Suratan Takdir

Beberapa hari lagi bulan suci ramadhan akan datang. Tentu semua umat Islam sangat menantikan bulan penuh ampunan tersebut. Aku sangat antusias.

Di saat aku sedang menulis berbagai rangkaian agenda ramadhan yang, suara teriakan emak di ruang tamu terdengar jelas. Aku sudah yakin ini pasti terjadi karena kakak lelakiku.

"Kapan sih berubahnya?! Pergi pagi, pulangnya pagi lagi! Pulang dalam keadaan mabuk!" Emak mengguyur Bang Rian dengan air dingin, saat ini ia sedang separuh sadar karena mabuk.

"Rian! Denger Emak! Kamu tu harus berubah! Sampai kapan kamu maksiat terus?!" pekik Emak.

"Iya-iya," ucap Bang Rian.

"Sebentar lagi bulan puasa, tingkah kamu masih aja begini! Puasa nggak pernah, sholat pun nggak pernah!"

Aku hanya berdiri di ambang pintu kamar.

"Ingat ya Rian! Mati itu nggak nunggu tua, kamu harus ingat ada Allah yang selalu memperhatiin kamu! Apa kamu nggak takut sama Allah! Seandainya pun dicabut nyawa kamu sekarang, dalam keadaan penuh dosa apa yang bakal kamu bawa di alam kubur nanti!"

"Udah Mak, tenang." Aku langsung membawa emak ke kamar dan menenangkannya.

Keluargaku hanya tinggal emak, Bang Rian, dan aku. Ayah sudah meninggalkan kami 2 tahun yang lalu.

Bang Rian menjadi tidak ada aturan sejak berhenti sekolah dan mulai salah pergaulan.

*****

Hari ini aku menempel kertas dengan berbagai kata-kata di dinding, itu kulakukan agar Bang Rian membacanya dan sadar.

Beberapa kata yang tertulis di dinding itu, tulisannya yaitu:

Kenapa masih nunda sholat?! Nggak malu sama yang udah ngasih kehidupan?

Jangan malas sholat, besok mati!

Jangan nunda taubat, mungkin mati duluan yang akan didapat.

Masih nunda untuk ngerjain perintah Allah? Kalau Allah cabut nyawanya sebelum bertaubat gimana?

Maksiat? Allah lagi ngeliatin kamu! Malu sama Allah.

Yakin masih ketemu puasa tahun depan?

´╗┐Syarat mati tidak harus tua!

Seperti itulah kata-kata yang kutulis. Aku menulis seperti itu bukan karena sok suci, tapi untuk sesama mengingingatkan. Tak luput untuk diriku sendiri.

Saat aku sedang makan di dapur. Aku melihat Bang Rian membaca tulisan-tulisan itu. Setelah Bang Rian selesai membaca ia menatapku dengan tatapan tajam. Aku yang sedang fokus makan langsung menunduk.

Bang Rian mendekatiku dan duduk di hadapanku.

"Abang mau bertaubat, Ma."

Aku langsung memandangnya.

"Ajarin abang sholat taubat dan ajarin Abang tentang agama," ucap Bang Rian dengan serius.

"Benerana Bang?"

"Iya Salma, Abang serius."

Aku tersenyum dan mulai membahas segalanya. Lalu aku menyuruhnya melaksanakan sholat ashar.

Aku sangat bersyukur karena ia memang mau untuk mulai melaksanakan perintah Allah.

Saat ini aku dan Emak duduk di ruang tamu. Memperhatikan Bang Rian yang hendak melaksakan sholat taubat. Ia ingin kami memperhatikan karena takut salah. Pintu kamarnya ia biarkan terbuka.

Namun, tiba-tiba saja saat ia hendak takbir. Terlihat oleh kami kakinya gemetar. Bang Rian tumbang.

Aku dan emak sangat khawatir dan langsung menghampirinya. Aku langsung memanggil tetangga.

Berita duka menghampiri kami. Bang Rian telah tiada, ia dipanggil sang kuasa saat hendak melaksanakan sholat taubat.

Emak pingsan, dan aku terus menangis, menerima kenyataan ini.

Belum sempat menyelesaikan sholat taubatnya, Allah sudah terlebih dahulu memanggilnya.

Aku sangat takut, apakah ia sudah terlambat untuk bertaubat.

Atau ini adalah kehendak Allah untuknya.

2 disukai 621 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction