"Kau kan tahu aku tidak suka berfoto." Aku merengek.
Hubungan kami memang manis. Arga dan Megan. Nama kami saja sudah terdengar serasi. Semua tentang Arga begitu manis, senyumnya, tatapannya, dan tindakannya. Aku selalu merasa aman dan nyaman di dekatnya. Hanya satu yang tidak manis dari Arga. Ia suka memotretku diam-diam. Setiap kali ia ketahuan, ia akan langsung memelukku, mengelus lenganku manja dan membelai rambutku. Perempuan mana yang tidak akan luluh kalau sudah dibegitukan.
Tapi memang Arga suka memotretku diam-diam. Ia juga memamerkan fotoku diam-diam. Sekaranglah waktunya terbongkar ketika ia mendapati sesuatu yang membuat mulutnya gatal untuk menanyakan secara langsung.
"Megan, aku heran. Banyak netizen bilang kau mirip sekali dengan orang ini." Arga menyodorkan banyak sekali foto-foto yang disandingkan mirip dengan wajahku. Seorang perempuan dengan rambut terurai panjang, dengan wajah bulat seperti wajahku. Mata sipit dan lekukan itu juga persis seperti milikku.
Aku cukup takjub sekaligus merasa ngeri dengan dunia sekarang. Batas-batas makin sempit dan transparan, termasuk hubunganku dengan Arga yang sengaja kusembunyikan rapat-rapat. Saat-saat seperti ini jugalah yang kutakutkan kalau Arga memotretku secara sembunyi. Aku tak ingin seorang pun tahu.
"Kenapa?" Arga menyadarkanku dari semrawut di kepala.
"Ya. Itu memang aku," kataku kemudian. Dapat kulihat sunggingan senyum tak percaya dari bibirnya.
"Itu memang aku," ulangku. Aku menatap lekat mata Arga. Barulah ia menangkap keseriusanku.
"Kau... Serius?" Arga memastikan. "Tapi kau tidak tua sama sekali."
"Aku bukannya awet muda. Aku hanya datang dari sana."
Mulutnya menganga. Kuyakin ia sulit percaya. Aku juga tidak akan memaksa. Aku malah kaget kalau ia tidak bereaksi apa-apa.