Pagi ini aku berangkat sekolah lebih awal dari biasanya. Semuanya sudah kusiapkan sejak pukul enam. Tas, buku, alat tulis, tidak ada yang tertinggal, setidaknya sejauh yang kuingat. Aku mengeluarkan sepeda pemberian orang tuaku dari halaman, lalu mengayuhnya menuju sekolah.
Di perjalanan, aku teringat diriku yang dulu. Aku sering bolos tanpa tujuan. Bukan pergi ke warnet, bukan pula ikut tawuran. Kadang-kadang aku hanya berkeliling, menghabiskan waktu di tempat yang bahkan aku tidak tahu kenapa aku berada di sana.
Sekolah begitu membosankan sampai-sampai berada di mana pun terasa lebih baik daripada berada di sana.
Anehnya, belakangan ini aku justru lebih sering bersekolah.
Entah sejak kapan dinding-dinding sekolah mulai tampak lebih berwarna. Catnya masih sama, beberapa bagian bahkan sudah mengelupas, tetapi ada sesuatu yang membuatku merasa tempat itu tidak lagi semembosankan dahulu.
Kalau tidak salah, semuanya bermula sekitar dua minggu lalu.
Waktu itu aku sedang berjalan menyusuri lorong kelas ketika sebuah suara perempuan memanggil dari bangunan di seberang.
“AWAN!”
Aku menoleh.
Seorang perempuan melambaikan tangan ke arahku. Aku tidak mengenalnya.
Mungkin anak kelas lain, pikirku. Karena dia sudah bersusah payah memanggil, aku membalas lambaian tangannya, lalu melanjutkan pergi ke kelas.
Keesokan harinya, ketika hendak pergi ke kantin, suara itu kembali terdengar.
“AWAN!”
Aku menoleh lagi.
Perempuan yang sama. Aku membalas sapaannya, kemudian pergi membeli makanan.
Hari berikutnya, dia melakukannya lagi.
Begitu pula hari setelahnya.
Awalnya aku tidak terlalu memikirkannya. Namun, setelah beberapa kali, aku mulai bertanya-tanya apa sebenarnya yang dia inginkan dariku.
Uang?
Rasanya tidak mungkin. Kalau berniat memalak, untuk apa dia berteriak dari kejauhan? Lagipula, setiap kali aku membalas sapaannya, dia tidak meminta apa-apa. Dia hanya melambaikan tangan, tersenyum, lalu kembali melakukan kegiatannya sendiri.
Bahkan ketika aku berjalan bersama teman-temanku, dia tetap memanggil namaku, tidak peduli seberapa jauh jarak kami.
Sedikit mengerikan, sejujurnya.
Pada hari kelima, aku mulai tidak tahan dengan rasa penasaran itu.
Aku sedang berjalan bersama Bagas menuju perpustakaan ketika memutuskan untuk bertanya kepadanya.
“Ooi, Gas. Bagas, kau tahu tentang wani—”
“AWAN!”
Aku berhenti bicara.
Perempuan itu kembali menyapaku dari seberang lorong. Aku membalasnya dengan lambaian tangan sebelum menoleh kepada Bagas.
“Nah, itu. Baru mau kutanyakan. Dia siapa, sih? Sudah lima hari dia selalu begitu.”
Bagas memandangku seolah-olah aku baru saja menanyakan sesuatu yang seharusnya sudah kuketahui sejak lama.
“Dia? Masa kau nggak kenal? Namanya Nur. Anak wali kelas kita.”
Jadi, namanya Nur.
Aku sempat ingin bertanya mengapa dia selalu menyapaku. Namun, kupikir Bagas mungkin tidak tahu jawabannya.
“Ooi, Awan. Kau kenapa tiba-tiba bengong?”
“Tidak ada. Sudah, jalan saja.”
Sejak hari itu, sapaan Nur mulai menjadi bagian dari keseharianku.
Pada awal minggu kedua, aku tidak sengaja berpapasan dengannya di lorong. Dia sedang berjalan bersama beberapa temannya. Kali ini dia tidak berteriak. Dia hanya tersenyum dan menyapaku ketika kami berpapasan.
Aku membalas sapaannya, lalu berjalan pergi.
Entah mengapa, aku masih mengingat senyumnya sampai sekarang. Terutama bagian kecil di dekat hidung dan pipinya yang membentuk garis ketika dia tersenyum. Nasolabial, kalau tidak salah namanya.
Sejak saat itu, aku semakin jarang membolos.
Seperti pagi ini.
Pelajaran hari ini cukup menyenangkan. Kami mendapat tugas drama pentas, dan aku kebagian peran yang menurutku paling mudah, orang sakit.
