ayo kita coba.”

Miko mengulurkan tangannya. Kemudian ia menjelaskan aturan lainnya bahwa pemohon harus bisa menyelesaikan permohonannya dalam waktu sepuluh detik saja. Aku menyanggupinya lalu menjabat tangannya. Miko menganggukkan kepalanya memberi isyarat mulai.

Aku menarik napas panjang untuk ancang-ancang, “Aku ingin hidup tenang. Jauh dari teman-temanku yang toksik, termasuk Miko yang ada di hadapanku sekarang.”

Untuk sepersekian detik aku melihat wajah kaget dan mata melotot Miko. Dadanya naik seperti hendak menyemburku dengan umpatan seperti biasanya. Namun, umpatan Miko tak muncul ke permukaan bersamaan dengan wujudnya yang telah lenyap entah ke mana.

Cincin antik katuh berdenting membentur lantai keramik. Aku memungutnya dan mengenakannya di jari manis. Sampai sekarang aku sangat menjaga cincin itu agar tak jatuh ke tangan orang yang salah. Aku tak ingin sepuluh detik terakhir bersama Miko terulang hanya karena bercanda.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)