TAK ADA CINTA yang TAK CEMBURU

Hening sedari tadi. Kopi hitam di meja kehilangan uap panasnya. Di depanku, Kayli masih saja menatap tajam, seolah mendakwaku atas banyak kesalahan. Raut wajahnya mewakili kemarahan, sedih dan kecewa sekaligus. Kupikir sebentar lagi ia akan menangis. Bagiku perempuan itu memang unik. Mereka bisa menangis sambil marah.

"Kau selingkuh, kan?" suara Kayli bergetar.

"Siapa bilang?"

"Jangan jawab pertanyaanku dengan pertanyaan juga!"

Hh! Kayli memang keras, meski sosoknya begitu lemah-lembut. Bahkan aku tak diperbolehkan membela diri dengan bertanya untuk memastikan--bagaimana ia begitu yakin kalau aku sudah berselingkuh?

"Aku perempuan, Adit. Intuisiku tajam!"

"Oh, hanya berdasarkan intuisi, aku dituduh sedemikian rupa?" 

"Kau kenal dengan Jane?" 

Aku terdiam. Ya, aku kenal perempuan itu. Jane Patricia Khodong. Perempuan yang telah mengenalkanku pada dunia menulis. Ia sering berkirim pesan-pesan mesra lewat WhatsApp. Semua itu adalah narasi yang harus kupelajari strukturnya, kucermati setiap diksinya. Kalimat-kalimat mesra yang ia cuplik dan terjemahkan dari berbagai novel berbahasa Inggris. Karena Jane tahu betul, kalau bahasa Inggrisku payah meski ia pernah bilang, ada Chekhov, Tolstoy dan Pamuk di dalam diriku. Meski bagiku sendiri, ucapan Jane itu hanya sekadar penyemangat saja. Supaya aku rajin menulis dan ia punya kesibukan untuk mengkritik tulisanku. 

"Jane itu guru menulisku, usianya sudah 70 tahun. Ia perempuan Manado yang bermukim di Belanda. Aku sangat sayang padanya."

Kayli terdiam. Lava pijar dimatanya meredup, amarahnya tak lagi berapi-api. Tiba-tiba saja ada sepasang tangan lembut menggenggam punggung tanganku yang bertumpu di meja, dekat secangkir kopi. Ah, memang. Tak ada cinta yang tak cemburu ©

14 disukai 4 komentar 5.2K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@oliphianacubbytaa : Terima kasih 🙏
Nice 👍
Terima kasih, Choirunisa 🙏
Saran Flash Fiction