Pertemuan Arwah

Aku benar-benar tidak percaya bisa melihat dia di depan mataku. Bukankah roh tidak bisa dilihat. Aku dan dia hanya bertatapan saja, mata kami saling melotot. Rasanya ingin lari tapi tubuhku benar-benar tidak bisa bergerak. Semakin dia berjalan mendekatiku semakin ingin aku berlari dan berteriak memperingatkan dia untuk jangan mendekat. Tetapi, semakin aku berteriak, semakin dia mendekat ke arahku dengan membelalakan matanya yang penuh dengan luka. Tangannya mulai menggapai tubuhku.

“Jangan,” kataku yang tidak bisa bergerak sama sekali.

Dia semakin melotot, menakutiku.

“Kamu sudah mati, jangan mendekat,” kataku. Matanya seolah bertanya bagaimana bisa aku bicara seperti itu. Dengan gemetar aku menunjuk mayat yang tergeletak di jalanan. Lelaki yang beberapa menit yang lalu kecelakaan akibat balap liar. Dan aku baru pertama kali ini menyaksikan langsung roh masih berada di sekitar jasadnya.

Roh itu menunjukku, mungkin dia menyalahkanku karena aku telah menghentikannya. Bagaimana lagi, itu sudah tugasku sebagai polisi.

“Kamu yang tenang ya, aku pasti akan segera hubungi keluargamu,” kataku padanya yang terus menunjuk ke arahku. Mendengar ucapakanku lelaki muda itu tersenyum mengerikan dan menyuruhku melihat ke belakang. Dan ternyata apa yang ku lihat lebih mengerikan, aku melihat diriku sendiri tergeletak di sana. Rupanya ketika lelaki balap liar ini menabrakku, aku tidak bangun untuk melihat mayatnya. Melainkan rohku telah terlepas dari raga.

“Selamat pak, kita mati bersama,” katanya. 

5 disukai 2 komentar 1.2K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@tidakadashinahariini : Apa nunggu mati bersama dulu, baru bisa akur sama polisi hehehe.
"Makasih, dek. Bapak bonceng ya ke alam barzahnya," balasku.
Saran Flash Fiction