Jurit Malam

Perkemahan saat Pramuka, rasanya tak lengkap tanpa jurit malam. Apesnya, Nindi dan Melly disatukan dalam satu pos dekat kuburan. Apa yang bisa diharapkan dari dua gadis yang sama-sama penakut ini? Untungnya masih ada Tio di kelompok mereka, Satu-satunya lelaki yang menjadi tumpuan berlindung bagi Melly dan Nindi. Walau sebenarnya horor juga, karena Tio berdandan ala pocong. 

"Tio, harus ya bakar menyan? Nanti kalau ada hantu yang datang beneran gimana?" tanya Nindi mendekap erat lengan Melly. 

"Iya, Tio. Engga usah deh," timpal Melly meng-iyakan Nindi. Tanpa kemenyan saja sudah horor, apalagi ini ditambah kemenyan. Nanti kalau yang di kuburan depan mereka pada nongol bagaimana? 

"Disuruhnya gitu, udah ikutin aja. Ada aku ini. Takut hantunya sama aku," sombong Tio sok berani. 

Setelah selesai bakar kemenyan di beberapa titik lokasi, Tio kembali pada Melly dan Nindi. 

"Buat apa sih itu kemenyan?" protes Nindi berlanjut. 

"Buat kecium baunya-lah, biar peserta takut," ucap Tio tenang, sambil mulai berjalan ke arah pohon bambu. 

"Lo mau ke mana, Tio?" 

"Berdiri di sini."

"Harus ya, di situ? Jangan jauh-jauh Tio. Gue takut," Nindi sudah setengah mati menahan takut. 

"Kalau aku di dekat kamu, peserta engga takut Nindi. Aku kan tugasnya nakutin peserta."

Mau tak mau Nindi dan Melly menurut. 

Lima belas menit berlalu, suara derap langkah dari jauh sudah terdengar beserta suara-suara peserta yang ketakutan. 

Nindi dan Melly bersiap menyambut rombongan peserta pertama. Tapi mereka heran, kenapa Tio justru ada di samping mereka berdua? 

"Udah pada deket, tuh. Lo ngapain di sini? Katanya mau nakutin peserta?" tanya Nindi pada Tio. 

"Iya, sana," timpal Melly sembari menunjuk ke arah bambu tempat Tio semula. Tapi wajah Melly berubah pias. 

"Nin ... " Melly berusaha sekuat tenaga menggerakkan tangannya untuk menyentuh bahu Nindi. Lututnya sudah lemas, mungkin sebentar lagi dia akan ngompol di celana. 

Sedangkan Nindi yang bahunya disentuh, mencoba mengikuti arah telunjuk Melly. Tepat ke arah tubuh Tio yang sudah ambruk di tanah. 

"Kalau itu Tio, lalu ini siapa?" suara Nindi bergetar, jari telunjuknya menunjuk ke arah sosok putih yang ada di sebelahnya. 

Bertepatan dengan bibir Nindi yang berhenti berkata, sosok itu menoleh ke arah mereka berdua. 

"POCCCCOOOOOONGGGGGGGGGGGGG"

-TAMAT-

5 disukai 2 komentar 853 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@naeehava : Hai, yang punya nama nanti ngamuk Lho. Bahaya
Wkwkwk. Astaga. Kaget gue. Kirain kuntoaji
Saran Flash Fiction