PADA SEBUAH CAFE

Di luar hujan masih saja turun, seorang lelaki yang duduk di dalam cafe kecil di sudut kota, melepaskan pandangannya keluar, lewat jendela kaca yang basah terkena tempias hujan. Lelaki itu mengangkat cangkir dan mereguk kopinya yang mulai dingin. Sedingin suasana di luar sana.

"Dia belum datang juga?" seorang wanita pelayan berbadan gemuk datang menghampiri.

Lelaki itu menggeleng pelan.

"Mau tambah kopi?"

Lelaki itu tidak menjawab, ia mengambil rokok dan menyulutnya.

"Katakanlah, sudah berapa lama kau menunggunya. Aku lupa," wanita berbadan gemuk pelayan cafe itu memandang iba.

"Hampir di separuh usiaku," jawab lelaki itu sambil terbatuk.

"Ah, sudahlah. Jangan merokok lagi, tidak baik buat kesehatanmu," wanita pelayan cafe itu bergegas pergi menghampiri meja pengunjung yang lain.

Di luar hujan semakin deras. Lelaki itu terbatuk-batuk lagi. Di sudut cafe, di dekat meja kasir ada kalender tahun 2020, bergambar sepasang burung colibri. Di mejanya, lelaki itu memegang dua lembar tiket bus atas nama Adit dan Aina, di tiket itu tertulis: 19 Oktober 2005, tujuan Bandung.

Sementara itu, di luar hujan masih turun. Β©

11 disukai 6 komentar 5.5K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Sebuah penantian yg panjang juga. sampai tiket busnya kadaluwarsa,. Btw terima kasih sudah mampir, Sugiadi Azhar πŸ™
15 tahun waktu yg terlalu singkat untuk melupakan πŸ˜…
Hidup ini kadangΒ² penuh drama, Nunun πŸ˜‚
Astaga nunggu selama itu 😒
Sebuah penantian yg sia-sia πŸ˜‚
Wuih, keren, penuh misteri ini, di kalender tertera tahun 2020, sementara di tiket tahun 2005 πŸ€©πŸ‘πŸ»
Saran Flash Fiction