Tidak perlu banyak bergerak, tidak perlu berteriak, tidak perlu melakukan hal-hal aneh. Wajahku memang pucat dan tubuhku kurus, jadi sepertinya aku tidak perlu bersusah payah untuk meyakinkan penonton.
Setidaknya, itulah yang kupikirkan.
Menjelang pertunjukan, pintu kelas terbuka. Nur masuk bersama dua orang guru, salah satunya wali kelasku.
Dia tersenyum ke arahku.
Kenapa dia datang ke sini—kok bisa—dia kan anak kelas lain—kok bisa bolos sih—tunggu—dia datang bersama guru—berarti dia tidak bolos—lalu kenapa dia ada di sini?
Perutku mulai terasa mulas.
Aku mencoba mengabaikannya, tetapi semakin lama pikiranku semakin tidak karuan. Sejak awal aku memang gugup tampil di depan orang banyak. Sekarang, ditambah kehadiran Nur, rasanya seluruh isi perutku sedang berusaha mencari jalan keluar.
Keringat dingin mulai membasahi dahiku. Wajahku terasa semakin pucat. Guru kami memberikan aba-aba.
Pertunjukan dimulai.
Aku mencoba mengingat dialog dan gerakanku, tetapi pikiranku terus berputar pada satu hal.
Nur.
Dia sedang menontonku.
Lalu aku melihatnya mengangkat ponsel dan merekam pertunjukan.
Sial.
Aku ingin segera menghilang dari panggung.
Delapan menit kemudian, semuanya berakhir. Aku berdiri diam beberapa saat sebelum akhirnya menyadari bahwa kedua kakiku terasa begitu lemas. Aku bahkan kesulitan melangkah kembali ke tempat duduk.
Guru kami memuji penampilanku. Katanya, aktingku paling meyakinkan di antara yang lain. Aku mendapatkan nilai terbaik.
Aku hanya mengangguk.
Seandainya mereka tahu bahwa aku tidak sedang berusaha memerankan orang sakit.
Sebulan telah berlalu sejak Nur pertama kali menyapaku.
Kami masih belum pernah benar-benar mengobrol. Tidak ada percakapan panjang, tidak ada pertukaran nomor telepon, bahkan tidak ada perkenalan resmi. Kami hanya saling menyapa setiap kali bertemu, entah dari kejauhan atau ketika berpapasan di lorong.
Anehnya, itu sudah cukup membuatku bahagia.
Aku tidak pernah membolos lagi. Aku juga mulai lebih sering tersenyum. Ternyata tersenyum tidak sesulit yang kubayangkan.
Beberapa teman sekelas bahkan mulai mengajakku berbicara lebih sering.
Dulu, aku hanya mengenal tiga orang di sekolah yang bisa kusebut teman. Sekarang jumlahnya delapan. Hampir tiga kali lipat.
Aku tidak tahu apakah semua itu berhubungan dengan Nur. Mungkin saja aku hanya mulai terbiasa berada di sekolah. Mungkin juga karena aku tidak lagi menghabiskan waktu sendirian.
Namun, setiap kali mendengar namaku dipanggil olehnya, aku selalu merasa hari itu menjadi sedikit lebih baik.
Rutinitas tersebut berlangsung begitu lama hingga aku mulai membayangkan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Misalnya, berpacaran dengannya.
Kemudian menikah.
Lalu datang ke rumahnya untuk bertemu ibunya, yang kebetulan juga wali kelasku, dan memanggilnya calon mertua.
Aku bahkan pernah membayangkan bagaimana wajah wali kelasku ketika mengetahui bahwa anaknya menikah dengan salah satu muridnya sendiri.
Konyol sekali.
Aku bahkan tidak tahu apakah Nur menyukaiku. Kami belum pernah membicarakan hal-hal di luar sapaan sederhana. Namun, pikiranku sudah berjalan sejauh itu.
Sayangnya, khayalan memang tidak membutuhkan izin untuk tumbuh, tetapi kenyataan tidak selalu membiarkannya bertahan.
Suatu sore, aku melihat Nur pulang dibonceng seorang laki-laki. Awalnya aku mengira mereka hanya teman. Bisa juga saudara. Aku tidak mengenal laki-laki itu, jadi tidak ada alasan untuk langsung mengambil kesimpulan.
Namun, setelah kejadian itu, aku mulai memperhatikan mereka.
Kadang-kadang mereka berjalan bersama. Kadang-kadang aku melihat mereka mengobrol sebelum pulang. Beberapa kali aku juga melihat Nur naik di motor yang sama.
Aku tidak pernah tahu siapa laki-laki itu sebenarnya.
Dan yang membuatku semakin bingung, Nur tidak berubah sedikitpun terhadapku.
Dia masih menyapaku.
Masih memanggil namaku dari kejauhan. Masih tersenyum ketika kami berpapasan.
Seolah-olah tidak ada apa-apa. Malam itu, aku berbaring di tempat tidur sambil memikirkan semuanya.
