Jejak Berbulu

Hari masih terlalu pagi, tapi Kinar sudah disergap rasa pening yang tak berkesudahan. Ini akibat semalam ia tidak tidur. Percakapannya dengan ibu dan juga sahabatnya terngiang di otaknya semalaman.

"Kamu sudah gila? Mengorbankan kuliah dan masa depan kamu hanya untuk 'mereka'? Apa sih yang kamu dapatkan, Nduk?"

"Bahagia, Bu. Engga bisa Kinar jabarkan lewat kata-kata. 'Mereka' yang selalu ada di sisi Kinar, apapun keadaan Kinar. Sejatuh apapun Kinar, di sisi 'mereka' Kinar selalu merasa bahagia, utuh, dan merasa berguna."

"Jangan sampai kamu menyesal di masa depan, Kinar."

Itu sekelumit protes yang ibunya layangkan, saat Kinar memberitahu mundur dari kuliahnya via telepon.

"Jangan ngadi-ngadi deh, Kin. Lo bisa buka donasi, kan? Engga harus lo kasih 100% hidup lo. Donasi buat 'mereka' makan dan lo cari karyawan. Engga harus lo yang juga banting tulang kerja sana-sini, Kin."

"Elo engga bakal ngerti, Sa. Habis tenaga gue cuma buat ngurusin donasi, belum lagi rebutan donasi sama shelter lain. Males ribut gue, Sa. Lo tahu kan, udah berapa kali gue diusir dari kontrakan? Ribet, Sa. Ribet!"

Benar, tidak akan ada orang yang sanggup mengerti jalan hidup yang Kinar pilih. Seluruh hidupnya telah ia berikan untuk puluhan anjing dan kucing jalanan. Mana ada orang waras yang menghabiskan seluruh tenaga dan harta bendanya, bahkan mengorbankan masa depannya, hanya untuk sesuatu yang tidak menghasilkan apapun untuk hidupnya. Bahkan hanya kerepotan dan masalah.

"Ngikkk ... " bunyi dari Logan membuat Kinar sadar dari lamunan. Ia tersenyum lebar, pening di kepalanya hilang saat itu juga. Hanya karena mendengar Logan yang sudah mulai bersuara.

"Baby boy ... " Kinar langsung menghampiri Logan, membelai anjing kecil yang sudah dua minggu ini terserang virus Parvo. Dokter sudah 'angkat tangan' memvonis Logan tidak akan selamat. Namun, Kinar yakin ia bisa menyembuhkan Logan dengan kasih sayangnya.

Gadis itu rela tiap lima menit sekali menetesi Logan dengan obat imun. Kurang tidur, kurang makan. Bahkan, gadis ini sekarang hanya tidur beralas kardus, karena kasurnya harus ia bagi dengan beberapa kucing yang kedinginan karena saat ini musim hujan.

Kinar rela bekerja apapun untuk menghasilkan uang, demi 'mereka'. Satu suara garukan di pintu menyadarkan Kinar dari euforia bersama Logan.

Dan saat Kinar membuka pintu, binar-binar mata polos itu menyambutnya penuh antusias. Inilah alasan terbaik yang Kinar punya, cinta 'mereka' untuk Kinar yang tanpa syarat. Tak peduli Kinar miskin atau kaya, tak peduli Kinar baik atau jahat, tak peduli Kinar pernah menyakiti mereka walau tanpa sengaja, mereka tetap menyayangi Kinar apa adanya.

"Siapa yang mau makan?" Seru Kinar dengan berbinar, memukul loyang tempat 'mereka' makan.

Goyangan ekor, pelukan, serta berisik suara anjing dan kucing itu menyambut pagi Kinar.

"Let's go!"

Seumur hidupnya, ia telah menurut untuk kebahagiaan orang lain. Kali ini, biarlah Kinar menentukan bahagianya sendiri.

-TAMAT-

4 disukai 4 komentar 1.2K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@naeehava : Pasti warna bulunya hitam 😌
@arcelyos : Semangat Kak Arcel ❤
Luar biasa. Sangat inspiratif Kinar. Ntapz. Ceritanya mengingatkan aku dengan kucingku yang pemalu tapi pas kedinginan dia diam-diam menyelinap ke dalam selimut tetangga wkwk
Semangat ya kinaar💜
Saran Flash Fiction