AKU MENCINTAI PEREMPUAN ITU dengan NYAWAKU

Sudah seminggu ini aku melihat Boy, teman kerjaku itu terlihat murung dan gelisah. Pekerjaannya jadi terbengkalai dan semuanya harus dikoreksi ulang.

"Perasaanku nggak tenang, seperti ada yang mengganjal ...." keluh Boy padaku.

Kuperhatikan sahabatku itu sambil menduga-duga dalam hati.

"Sudah berapa lama kau tidak pulang ke Sukabumi?" tanyaku ingin tau.

"Hampir tiga tahun mungkin, kenapa?"

"Minggu depan kita off. Ayo, kutemani kau pulang," aku menawarkan diri.

Di Sukabumi, kami disambut ibunya Boy dengan gembira. Perempuan itu seolah menemukan kembali permatanya yang telah lama hilang. Ia memeluk dan membelai kepala Boy. 

"Cium kakinya, Boy!" bisikku pada sahabatku itu.

Ketika makan siang, ibunya Boy bercerita kalau ia sangat kecewa karena sudah beberapa kali lebaran, Boy tidak pulang dan lebih memilih liburan ke tempat lain daripada memilih pulang kampung. Boy cuma meminta maaf pada ibunya lewat telepon. Setelah lebaran pun, sahabatku itu tak pernah pulang ke kampungnya. Padahal jarak Jakarta dan Sukabumi tidaklah terlalu jauh. Tidak sejauh kalau ia pergi liburan ke luar negeri.

Ketika pulang dari Sukabumi, di dalam mobil Boy nampak begitu tenang. Perasaan yang selama ini mengganjal telah hilang dari hatinya. Tiba-tiba saja aku jadi teringat ibuku di Medan. Kukirim pesan WhatsApp kepadanya

Aku sayang, Mamak ....

Tak lama pesan yang kukirim mendapat balasan: 

Mamak juga sayang sama kau, Dit. Jaga diri baik-baik di daerah orang ya, Nak? Bekerjalah sungguh-sungguh dan Tuhan akan memberikan pahala jihad untukmu.

Mataku merebak, tapi aku tersenyum membaca balasan WhatsApp itu.

"Kenapa?" heran Boy.

"Aku dapat pesan sayang dari seorang perempuan," jawabku senang.

"Dari siapa? Monik, akunting site office atau Madeline sekretarisnya si Bos?" tanya Boy penasaran.

"Bukan."

"Jadi dari siapa?"

Aku tersenyum pada Boy.

"Ibuku."

Bukankah dia perempuan yang telah membuktikan cintanya dengan bertaruh nyawa? Aku tak seberani Boy yang telah menyakiti hati ibunya berkali-kali. Betul-betul tak berani . . . .

17 disukai 6 komentar 6.1K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Kebanjiran, Aliaput? 😂
Semangat, Alwinn 👍
Nyaris tenggelam saking dalamnya wkwk
Mantab, aku pun punya cerita tapi masi di kurasi wkwkwkkw
Terima kasih apresiasinya Risna 🙏
Saran Flash Fiction