dari APRIL

"Sejak kapan kamu disini?" tanya Rey tiba-tiba telah berdiri dibelakang Mutia yang masih asyik membaca.

"Dari April sepuluh tahun yang lalu, ketika ada seorang siswa laki-laki yang tidak tahu diri mengajakku kencan kemari!"jawabnya ketus. "Romantis.."ungkap Rey. "Romantis nenekmu!dia mengajakku kemari hanya untuk bersorak sorak menyaksikan kepiawaiannya mengencani basket kesayangannya itu!'maki Mutia.

Keduanya saling tatap kemudian gelak tawa tercipta membawa keduanya terbang bersama dedaunan kering kembali ke masa lalu. Masa dimana keduanya masih remaja. Saat itu, berkali-kali Mutia marah hanya karena melihat ulah Rey yang lebih cinta bola basket ketimbang masa depannya.

"Memangnya kamu bisa menentukan masa depan seseorang dengan bola?" debat Rey

"Bisa. Saya ada rumusnya, cuma orang bodoh yg terlalu suka dengan benda mati yg tidak ada arti!" tekanan kata Mutia kali ini benar-benar dinamis.

"Cuma orang yang tidak mengerti yang bisa bilang orang lain tidak arti!" Rey tetap santai menampiknya.

"Silahkan kembali pada bolamu!" kali ini Mutia benar-benar nyerah. Rey tentu tak akan membiarkan ia meninggalkannya begitu saja.

Mutia tetap bersikeras menjauh dari Rey. Akhirnya kalimat pamungkas dari seorang lelaki pada umumnya muncul. Janji. Rey berjanji pada Mutia. Meskipun Mutia merasa ragu. Namun apa salahnya meletakkan rasa percaya untuk kesekian kalinya di akhir April pada lelaki sepertinya. April adalah bulan terakhir mereka melepas masa putih abu-abu, karena ujian akhir sudah di depan mata. Hari itu juga Rey berteriak seperti orang gila. "Di depan bendera merah putih! Aku berjanji akan menjadi generasi yang berarti untuk negeri!!! Mutia tertawa melihat ulah konyol si Rey. Namun ia melanjutkan perjanjian bahwa dari April ke April, Mutia akan menunggu janjinya disini, kapanpun. April akan menjadi pertemuan mereka kembali untuk menanti janji yg harus Rey tepati. "Setelah April ini datanglah padaku di April berikutnya kau tidak nakal lagi, berhentilah untuk bermalas-malasan sekolah, April berikutnya, kau pergilah dengan cita-citamu, April berikutnya kau bahagiakanlah orang tuamu, April berikutnya kau mengabdilah pada negerimu dan April berikutnya katakan padaku bahwa kau telah berbahagia menepati semua janjimu. Kalimat itu berakhir dengan gelak tawa di atas kursi taman sekolah tempat keduanya kembali berjumpa dari April ke April. Mutia membisu, setelah Rey mengatakan bahwa ini April terakhir dimana ia telah memenuhi semua janjinya. Janji pada Negeri. Mutia bangga ketika Rey membuka jaket dan melihat seragam TNI yang dikenakannya. Namun terhenyuk saat darah berpusara didadanya. Wajah Rey terlihat memucat. "Ini bekas luka tembak ketika saya hendak menyelamatkan seorang ibu dibulan April yang lalu ketika negeri kita sedang bergejolak dengan perang saudara. Mata Mutia mulai berembun. "Aku pamit Mutia", Angin senja menyapu dedaunan kering, menerbangkan semuanya termasuk sosok lelaki yg telah memenuhi semuanya janjinya. Terimakasih Rey, selamat ulang tahun",lirihnya. "Mama mengapa menangis?"tanya bocah kecil dibelakangnya. Mutia tak mengubris. Mutia memeluknya. Padanya ia katakan silahkan bermain bola asal jangan lupa sekolah. "Baik ma!" mulai sekarang Rey berjanji tidak akan nakal lagi ma, siapa yg akan jadi saksi janji kita ma?"tanya Rey putranya. Mutia yang dipapah putranya membawa putranya menunjuk ke suatu arah. "Bendera Merah Putih..

!"ungkapnya. Keduanya meletakan tangan memberi hormat pada bendera merah putih yang berkibar ditiup oleh angin senja. Dari April.

2 disukai 6.6K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction