Di sebuah negeri yang hanya mengenal dua musim, ia telah melewati tujuh puluh di antaranya. Bukan karena usianya yang terlampau panjang, melainkan karena sejak tangisan pertamanya pecah ke dunia, hidup tak pernah benar-benar memberinya waktu untuk sekadar menarik napas dalam-dalam.
Hujan dan kemarau datang silih berganti, masing-masing memahat luka dan bekas yang berbeda, memaksa jiwanya dewasa jauh lebih cepat dari detak jam yang seharusnya.
Sejak berseragam sekolah dasar, ia telah menggenggam sebuah cita-cita yang bagi sebagian orang terdengar sederhana: menjadi seorang aparatur sipil negara. Baginya, itu bukan tentang jabatan atau seragam yang gagah. Itu adalah tentang sebuah kepastian. Tentang hidup yang tidak terus-menerus berdiri gemetar di tepi jurang kecemasan. Tentang hari esok yang setidaknya bisa ia perkirakan lewat kalender, bukan lewat untung-untungan nasib.
Namun, waktu adalah pencuri yang ulung. Seiring berjalannya tahun, harapan-harapannya ikut menyusut, menyesuaikan diri dengan realitas yang kian sempit. Dari keinginan untuk menjadi bagian penting, menciut menjadi sekadar ingin menjadi bagian. Dari berharap dikenal, menjadi cukup dengan sekadar tercatat. Hingga pada satu titik yang paling rendah, ia hanya ingin berada di dalam sistem itu, dalam bentuk apa pun. Sayangnya, musim terus berganti, dan namanya tetap menjadi rahasia yang tak pernah dipanggil.
Kini, ia menghabiskan hari-harinya di sebuah rumah kecil berwarna hijau kusam. Di sana, ia tinggal bersama seorang keponakan kecil yang pikirannya sering kali tersesat, mengembara di luar batas kenyataan. Anak itu gemar duduk di sudut ruangan, menirukan musik dari radio tua dengan akordeon mainannya. Ia menciptakan irama yang patah-patah, melodi yang tak pernah benar-benar menemukan ujungnya. Orang-orang bilang pikiran anak itu rapuh, tapi ia tahu betul, terlalu sering menyaksikan kecemasan orang dewasa bisa membuat siapa pun kehilangan pijakan di bumi.
Suatu siang, di bawah terik yang memanggang, ia sedang menambal ban sepeda. Tiba-tiba, tubuhnya memberikan sebuah tanda yang sudah sangat ia kenali. Rasa sesak itu datang lagi. Napasnya terasa berat, seolah udara mendadak menjadi benda padat yang sulit ditelan. Ia berhenti, lalu dengan sisa tenaga yang ada, ia menuntun sepedanya yang bocor melewati gang-gang sempit menuju rumah.
Di kamar, melodi akordeon keponakannya masih mengalun, berkelindan dengan suara radio yang samar. Dengan tangan gemetar, ia meraih botol obat di atas meja. Satu pil terjatuh, menggelinding ke kolong ranjang, menjauh dari jangkauan jemarinya yang lemas. Ia mengangkat botol itu, memiringkannya ke arah cahaya, namun botol itu kosong melompong.
Ia tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang bukan lahir dari rasa pasrah, melainkan dari rasa lelah yang teramat sangat. Ia membaringkan tubuhnya yang ringkih. Di sudut ruangan, sang keponakan terus memainkan bagian awal sebuah lagu dengan penuh kesungguhan, seolah dengan musik itu, ia sedang berusaha menjaga agar dunia tidak berhenti berputar.
Kamera waktu seolah bergerak menjauh, menuju ujung kanopi rumah mereka. Sejak ia lahir, kata ibunya, air selalu menetes dari sana, tak peduli hujan sedang turun atau langit sedang cerah. Namun hari itu, tepat setelah musim ketujuh puluhnya berlalu, tetesan itu berhenti.
Untuk pertama kalinya, perjalanannya benar-benar selesai.