Untuk apa dia melakukan itu—apa aku hanya mainannya—apa dia merasa kasihan kepadaku karena aku tidak pandai bersosialisasi—atau jangan-jangan ibunya menyuruhnya mendekatiku karena aku muridnya—Aku tidak tahu.
Semakin kupikirkan, semakin banyak kemungkinan yang muncul. Dan semakin banyak kemungkinan yang muncul, semakin sulit bagiku untuk menikmati sapaan yang selama ini selalu kutunggu.
Aku mulai merasa bodoh karena telah membayangkan sesuatu yang bahkan belum pernah benar-benar kumiliki.
Jadi, harus kuapakan awan berona yang terlanjur mengembang di dalam dadaku hingga penuh sesak? Kalau semua ini hanya belas kasih, aku tidak membutuhkannya.
***
Keesokan harinya, aku duduk bersama Bagas di bawah pohon di depan kelas kami.
Ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepadanya.
“Nah, Gas. Kau kan kenal sama Nur.”
“Kenapa?”
“Bisa nggak kau kasih tahu dia sesuatu?”
Bagas menoleh kepadaku.
“Kasih tahu apa?”
Aku terdiam sebentar.
“Untuk tidak—”
Aku tidak tahu mengapa bagian itu terasa begitu sulit diucapkan, padahal sejak semalam aku sudah mengucapkan kalimat itu berkali-kali.
“Untuk tidak menegurku lagi,” lanjutku akhirnya. “Aku merasa terganggu.”
Bagas tidak langsung menjawab.
Aku tidak lagi mendengar apa yang dikatakannya setelah itu. Entah karena pikiranku sudah melayang ke tempat lain atau karena aku memang tidak ingin mendengarnya.
Yang kuingat, aku merasa dia menyetujui permintaanku.
Keesokan harinya, Nur tidak menyapaku.
Aku melihatnya berjalan di seberang lorong, bersama teman-temannya. Dia tidak berteriak memanggil namaku. Tidak melambaikan tangan. Tidak pula tersenyum ke arahku.
Dia hanya berjalan melewatiku seolah-olah aku tidak ada. Dinding sekolahku kembali suram. Catnya tampak abu-abu pucat, terkelupas di beberapa bagian, seperti yang selalu kulihat sebelum mengenalnya. Aku tetap datang ke sekolah setiap pagi. Tetap duduk di kelas, mengikuti pelajaran, dan mengobrol dengan teman-temanku. Tidak ada yang berubah, setidaknya jika dilihat dari luar.
Namun, setiap kali tiba di sekolah, rasanya ada satu jarum yang tertancap di hatiku. Hari berikutnya, jarum itu bertambah.
Lalu bertambah lagi.
Aku menjalani hari-hariku tanpa sapaan Nur. Seharusnya aku senang. Bukankah itu yang kuminta?
Sekarang aku tidak perlu lagi memikirkan apakah dia sedang menyapaku karena kasihan. Tidak perlu lagi bertanya-tanya siapa laki-laki yang memboncengnya. Tidak perlu lagi membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak memiliki jawaban.
Semuanya sudah selesai.
Ini yang terbaik, bukan?
Aku hanya perlu kembali seperti semula. Tidak ada yang berubah. Semuanya akan baik-baik saja.
Namun, setiap kali berjalan menyusuri lorong sekolah, bahkan ketika melewati kelasnya, aku merasakan ketenangan yang aneh.
Tenang, tetapi tidak menenangkan.
Aku mulai kesal pada diriku sendiri.
Kenapa harus aku yang merasa bersalah?
Ini bukan salahku. Seharusnya dia tidak pernah menyapaku sejak awal.
Sekarang dia tidak pernah menyapaku lagi. Tidak tersenyum kepadaku lagi. Bahkan, ketika kami berpapasan, dia tidak lagi menatap mataku. Aku mendapatkan apa yang kuminta. Lalu mengapa rasanya seperti kehilangan sesuatu? Kadang-kadang aku membayangkan bagaimana jika waktu bisa diulangi. Mungkin aku akan melakukan sesuatu yang berbeda. Mungkin aku akan membiarkan sapaan-sapaan itu tetap menjadi bagian dari hari-hariku, tanpa memaksanya menjadi sesuatu yang lebih besar daripada kenyataannya. Atau mungkin aku akan memberanikan diri bertanya langsung kepadanya—Aku tidak tahu—yang kutahu, jika waktu
bisa diulangi, aku ingin memberikan perpisahan yang jauh lebih baik.
Tanpa harus keduanya merasa saling kehilangan. Meski aku tidak yakin dia kehilangan atau tidak. Itu tidak penting lagi bukan? Jadi mengapa kau menangis.
TAMAT
Non Experimental