PENCURI PENGLIHATAN

Di dalam sebuah kamar berukuran tiga kali empat, seorang gadis berkulit putih langsat, bibir merah tipis melukiskan senyum memikat, rambutnya ikal mayang sepanjang pinggang tergerai menari-nari diterbangkan angin, sepasang bola mata kuning kecoklatan terlihat khusyuk menatap lembaran kertas berwarna putih pada layar laptop. Sesekali bibirnya bergerak-gerak mengikuti perintah otak, tangan menari lincah di atas tuts-tuts hitam.

Ia tak menyadari bila selama dua bulan ini ada seorang pencuri yang tengah mengintainya dari lubang kunci kamarnya. Pencuri itu bukan saja hendak mengambil kedua bola matanya yang berkilau bak permata ruby, tetapi juga ingin menghancurkan seluruh mimpi yang dimilikinya.

Gadis yang berprofesi sebagai penulis dan penyiar radio itu tak pernah sadar, kalau pengintai dibalik lubang kunci kamarnya telah mencuri ribuan kalimat yang telah ia rangkai selama bertahun-tahun, lalu mencuri kitab cerita hidupnya yang penuh warna, hingga menyisakan sedikit warna terang, selebihnya mulai samar. Pencuri itu mengikis sedikit demi sedikit secara perlahan jaringan-jaringan syaraf yang membentengi bola mata indah Dyeva, nama gadis itu.

Dyeva baru sadar kalau ia telah kehilangan begitu banyak warna tatkala ia terbangun dari pingsannya. Sakit kepala yang ia derita selama dua bulan terakhir ini hanya mampu memulihkan ingatan, namun terlambat untuk menyelamatkan yang telah hilang dibawa si pencuri.

“Jadi sakit apa saya sebenarnya, dok?” tanyanya pada seorang dokter specialis mata yang bernama Agus, selepas sang dokter melakukan tindakan canggih—Tonometri, HRT, OCT, Perimetri, Gonioskopi, Pakimetri—untuk sepasang matanya.

Dyeva memandangi wajah dr. Agus yang tampak tegang, penglihatannya masih seperti tertutup kabut karena efek obat tetes mata yang diberikan sebelum pemeriksaan tadi, kata dokter selama beberapa jam penglihatannya akan samar-samar. Namun ia bisa melihat kecemasan dan perubahan wajah dr. Agus ketika melihat hasil OCT miliknya.

Dokter tampan bertubuh tinggi itu menghela napas panjang, kemudian ia menatap Dyeva dengan tatapan iba seraya berkata: “Sebetulnya saya takut mengatakan ini, takut kalau kamu akan syok. Jujur saya sendiri pun syok bila harus menceritakan sebuah kenyataan kepada pasien. Tapi melihat senyum dan sorot matamu, saya yakin kamu akan kuat.”

Dokter meminta Dyeva untuk bergeser duduk disampingnya, lalu memutarkan layar monitor HRT ke arah Dyeva dan menjelaskan: “Setelah kita melakukan observasi selama beberapa hari dan kita juga bisa lihat dari hasil foto HRT dan OCT, terlihat jelas syaraf-syaraf matamu mengalami pengikisan, lihatlah grafiknya hampir berada pada garis kuning. Kamu positif terkena NTG.”

“Apa NTG, dok?”

“Normo Tensi Glaukoma. Kamu mengalami penyempitan lapangan pandang dan penipisan syaraf mata, hal ini di diakibatkan tekanan bola matamu terlalu berat. Ini penyakit langkah, belum ditemukan obatnya dan akan berakhir pada kebutaan. Tidak buta total sih, tapi penglihatan orang dengan kondisi Glaukoma hanya seluas lubang kunci.”

“Kapan kebutaan akan datang, dok? Bisa cepat?”

“Ya, bisa cepat dan bisa juga lambat. Tergantung seberapa besar usahamu untuk menghambatnya. Tetapi dengan terapi rutin, Insya Allah akan terselamatkan.” Pungkas dr. Agus.

Kosong. Hanya itu yang dirasakan Dyeva. Tak ada airmata, tak ada rasa terkejut hanya denyut jantung yang memburu mengejar waktu. Dyeva malah terus bertanya pada dr. Agus tentang Glaukoma. Tetapi setelah sampai di rumah, tangisnya pecah. Dalam sujudnya ia meminta, “Allah, jangan ambil penglihatanku.”

 

 

 

 

4 disukai 2 komentar 1.7K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Iya, takdir atau nasib ya itu
Kasihannn
Saran Flash Fiction