Retak, aku hancur. Mungkin benar aku tidak pantas dicintai, ketika ada yang datang mencintaiku sepenuhnya ternyata ia sudah ada yang miliki.
"Mas, bisa jawab alasan mengapa mas berbohong sama saya."
Hening.
Tidak ada jawaban, "Maaf." Mungkin itu kalimat yang tidak akan ia ucapkan, hatiku semakin perih, aku kecewa.
"Jika kamu benar jatuh cinta padaku, seharusnya kamu jujur padaku." Ucapku kala itu, rintik hujan membasahi bajuku. Ia hanya dia mematung.
Sial, aku benar tak kuasa menahan tangisku. "Nif, Saya harap kamu benar-benar menjadi sejahtera bersama keluargamu. Nif, saya harap kamu benar bisa menjadi baik. Saya tidak pernah di ajarkan menjadi perusak dan saya tidak mau merusak." Ujarku kemudian.
Ia mematung, "semua pertanyaanmu tidak bisa aku jawab. Haruskah sekarang,"
"Ya, harus sekarang!" Pekikku. Aku menangis, hatiku hancur.
Rasanya remuk, tak kuasa aku menahan rasa rindu bercampur dengan rasa sakit hati yang mengalahkannya. Aku hampir menjadi perusak keluarga kecil bahagia itu.
Aku sangat ingat, saat aku bertanya padamu, "Apakah kamu benar-benar tidak ada yang marah jika aku mengchatmu.
"Tidak." Jawabmu kala itu.
Namun, ternyata. Pria itu memang tidak sedang bersama keluarganya. Aku hampir merasa bersalah dan kotor karenanya.
Sial, aku hampir jatuh cinta padanya jika ku tahu kebenarannya maka tidak akan pernah lagi aku jatuh cinta pada orang yang tidak benar benar aku kenali.
Retak, aku hancur. Sial, aku hampir mati saja.