"Siapa kalian?"
"Kami adalah orang-orang yang punya kesenangan sama sepertimu." Laki-laki tambun itu menyeringai.
"Maksudmu?"
"Kita suka luka, tangisan dan jerit ketakutan. Kita sama-sama suka... darah." Matanya berkilau.
Aku meremas sebilah pisau hingga gemetar. Cairan merah yang membasahinya masih segar sama seperti merah yang menggenang di lantai milik laki-laki yang kupanggil papah.
"Selamat! Kamu telah berhasil menyelesaikan misi pertama."
Mereka menyibakkan jubah hitam mereka. Sensadi dingin yang dihembuskan kain mereka, mengundangku untuk ikut berdiri.
Pria tambun itu menoleh sedikit yang mana aku hanya bisa menangkap sudut matanya. Gerakan kecil kepalanya dapat kuterjemahkan dengan mudah. Aku melemparkan pisau di tanganku hingga berdenting di lantai.
Aku menatap pria yang terkapar di bawah kakiku. "Akan kupastikan tidak akan ada lagi anak-anak yang menderita karena orang sepertimu," sumpahku.