Pak Yeee

"Bagaimana kalau Ipang temui bapak di rumah? Kita bicarakan disini, jangan lewat WA? Segera! Keburu malam makin larut. Bagaimana?"

Sebagai seorang guru yang merasa telah berkali-kali menghadapi murid seperti Ipang ini biasa. Sangat biasa sekali dari awal mengajar sampai dengan sekarang. Pak Yee meladeni muridnya kapanpun dan dimanapun, pagi siang sore malam, disekolah, kedai kopi, tempat nongkrong yg lagi viral dikalangan anak muda bahkan dirumah. Itu sangat biasa baginya. Da-ri-du-lu.

Entah melanggar kode etik sebagai pembangun insan cendekia atau terlalu berlebihan bagi rekan kerjanya. Itu biasa. Yg tidak biasa baginya, ketika ia merasa murid kali ini jauh benar benar berbeda baginya dibandingkan yg dulu dulu.

Sangat biasa baginya harus berhadapan dengan siswa siswa dari track record kenakalan yg B saja bahkan track record kenakalan yg terakreditasi A plus dikalangan bandit bandit kelas di sekolah.

Dari setiap perkara yg ia hadapi dengan siswa seperti itu tahun lalu, yg ada malah justru pak Yee heran, sipemberontak itu pasti melelehkan air mata saat pak Yee bersuara lantang ketika harus berhadapan dengan siswa nakal tahun lalu.

Beda dengan si Ipang. Ini beda. Ia merasa meskipun yg ia hadapi satu siswa tapi ia menyimpulkan bahwa Ipang adalah figur siswa yg cukuo representatif untuk siswa milenial sekarang ini. Siswa digital katanya alias VS 4.0 Virtual Student Industry 4.0.

Hanya gara-gara pak Yee tau mau ambil pusing tentang sekolah online sekarang ini. Pak Yee sama seperti rekannya, sangat paham bagaimana murid murid badungnya harus belajar daring. Ia tau setiap soal ulangan dan tugas nyaris rata rata hasil dari tekanan CTRL+C kemudian CTRL+V. Ia bisa memaklumi itu. Meskipun tetap ia ingatkan soal kejujuran. Makanya sekarang pak Yee nyoba buat perspektif baru untuk mencari cara menilai, nilai yg tak bisa lagi diharapkan.

Nilai kerapian yg ditulis tangan kemudian dikirim via foto lewat aplikasi chatt berlogo hijau itu. Dengan santainya pak Yee mengomentari tulisan para siswa yg berantakan merupakan cerminan siswa yg tidak iklas menjawab soal. Dilihat dari tulisan rapi hingga sangat tidak rapi. Ini anak SMA lho. Bukan lagi SD atau Taman Kanak kanak.

Melihat komentar pak Yee tertulis di aplikasi chatting berlogo hijau. Ipang langsung mengirim balasan di group. Alasan yg Ipang gunakan adalah harga diri. Ipang melempar deretan kalimat di group berlogo hijau tersebut langsung pada pak Yee. Berkali kali. Semakin ditanggapi, Ipang semakin mengebu gebu menyuarakan harga diri untuknya.

"Bapak ingin mempermalukan saya yah pak? Di depan seluruh anggoto group kelas online?"

Pak Yee mencoba menjelaskan duduk perkaranya, namun makin dijelaskan Ipang makin piawai bak pemenang debat internasional. Pak Yee tau makin lama perdebatannya pada Ipang makin menjadi jadi. Disatu sisi patut diakui sosok siswa seperti Ipang adalah pribadi kritis dan dielukan oleh kaum milenial dan kekinian saat ini. Dimana mereka nyaris serupa dengan para motivator handal sekelas dunia.

Pak Yee tertawa bangga sambil menepuk bahun Ipang dengan gembira, melemparkan kata pujian hebat berkali kali. Namun di kata terakhir setelah hebat, nyaris tak terdengar karena lidahnya seolah tercekik saat pak Yee mengatakan maafnya nanti ditulis dikalimat kalimat hebat yg sudah kamu berikan pada bapak ya nak.

2 disukai 1.3K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction