BATAS SUCI

Mereka sama meski tidak seirama. Pada umumnya selalu berdua. Meski kadang dipaksa ada hanya sendirian saja. Eh, tapi ada juga yang terpaksa tidak sama kok. Yang sendiri dan tidak sama itu kadang iramanya kosong, lirih bahkan santai dan tak bodoh amat.

Mereka yang kulihat disini banyak. Ada yg mewah. Ada yang warnanya mentereng. Semuanya ada. Ada yang begini ada yg begitu. Kontradiktif. Tak pernah terlihat semuanya sama dan seragam. Ada yg besar, ada yg kecil. Ada yg mahal ada juga yg murahan. Ada yang polos, ada yang berbagai banyak corak dan motif. Ada yg munculnya keluar dari kendaraan beroda empat ada juga yang turun dari roda dua. Ada yg diajak berlari, ada yg ajak santai. Ada yg berhak ada juga yang tidak berhak. Ada yg wangi, ada yg busuk. Ada yg baru, ada yg lusuh. Ada yg sengaja menginjak yang lain, ada juga yang tidak saling injak. Ada yang di curi karena diinginkan ada juga yang tidak mencuri perhatian pencuri.

Semuanya ada, serba ada. Serupa tapi tidak pernah sama selalu saja ada beda. Semuanya berbeda. Caranya, warnanya, harganya, jumlahnya, corak serta kualitasnya. Berbeda. Mereka berbeda itulah alasannya mereka ada dan memberikan nama pada siapa empunya. Namun siapapun mereka.

Dari sini aku melihatnya, mereka harus tetap sama berhenti dan menghentikan langkah pada satu arah satu nama yang memberi mereka dari ada kemudian tiada. Dan mereka pasti berhenti pada dua kata di teras depan bersampingan dengan rak sepatu dan sandal yang biasa aku jaga pada rumah dimana Dia ada untuk segala yang telah membuatnya jadi ada dan tiada. Tuhan, besok aku cetak lagi yang banyak pada setiap pintu rumahMu. BATAS SUCI.

"Iman!!'' teriak perempuan paruh baya yg muncul dari pintu wc mesjid pada putranya yang sedang termanggu di dekat rak alas kaki milik jamaah.

"Iya, mak! sahutnya dengan spontan sambil kembali melanjutkan menyusun beberapa alas kaki yang masih berserakan di tangga mesjid.

"Disusun dan dijaga dengan baik! Jangan dicuri dan jangan sampai ada yang hilang!" perintah emak pada Iman.

Iman mengeleng. Dan melanjutkan instruksi yang diberikan oleh emak. Baru beberapa bulan ia disini. Sebelum sepasang sepatu sekolah miliknya dulu, ikut ditata diatas rak alas sepatu tak jauh tempat ia bekerja sebagai penjaga alas kaki bersama emak mungkin untuk selamanya.

"Sampai bapak pulang dan membawa banyak uang, nak!"

Berada di batas suci, membawanya melihat dunia dengan segala perbatasannya. Antara mengharapkan dan mengabaikan. Cukup diam atau menentang batas, atau setia menjaga batas - batas itu agar kau tahu mana dunia dan akhirat.

468 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction