MIMPI

Aku berdiri menatap dinding beton lalu memanjatinya karena merasa sesuatu dibaliknya adalah hal yang aku sukai. Pikirku sesuatu yang benar-benar kusukai bakal terpampang di sana, TERNYATA HANYA RUMAHKU!

Papa dan mama sedang ngeteh di teras. Kuhampiri mereka namun tiba-tiba tubuhku tersungkur dan jatuh ke dalam air. Kulihat mereka tak terpengaruh dengan keberadaanku, mengobrol dengan tenang seolah tak melihat ada orang yang jatuh ke danau?

Danau? Sejak kapan ada danau di halaman belakang rumahku?

Aku mencoba melangkah tetapi kakiku tak menemukan pijakan dibawah sana. Aku berenang. Keanehan terjadi lagi, semakin aku bergerak maju semakin jauh mereka, padahal posisi mereka tepat di depan. Sangat dekat, nampak hanya sepuluh langkah dariku. Tenaga mulai terkuras, penglihatan juga berputar.

Mendadak sesuatu dibawah sana menarikku dan menenggelamkanku.

Paru-paruku terasa menyempit dan mencekik, perlahan menghilangkan kesadaranku, Kemudian kudapati diriku terduduk di sebuah kursi bambu berwarna cokelat, ada secangkir teh digenggamanku. Papa duduk di sebelah kanan dan mama di sebelah kiriku. Kakakku sedang rebahan di atas karpet bulu sambil mengarahkan remote ke TV dan adikku, dia duduk di samping kakakku sambil menyelupkan biskuitnya kedalam susu.

Sembari menyeruput teh, mataku memperhatikan kakakku. Sejak tadi memencet tombol ganti diremote tetapi layar televisi tidak menunjukkan perubahan, tetap kelabu bersemut.

Ugh! Ada yang janggal, perasaanku tidak enak...kutengok papa, dia balik memandangku dengan senyuman. Mataku beralih pada saudara-saudaraku. Mereka juga sama, menatapku. Dahiku mengkerut, aura dingin mendadak menyelubungi. Mereka semua ternyata kompak menatapku.

"Ada ap..."

"Tuangkan teh ke gelas mama dong," pinta mama sambil menangkup cangkir. Tanganku kontan meraih teko di atas meja dan menuangkan teh ke dalam gelas mama.

Mendadak listrik padam, tetapi menyala dalam detik ketiga.

Mataku membulat hingga urat-uratnya terasa perih. Pemandangan yang kulihat.. Kakak dan adikku terbujur kaku dengan posisi kaki mencuat ke arah berlawanan, tubuh mereka seperti patah dua. Menoleh ke Papa, dia terlihat normal hanya sedetik sebelum mendapati ususnya menggantung di perut. Kontan aku melompat dari kursi, dan tak sengaja ekor mataku menangkap mama..

Hanya ada kepala di kursinya. Kepala yang sedang tersenyum dengan mulut robek sampai telinga.

Andai petir tidak menyambar, mungkin aku masih meraung-raung di dalam sana. Terjebak dalam ketakutan alam bawah sadar. Mimpi macam apa itu? Kehilangan adalah hal yang paling aku takutkan terutama kehilangan keluarga dengan cara tragis seperti itu, aku sangat mencintai mereka. Jadi, kumohon Tuhan untuk tidak mendatangkan mimpi seperti itu lagi.

Kutoleh jendela, hujan di luar sana memporak-porandakan pepohonan, angin sedang mengamuk. Aku meringis, bajuku basah oleh keringat.

Usai berganti pakaian, minat tidurku hilang melihat kasur. Keluar dari kamar, ku dapati papa duduk di karpet menonton film laga. Dia heran saat kuhampiri "Kenapa belum tidur?"

"Nightmare," kulempar bantalku ke karpet, "Aku tidur sini yah, sama papa."

"Sini," papa menaruh bantalku di sebelahnya, "Tidur sini, kalau sama papa pasti aman. Para setan pasti bakal takut masuk lagi ke mimpimu."

Tanpa berkata, aku membuang diri disampingnya. Kutaruh sebelah tangannya dikepalaku. Papa menggerakkan jarinya yang tebal dan besar, telapaknya cukup untuk menghangatkan sebagian wajahku. Sesekali iseng memasukkan jari telunjuknya ke lubang telingaku.

"Pa!" rutukku, dan papa hanya terkekeh.

5 disukai 2 komentar 954 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@dilan10 : Terima kasih 🙏😂
Nightmare👍
Saran Flash Fiction