52 Hz

Suasana menjadi lebih senyap, ini hanya malam-malam biasa yang terlewati.

Waktuku menipis, perasaanku menjadi terasa lebih dekat dengan kematian. Aku tak tahu kenapa, aku merasa berada dalam melancoly.

Kipas anginku masih terus menerus berputar, kurapatkan selimutku sementara mataku masih menolak untuk terlelap. Dalam kamar yang kini hanya memiliki sedikit cahaya yang meneranginya, mataku menerawang ke sudut ruangan, aku mungkin menemukan sesuatu di sana, imajinasiku mungkin akan membuatku melihat sesuatu yang menyeramkan disana.

Aku tersenyum kecil, aku tahu aku tersenyum sekalipun sebenarnnya aku tak tahu kenapa aku tersenyum.

Itu bukan lagi sesuatu yang menakutkan sekarang. Apa yang membuatku merasa aman dari kematian? Kehidupan adalah yang membawa kematian itu sendiri. Saat aku merasakan darah masih mengalir dalam tubuhku, saat aku masih bisa mendengar detak dari jantungku, saat aku menekan tubuh dan telingaku sangat dekat dengan lantai rumah yang merasa terasa dingin, disaat yang sama kematian mungkin hanya beberapa inci dariku. Kenapa kini aku merasa takut? apa dulunya aku merasa takut untuk hidup?

Aku tidak punya banyak hal yang dilakukan disini, aku juga tidak punya sesuatu yang dibanggakan dan membanggakanku tapi kenapa sangat menakutkan untuk berpikir bagaimana jika nanti aku menghilang? kenapa aku begitu penasaran tentang bagaimana dunia akan berubah tanpa aku di dalamnya padahal seperti yang kukatakan sebelumnya aku tak melakukan banyak hal disini, tak melakukan banyak perubahan disini, aku tidak memiliki arti. Aku akan menghilang lalu setelah sebulan berlalu orang-orang akan melupakanku, tak akan menangisi kepergianku, mungkin ibuku akan mengingatku tapi tak seorangpun tahu siapa yang akan pergi lebih dulu, aku atau ibuku sekalipun sangat jelas bahwa aku datang setelahnya.

"Bagaimana kabarmu?" aku menyentuh dada kiriku saat membisikan hal itu.

Air mataku mulai menggenang, kenapa aku begitu merasa tersentuh dengan perhatian dari diri sendiri? mungkin karena aku terlalu jarang melakukannya.

Aku hidup dalam angan, aku hidup dalam halusinasi. Aku hidup selama 23 tahun untuk menunggu seseorang untuk menemukanku berharap mungkin, hanya mungkin dia akan menjadi sumber kebahagian untukku, seorang pelengkap, seorang belahan jiwa tapi sepertinya dia belum juga menampakkan diri.

Kenapa aku begitu lemah? kenapa aku mengharapkan orang lain membawa kebahagianan untukku? aku harus mencintai diriku lebih baik, berhenti menunggu, dia mungkin tak akan datang juga pada akhirnya, malaikat kematian mungkin akan datang lebih dulu.

Kemana aku harus pergi? apa yang harus aku lakukan? aku mungkin harus bertanya pada paus 52 Hz tentang apa yang dia lakukan sendirian? bagaimana ia bertahan sendiri, mengarungi lautan sendirian sementara yang lainnya berjalan bersamaan?

Orang-orang bilang paus itu mungkin tuli dan suaranya tak dimengerti oleh paus yang lainnya karena frekuensinya yang berbeda, aku tidak tuli, orang-orang juga mengert apa yang kukatakan tapi aku masih juga sendiri, aku kesepian. Aku akan mati sendirian juga pada akhirnya, tapi bukannya juga saat lahir kita juga datang sendirian?

Atau apakah roh-roh bayi yang baru lahir datang bersamaan? apakah roh-roh orang mati juga pergi bersama? akankah lebih baik jika kita mengetahui kemana orang-orang yang meninggalkan tubuhnya yang telah kaku itu pergi?

546 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction