HALLO

Gemerisik dedaunan menyapa Inah di pagi buta. Sayangnya, hanya telinganya yang mampu membalas sapa. Wanita sebatang kara itu sudah dua hari tak mampu turun dari ranjangnya. Ngilu pada kakinya, membelenggunya di atas ranjang tua. 

Hanya sebuah ponsel yang ia dekap. Matanya yang sudah rabun, diiringi bunyi perut yang lapar, berkali-kali sejak kemarin dia coba menghubungi anaknya yang ada di kota seberang. 

Tak jauh sebenarnya jarak rumah mereka, hanya ditempuh dalam waktu empat jam. Tapi sayang seribu sayang, sang anak semata wayang sibuk dengan hidup keluarga kecilnya. Sebulan sekali pun jarang ia menengok ibunya yang renta. 

Perihnya perut yang ia rasakan karena lapar dan haus, tak seperih hatinya yang sakit karena kesepian. Ia hanya merintih dalam pilu. Sedih, sunyi, dan sendirian. 

Dalam doa dan tangis di penghujung tuanya, Inah masih sempat memohon kepada Tuhan. Semoga, jika ini adalah hari terakhirnya, janganlah ia menjadi beban untuk anaknya. Semoga, setelah ini anaknya akan bahagia tanpa harus berduka atas kepergiannya. 

Mata sayu itu kian merapuh, kian berat untuk terbuka. Disengal sisa napasnya, Inah memeluk erat handphone pemberian anaknya, seolah itu adalah putra kesayangannya. 

Hilang sudah sepi dan kesedihan, Tuhan membawa Inah pulang kepelukan. 

Dan satu tombol yang tak sengaja Inah tekan di penghujung usia itu, akhirnya menghantarkan dering bersambut kata dari sang buah hati tercinta. 

"Halo?"

-TAMAT-

6 disukai 4 komentar 2.7K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@faridapane : Iyak 😭
@naeehava : 😭😭😭
yah... sedih deh ...
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Saran Flash Fiction