Halo?

Halo?

 

Pagi itu Red Studio tampak sepi. Seperti biasa, tim editing masih tertidur di ruangan itu yang sekaligus tempat berkemah para pemuda itu.

Titi mengintip ruangan yang menguarkan aroma tembakau berbaur kopi itu dengan mencebik. Gadis itu  mengaduk teh hangat yang baru ia seduh lalu meninggalkan tempat itu menuju meja kerjanya.

Saat itu masih jam 8 pagi. "Pasti begadang lagi tuh, buat ngejar tayangan hari ini.'' Pikirnya.

Setelah meminum tehnya, ia melihat deretan daftar nama sekolah yang harus ia telepon untuk acara yang akan digelar untuk untuk tayangan bulan depan. Bertepatan Suci, head Editor memasuki ruangan. Wanita itu baru datang dan melepaskan jaket dan kaos kakinya secara sembarangan.

"Pagi mbak Suci, waahh pagi banget udah sampai sini. Hebat hehe...'' Sapa Titi dengan senyum senang.

"Pagi juga hahaha... Iya donk. Kan sekarang mau ke sekolah - sekolah. Jadi harus pagi.'' Suci terbahak.

"Eh Ti, mau telpon ke sekolah – sekolah kan? Tolong telepon Dian dulu ya. Tanyain sekolah – sekolah yang di Jaksel udah clear belum.'' Sahut Suci sambil duduk di seberang Titi, meregangkan punggungnya.

"Oke mbak.'' Jawab Titi singkat sambil meraih pesawat telepon di mejanya dan memencet nomer telepon kantor cabang, tempat Dian berada.

Tuuuttt!

Klek.

Saluran langsung tersambung.

"Halo...?"

"Ya...''

''Mbak Dian?''

"Ya....''

"Eeemm... Mbak, mbak Diannya ada?''

"Ya...''

Suci menatap Titi dengan penuh tanda tanya. Mereka saling mengkode sama - sama bingung.

"Mbak, temennya mbak Dian ya? Mbak Diannya mana?''

"Ya...''

Tak berapa lama terdengar teriakan melengking yang membuat saluran telepon terputus dan mendengung. Dengan kaget Titi menjauhkan gagang telepon dari telinganya dan meletakkan telepon dengan heran. Titi memegangi telinganya yang masih berdengung.

"Aneh banget deh mbak, masa ditanya jawabnya iya iya mulu. Eh tapi suaranya merduuuuu banget! Sumpah! Halus banget!'' Titi terheran - heran sekaligus takjub, mencoba mengikuti nada suara si perempuan.

"Iiihh... aneh deh?! Siapa ya? Kan cuma Dian, cewek yang jaga disana?'' Sergah Suci bergidik aneh mendengar Titi mengikuti gaya bicara perempuan itu.

"Eh tapi terakhir kenapa ada suara kayak orang teriak melengking gitu, tahu – tahu putus sampe ngiiiiinng gitu. Dasar aneh!'' Titi mencebik heran.

"Aaahh udah ah... Dian kali ngerjain kamu. Telpon lagi deh coba.'' Suci berusaha mengalihkan pembicaraan.

Titi memencet tombol redial. Kali ini sambungan telepon terangkat setelah bunyi yang kesekian kali. Kali ini Titi menekan tombol loudspeaker.

Klek!

"Halooo... haaahh...haaahh...''

"Halo, mbak Dian?'' Titi menyahut.

"Iyeee... Siape lagiii... Hosh hosh...'' Jawab Dian dengan suara khas cemprengnya dan terdengar ngos - ngosan.

"Kenapa mbak, kok ngos – ngosan gitu? Oh iya tadi siapa temennya? Suaranya merdu banget lho... Mbak bawa temen ke kantor?'' Titi tertawa riang.

"Hah?! Apaan sih Ti?! Aku baru dateng! Baru buka pintu tahu – tahu telepon bunyi di lantai 2 makanya aku ngos – ngosan lari - lari! Titi jangan becanda deh!'' Rengek Dian terdengar syock.

"Loh... lha tadi... Jadi?!'' Titi dan Suci bertatapan dengan wajah ngeri.

"Titiiiiiii...!'' Dian memekik ketakutan sambil membanting telepon.

 

 

 

 

731 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction