"Mika, sebentar lagi Ibu akan datang. Jangan menolaknya, atau kau akan menyesal."
Matahari sudah tenggelam dan pantai sudah mulai lengang. Mika malah memilih menunduk ditopang oleh kedua lengannya. Ia juga selalu menepis tangan yang berusaha membelainya. Gadis kecil itu bersikukuh tak mau beranjak.
"Mika, dengarkan aku." Perempuan itu berjongkok di depan gadis kecil itu seraya menatapnya getir. "Aku tidak ingin kau hidup dalam rasa bersalah seperti aku. Sekarang memang kau tak mengerti, tapi kumohon, turuti perkataanku. Apapun yang sedang terjadi, cobalah untuk menerimanya jadi bagian dari hidupmu. Jangan menyalahkan siapapun apalagi dirimu sendiri. Itu akan menyiksamu."
Mika mendongak dan menatap lekat perempuan di hadapannya karena perempuan itu malah terisak, "Siapa kau? Kenapa jadi kau yang menangis?"
Perempuan itu menatap Mika lamat-lamat. Ia lalu menyeka air matanya. "Dengar Mika, aku adalah kau dan kau adalah aku. Menemui di masa ini bukan hal yang mudah. Aku tak ingin kau sehancur aku yang sekarang."
Mika!
Seorang perempuan memanggil dari kejauhan.
"Mika, dengarkan aku. Pulanglah bersama ibu kalau kau tak mau kehilangannya."
Walau dilanda kebingungan, Mika akhirnya berdiri. Ia menatap sejenak perempuan yang mengaku adalah dirinya. Ia kemudian berbalik dan berlari kepada sang ibu dan tidak menoleh lagi.