Petak Umpet

Petak Umpet

 

Malam minggu, terang bulan nampak indah. Saat itu bocah – bocah seperti biasa berkumpul di sebuah tanah lapang dan memulai dengan hompipah.

4 anak laki – laki dan 3 anak perempuan itu saling berteriak memainkan hompipah untuk mencari petugas penjaga gawang petak umpet yang selalu mereka mainkan selepas belajar malam hari.

"Yeeeeyyy! Ali yang jagaaaaa!'' Ita dan Indra bersahutan diikuti yang lain berteriak kegirangan.

"Satuuuuu!'' Seru Ali tiba – tiba menghitung sambil berlari menuju tembok gawang.

"Iiihh curang! Kan kita belum siap?!'' Ina dan Ida saling bersahutan.

"Duaaaa!'' Ali tetap menghitung membuat anak – anak itu kalang kabut tak karuan mencari tempat persembunyian.

Semua anak berpencar. Ida hampir bertabrakan dengan Budi yang melilitkan selimut putih di pundaknya.

"Heh! Bud kamu ngapain bawa – bawa selimut!'' Tanya Ida keheranan.

"Aku mau nakut – nakutin Ali hahaha...!'' Budi terkekeh sambil berlari menembus kebun berdampingan dengan Ida. Mereka terkekeh.

Ida juga melihat Joni dan Yusuf berpencar di pepohonan di sekitar pekarangan tanah lapang itu.

"Bud, sini!'' Ajak Ida sambil memberi kode kepada Budi yang masih celingukan di belakangnya. Mereka memasuki kebun sebuah rumah.

"Sembilaaaaaannn....!'' Teriak Ali berhitung.

Ida membelok dan bersembunyi di pekarangan samping rumah.

"SEPULUUUUUUUHHHH! SIAP! SIAAAAAAAPPP!" Suara Ali terdengar lantang dari kejauhan.

Sesaat sunyi senyap, hanya suara jangkrik dan binatang malam yang bersahutan. Ida mengitip di balik dinding dengan napas tertahan.

Bocah itu cekikikan melihat Ali celingukan dan dengan gampang menemukan tempat persembunyian Ina dan kemudian Indra.

Ida menoleh kepada Budi yang bersembunyi di belakangnya.

"Ssstt dia masih nyariin kita, hihihi...'' Kata Ida sambil berbisik kepada Budi yang telah membungkus kepalanya dengan selimut, seolah – olah siap menakut – nakuti Ali.

Budi hanya manggut – manggut cekikikan mendengar ucapan Ida. Ida kembali mengitip di balik dinding.

Walau suasana terang bulan, posisi Ida sangat menguntungkan karena ia bersembunyi di balik dinding rumah yang di naungi pohon besar dan semak – semak yang rimbun. Sehingga Ali mustahil menemukannya dengan gampang.

Diantara teman - temannya, Ida memang paling pintar sembunyi.

Sekali lagi mereka cekikikan berdua melihat Ali kesulitan menemukan mereka. Satu persatu teman – temannya tertangkap dan saling berteriak riuh ramai.

Hingga suatu ketika Ali terkejut oleh sesuatu yang meloncat dari semak. Ali hampir saja memukulnya kalau saja Budi tak teriak menyebutkan nama. Mereka tertawa – tawa dan berlari berebut menyentuh gawang. Suasana riuh rendah, makin ramai.

"Loh...?!'' Ida termangu bingung melihat Budi yang sudah tertangkap oleh Ali.

Perlahan Ida menoleh ke belakangnya. Masih terdengar cekikikan dan dengusan napas yang berat sosok itu.

Bertepatan, mendung bergeser dan membiaskan cahaya bulan yang terang benderang. Sosok gelap tadi kini terlihat sangat jelas di depan mata Ida.

Berwajah hancur dengan ikat kepala putih yang telah lusuh oleh tanah dan lumpur. Disertai dengusan napasnya sangat kuat dan berbau busuk.

"AAAAAGGGHHHHKKKK!"

"Kikikikikikikikikikkk....!''

 

 

2 disukai 856 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction